243. hurts
Hatinya sakit. Itu yang Rain tau. Dirinya sedang tidak baik-baik aja, dan Rain yakin pasti apa penyebabnya.
Rain teringat perkataan Raga waktu lalu, tentang dirinya yang tidak akan baik-baik saja ketika mendapat kenyataan perempuan yang berhasil membuat dia uring-uringan hanya karena tidak memberi kabar satu hari itu berciuman dengan sahabat terdekatnya, Nathan.
Katakan Rain egois, katakan Rain kekanak-kanakan. Tapi Rain benar-benar tidak baik-baik saja. Dia butuh pelampiasan. Dia butuh minum.
Jadi di sini Rain sekarang. Datang kembali ke apartementnya setelah sebelumnya berpamitan pulang dengan Mentari. Perempuan yang sedang terbaring setengah sadar di ranjang king sizenya. Masih lelah karena energinya terkuras habis untuk menangisi mamanya yang terluka lagi oleh papanya di rumah.
Rain mengabaikan Mentari. Tangannya menuangkan wine ke dalam gelas kaca di nakas. Pikirannya kacau, hatinya perih. Rain meneguk kasar minuman yang seharusnya dia jaga kadar alkoholnya.
Setelah habis segelas, Rain menggeram rendah. Tanpa sadar membuat Mentari terbangun dari kasur itu. Masih lengkap dengan dress yang tadi dia pakai di festival. Matanya berusaha fokus, mencerna apa yang sedang dilakukan Rain yang juga masih berpakaian lengkap seperti saat menjadi Mc tadi.
“Rain, what's wrong?”, tanya Mentari lembut. Tangannya berusaha menahan Rain untuk meminum gelas kedua. Cukup Mentari yang teler, jangan Rain.
“No, no, Rain. Not again. What's wrong, Rain? Tell me. I'm here.”
“Kayla ciuman sama Nathan, Ta.”
Mentari terdiam. Tangan yang tadinya menahan gelas Rain perlahan turun. Mentari bisa mendapati sorot perih yang begitu kentara di setiap kata yang keluar dari mulut Rain.
“Itu tandanya Kayla udah nerima Nathan sepenuhnya ya, Ta? Nathan udah berhasil dapetin hati Kayla ya, Ta?”, Rain meminum kembali wine di gelasnya.
“Harusnya gue bahagia. Harusnya gue jadi orang pertama yang paling bersyukur liat dua orang penting di hidup gue bisa bareng. Harusnya gue ngga begini, kan, Ta?”
“But, why it's feel so hurt? Perih banget.”
Mentari sempat sedikit terhentak ketika melihat dengan jelas ada air mata di pipi laki-laki yang dia cintai. Rain menangis.
This man love his best friend so damn seriously.
Tentang patah hati dan rasa cemburu, Mentari tau pasti rasanya. 5 bulan ini Mentari berhasil melawan itu semua. Tapi tidak pernah sekalipun Mentari berpikir Rain akan merasakan rasa itu juga. Apalagi ternyata, sahabatnya, Kayla yang menjadi penyebab Rain sekacau ini.
Mentari mendekat ke ujung kasur tempat Rain terduduk lemah. Hatinya ikut perih melihat Rain sehancur ini. Tangannya terulur untuk menarik Rain ke dalam dekapannya. Mengelus sayang punggung laki-laki itu. Mengusap air mata di pipinya.
Mentari bisa merasakan kalau Rain mulai melemah. Energinya mulai habis karena alkohol yang masuk ke tubuhnya sudah melewati batas.
“I'm here, Rain. It's oke. Nangis aja. Aku bakal bantu kamu bangkit ya setelah ini. Nggak papa, patah hati itu wajar.”
“Sesakit ini ya, Ta, setiap lo liat gue sama Kayla?”
Mentari terdiam. Mengiyakan dengan mantap di dalam hatinya. Iya, sesakit itu. Apalagi when i realize that there is nothing i can do to make you're mine.
Rain mengangkat kepalanya untuk menatap Mentari, “Let's relieve each other's pain. Let's make a love, Ta.”
-hhaolimau_