ayya.

Hatinya sakit. Itu yang Rain tau. Dirinya sedang tidak baik-baik aja, dan Rain yakin pasti apa penyebabnya.

Rain teringat perkataan Raga waktu lalu, tentang dirinya yang tidak akan baik-baik saja ketika mendapat kenyataan perempuan yang berhasil membuat dia uring-uringan hanya karena tidak memberi kabar satu hari itu berciuman dengan sahabat terdekatnya, Nathan.

Katakan Rain egois, katakan Rain kekanak-kanakan. Tapi Rain benar-benar tidak baik-baik saja. Dia butuh pelampiasan. Dia butuh minum.

Jadi di sini Rain sekarang. Datang kembali ke apartementnya setelah sebelumnya berpamitan pulang dengan Mentari. Perempuan yang sedang terbaring setengah sadar di ranjang king sizenya. Masih lelah karena energinya terkuras habis untuk menangisi mamanya yang terluka lagi oleh papanya di rumah.

Rain mengabaikan Mentari. Tangannya menuangkan wine ke dalam gelas kaca di nakas. Pikirannya kacau, hatinya perih. Rain meneguk kasar minuman yang seharusnya dia jaga kadar alkoholnya.

Setelah habis segelas, Rain menggeram rendah. Tanpa sadar membuat Mentari terbangun dari kasur itu. Masih lengkap dengan dress yang tadi dia pakai di festival. Matanya berusaha fokus, mencerna apa yang sedang dilakukan Rain yang juga masih berpakaian lengkap seperti saat menjadi Mc tadi.

“Rain, what's wrong?”, tanya Mentari lembut. Tangannya berusaha menahan Rain untuk meminum gelas kedua. Cukup Mentari yang teler, jangan Rain.

“No, no, Rain. Not again. What's wrong, Rain? Tell me. I'm here.”

“Kayla ciuman sama Nathan, Ta.”

Mentari terdiam. Tangan yang tadinya menahan gelas Rain perlahan turun. Mentari bisa mendapati sorot perih yang begitu kentara di setiap kata yang keluar dari mulut Rain.

“Itu tandanya Kayla udah nerima Nathan sepenuhnya ya, Ta? Nathan udah berhasil dapetin hati Kayla ya, Ta?”, Rain meminum kembali wine di gelasnya.

“Harusnya gue bahagia. Harusnya gue jadi orang pertama yang paling bersyukur liat dua orang penting di hidup gue bisa bareng. Harusnya gue ngga begini, kan, Ta?”

“But, why it's feel so hurt? Perih banget.”

Mentari sempat sedikit terhentak ketika melihat dengan jelas ada air mata di pipi laki-laki yang dia cintai. Rain menangis.

This man love his best friend so damn seriously.

Tentang patah hati dan rasa cemburu, Mentari tau pasti rasanya. 5 bulan ini Mentari berhasil melawan itu semua. Tapi tidak pernah sekalipun Mentari berpikir Rain akan merasakan rasa itu juga. Apalagi ternyata, sahabatnya, Kayla yang menjadi penyebab Rain sekacau ini.

Mentari mendekat ke ujung kasur tempat Rain terduduk lemah. Hatinya ikut perih melihat Rain sehancur ini. Tangannya terulur untuk menarik Rain ke dalam dekapannya. Mengelus sayang punggung laki-laki itu. Mengusap air mata di pipinya.

Mentari bisa merasakan kalau Rain mulai melemah. Energinya mulai habis karena alkohol yang masuk ke tubuhnya sudah melewati batas.

“I'm here, Rain. It's oke. Nangis aja. Aku bakal bantu kamu bangkit ya setelah ini. Nggak papa, patah hati itu wajar.”

“Sesakit ini ya, Ta, setiap lo liat gue sama Kayla?”

Mentari terdiam. Mengiyakan dengan mantap di dalam hatinya. Iya, sesakit itu. Apalagi when i realize that there is nothing i can do to make you're mine.

Rain mengangkat kepalanya untuk menatap Mentari, “Let's relieve each other's pain. Let's make a love, Ta.”

-hhaolimau_

Kayla total bungkam di mobil. Perempuan itu hanya menjawab seadanya setiap pacarnya, Nathan, bertanya berbagai hal untuk memulai obrolan. Tapi usahanya ternyata sia-sia. Kayla masih juga diam dengan pikirannya yang berkecamuk.

“Kay, itu kita udah beli McD loh. Makan dulu. Jangan diem aja.”, Nathan melihat sekilas ke Kayla dengan tangannya yang bergerak menyentuh pelan jari-jemari Kayla.

Kayla tersadar dari lamunannya, “Nanti deh, gue makan di rumah aja ya. Makasih, Nat.”, itu kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kayla selama di mobil.

“Rain nggak ada alasan buat ikut mabok sama Mentari, Kay. Kamu tenang aja, ya.”, Nathan tahu apa yang mengganggu Kayla saat ini. Pacarnya itu sedang khawatir Rain melewati batas. Pacarnya itu sedang cemas Rain tidak bisa mengontrol diri.

Selanjutnya Nathan memilih diam. Memutar playlist kesukaan Kayla dari handphonenya. Memfokuskan pandangannya pada jalanan yang sudah tidak terlalu ramai. Nathan ikut berharap dalam hati, Rain tidak melakukan hal yang Kayla pikirkan.


01.28 am, di depan rumah Kayla.

“Makasih banyak, Nat. Lo baliknya hati-hati ya, jalanan udah sepi, gelap.”

Tapi sebelum Kayla melangkah masuk ke dalam rumah, tangan Nathan dengan cepat memutar tubuh pacarnya untuk dia dekap dalam pelukan. Kayla terkejut.

“It's oke to be worried sometimes, babe. It's oke to showed it to me. Aku tau kamu khawatir.”, Nathan berkata halus dan tenang. Tangannya naik turun di punggung kecil Kayla, gadisnya. Berharap bisa membuat Kayla merasa nyaman dan tenang.

Berhasil. Tidak lama setelah sama-sama terdiam, Nathan bisa mendengar Kayla mulai terisak di dadanya. Tangan gadis itu mengerat di pinggang Nathan. Perih. Nathan tahu rasanya.

Langit malam dan semua serangga di halaman rumah Kayla saat ini mungkin sedang terenyuh. Menyaksikan bagaimana seorang laki-laki mencoba terus menenangkan pasangannya yang sedang mengkhawatirkan laki-laki lain. Nathan tidak peduli. Nathan hanya mau gadisnya tenang dan bahagia. Apapun tidak masalah jika itu Kayla.

“What if, they do the things, Nat? I know we're 22, but my heart still hurts just thinking it might happen. Sorry for being abnormal girlfie. But tbh it's hurts.”, Kayla mengangkat kepalanya, menatap dalam sorot mata tenang di mata pacarnya, Nathan.

Nathan tersenyum, tangannya memegang kedua pundak Kayla lembut. Membenarkan posisi jaketnya untuk menutup kembali pundak Kayla yang terbuka.

“They won't do it. Dengar aku, Kayla. Rain bukan tipe laki-laki yang gampang melarikan diri ke minum-minuman itu. Kayak yang aku bilang tadi, untuk sekarang Rain nggak punya alasan untuk mabok, seriously. Aku tau kamu juga paham gimana Rain. Kalaupun bener apa yang dibilang Amel, just thinking it won't happen. Maksud aku, kamu jangan langsung kecewa atau marah atau gimana-gimana ke Rain maupun Mentari. Kamu bisa tanya pelan-pelan. They won't lie. Aku yakin.”, Nathan mengangkat dagu Kayla. Menatap balik mata gadisnya yang sudah mulai berhenti mengeluarkan air mata. Tangannya menghapus jejak basah di pipi Kayla dengan lembut.

Kayla mengangguk. Mendengarkan semua tutur kata Nathan dan menyimpannya di memori otaknya. Kayla harus percaya Rain maupun Mentari pasti tahu batasan mereka.

Nathan tersenyum lagi. Paham bahwa Kayla sudah mulai tenang. Masih dengan posisi saling memeluk, Nathan bertanya pelan dengan tawa kecil di bibirnya, “Kay, pipinya jadi ada garisnya. Jejak air mata kamu.”

“Jelek yaaaaa, aaaaa malu.”, Kayla merapatkan dirinya lebih dalam ke dada Nathan. Menenggelamkan wajahnya di sana, nyaman. Rasanya tiba-tiba teringat pundak dan dada seorang laki-laki yang biasanya hadir di setiap rasa lelahnya.

Nathan tertawa, tangannya mencubit pelan pipi basah itu, “Kamu nggak pernah jelek. Meskipun pipinya begini, matanya sembab, bibirnya mulai bengkak kebanyakan nangis, Aku suka semua tentang kamu. Kamu selalu cantik, Kay. Selalu.”

“Nathan ih, jangan gituuu dong. Serius gue malu banget.”, pipi gadisnya merona, Nathan suka liatnya. Suka sekali. Suka berkali-kali.

“Kay, kamu tuh love your self banget kan ya orangnya.”

“Hmmm. Kenapa?”

“Berati sama dong kayak aku. Kita cinta orang yang sama.”

Plak. Kayla memukul punggung Nathan untuk melampiaskan rasa malunya. Kakinya menghentak beberapa kali di jalan, sukses membuat Nathan tertawa lepas.

Ternyata begini pacarnya kalau salting. Ya Tuhan, Nathan suka sekali. Tolong biarkan Nathan melihat ini untuk waktu yang lebih lama, ya?

“Gemes. Mau cium.”, Kayla tertawa setelah Nathan mengucapkan itu dengan nada yang sedikit tertahan. Antara gugup dan benar-benar gemas mungkin?

Setelah Kayla mengangguk, bermaksud memberi izin Nathan, laki-laki itu memegang dagu Kayla dan mendaratkan bibirnya di pipi Kayla. Cukup lama. Nathan membiarkan Kayla merasakan seberapa besar rasa sayang yang dia punya untuk dirinya.

Nathan belum memiliki nyali yang besar untuk mencium bibir Kayla. Nathan belum berani melakukan itu jika perasaan Kayla untuknya masih belum mengalahkan posisi Rain. Nathan tidak mau first kiss gadis di dekapannya saat ini bukan untuk laki-laki yang dia cintai.

Kayla berjinjit, memeluk leher Nathan agar laki-laki itu tidak terlalu jauh untuk menunduk mencium pipinya.

Tapi ternyata yang Kayla lakukan membuat posisi mereka saat ini terlihat ambigu. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan bahagia yang sedang berciuman penuh kasih sayang.

Dan dengan kesadaran penuh, Rain yang baru saja memasuki gang rumahnya melihat itu. Tangannya reflek memundurkan mobilnya setelah mencerna apa yang terjadi di depan rumah sahabat tercintanya. Niatnya untuk pulang ke rumah setelah mengantar Mentari yang mabok ke apartementnya, dia batalkan.

Rain dengan cepat memutar balik stirnya. Hatinya sakit, dan dia butuh pelampiasan.

-hhaolimau_

Kayla total bungkam di mobil. Perempuan itu hanya menjawab seadanya setiap pacarnya, Nathan, bertanya berbagai hal untuk memulai obrolan. Tapi usahanya ternyata sia-sia. Kayla masih juga diam dengan pikirannya yang berkecamuk.

“Kay, itu kita udah beli McD loh. Makan dulu. Jangan diem aja.”, Nathan melihat sekilas ke Kayla dengan tangannya yang bergerak menyentuh pelan jari-jemari Kayla.

Kayla tersadar dari lamunannya, “Nanti deh, gue makan di rumah aja ya. Makasih, Nat.”, itu kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kayla selama di mobil.

“Rain nggak ada alasan buat ikut mabok sama Mentari, Kay. Kamu tenang aja, ya.”, Nathan tahu apa yang mengganggu Kayla saat ini. Pacarnya itu sedang khawatir Rain melewati batas. Pacarnya itu sedang cemas Rain tidak bisa mengontrol diri.

Selanjutnya Nathan memilih diam. Memutar playlist kesukaan Kayla dari handphonenya. Memfokuskan pandangannya pada jalanan yang sudah tidak terlalu ramai. Nathan ikut berharap dalam hati, Rain tidak melakukan hal yang Kayla pikirkan.


01.28 am, di depan rumah Kayla.

“Makasih banyak, Nat. Lo baliknya hati-hati ya, jalanan udah sepi, gelap.”

Tapi sebelum Kayla melangkah masuk ke dalam rumah, tangan Nathan dengan cepat memutar tubuh pacarnya untuk dia dekap dalam pelukan. Kayla terkejut.

“It's oke to be worried sometimes, babe. It's oke to showed it to me. Aku tau kamu khawatir.”, Nathan berkata halus dan tenang. Tangannya naik turun di punggung kecil Kayla, gadisnya. Berharap bisa membuat Kayla merasa nyaman dan tenang.

Berhasil. Tidak lama setelah sama-sama terdiam, Nathan bisa mendengar Kayla mulai terisak di dadanya. Tangan gadis itu mengerat di pinggang Nathan. Perih. Nathan tahu rasanya.

Langit malam dan semua serangga di halaman rumah Kayla saat ini mungkin sedang terenyuh. Menyaksikan bagaimana seorang laki-laki mencoba terus menenangkan pasangannya yang sedang mengkhawatirkan laki-laki lain. Nathan tidak peduli. Nathan hanya mau gadisnya tenang dan bahagia. Apapun tidak masalah jika itu Kayla.

“What if, they do the things, Nat? I know we're 22, but my heart still hurts just thinking it might happen. Sorry for being abnormal girlfie. But tbh it's hurts.”, Kayla mengangkat kepalanya, menatap dalam sorot mata tenang di mata pacarnya, Nathan.

Nathan tersenyum, tangannya memegang kedua pundak Kayla lembut. Membenarkan posisi jaketnya untuk menutup kembali pundak Kayla yang terbuka.

“They won't do it. Dengar aku, Kayla. Rain bukan tipe laki-laki yang gampang melarikan diri ke minum-minuman itu. Kayak yang aku bilang tadi, untuk sekarang Rain nggak punya alasan untuk mabok, seriously. Aku tau kamu juga paham gimana Rain. Kalaupun bener apa yang dibilang Amel, just thinking it won't happen. Maksud aku, kamu jangan langsung kecewa atau marah atau gimana-gimana ke Rain maupun Mentari. Kamu bisa tanya pelan-pelan. They won't lie. Aku yakin.”, Nathan mengangkat dagu Kayla. Menatap balik mata gadisnya yang sudah mulai berhenti mengeluarkan air mata. Tangannya menghapus jejak basah di pipi Kayla dengan lembut.

Kayla mengangguk. Mendengarkan semua tutur kata Nathan dan menyimpannya di memori otaknya. Kayla harus percaya Rain maupun Mentari pasti tahu batasan mereka.

Nathan tersenyum lagi. Paham bahwa Kayla sudah mulai tenang. Masih dengan posisi saling memeluk, Nathan bertanya pelan dengan tawa kecil di bibirnya, “Kay, pipinya jadi ada garisnya. Jejak air mata kamu.”

“Gemes. Mau cium.”, Kayla tertawa setelah Nathan mengucapkan itu dengan nada yang sedikit tertahan. Antara gugup dan benar-benar gemas mungkin?

Setelah Kayla mengangguk, bermaksud memberi izin Nathan, laki-laki itu memegang dagu Kayla dan mendaratkan bibirnya di pipi Kayla. Cukup lama. Nathan membiarkan Kayla merasakan seberapa besar rasa sayang yang dia punya untuk dirinya.

Kayla berjinjit, memeluk leher Nathan agar laki-laki itu tidak terlalu jauh untuk menunduk mencium pipinya.

Tapi ternyata yang Kayla lakukan membuat posisi mereka saat ini terlihat ambigu. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan bahagia yang sedang berciuman penuh kasih sayang.

Dan dengan kesadaran penuh, Rain melihat itu. Tangannya reflek memundurkan mobilnya setelah mencerna apa yang terjadi di depan rumah sahabat tercintanya. Niatnya untuk pulang ke rumah setelah mengantar Mentari yang mabok ke apartementnya, dia batalkan.

Rain dengan cepat memutar balik stirnya. Hatinya sakit, dan dia butuh pelampiasan.

-hhaolimau_

Kayla total bungkam di mobil. Perempuan itu hanya menjawab seadanya setiap pacarnya, Nathan, bertanya berbagai hal untuk memulai obrolan. Tapi usahanya ternyata sia-sia. Kayla masih juga diam dengan pikirannya yang berkecamuk.

“Kay, itu kita udah beli McD loh. Makan dulu. Jangan diem aja.”, Nathan melihat sekilas ke Kayla dengan tangannya yang bergerak menyentuh pelan jari-jemari Kayla.

Kayla tersadar dari lamunannya, “Nanti deh, gue makan di rumah aja ya. Makasih, Nat.”, itu kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kayla selama di mobil.

“Rain nggak ada alasan buat ikut mabok sama Mentari, Kay. Kamu tenang aja, ya.”, Nathan tahu apa yang mengganggu Kayla saat ini. Pacarnya itu sedang khawatir Rain melewati batas. Pacarnya itu sedang cemas Rain tidak bisa mengontrol diri.

Selanjutnya Nathan memilih diam. Memutar playlist kesukaan Kayla dari handphonenya. Memfokuskan pandangannya pada jalanan yang sudah tidak terlalu ramai. Berharap dalam hati, Rain tidak melakukan hal yang Kayla takutkan.


01.28 am, di depan rumah Kayla

“Makasih banyak, Nat. Lo baliknya hati-hati ya, jalanan udah sepi, gelap.”

Tapi sebelum Kayla melangkah masuk ke dalam rumah, tangan Nathan dengan cepat memutar tubuh pacarnya untuk dia dekap dalam pelukan. Kayla terkejut.

“It's oke to be worried sometimes, babe. It's oke to showed it to me. Aku tau kamu khawatir.”, Nathan berkata halus dan tenang. Tangannya naik turun di punggung kecil Kayla, gadisnya. Berharap bisa membuat Kayla merasa nyaman dan tenang.

Berhasil. Tidak lama setelah sama-sama terdiam, Nathan bisa mendengar Kayla mulai terisak di dadanya. Tangan gadis itu mengerat di pinggang Nathan. Perih. Nathan tahu rasanya.

Langit malam dan semua serangga di halaman rumah Kayla saat ini mungkin sedang terenyuh. Menyaksikan bagaimana seorang laki-laki mencoba terus menenangkan pasangannya yang sedang mengkhawatirkan laki-laki lain. Nathan tidak peduli. Nathan hanya mau gadisnya tenang dan bahagia. Apapun tidak masalah jika itu Kayla.

“What if, they do the things, Nat? I know we're 22, but my heart still hurts just thinking it might happen. Sorry for being abnormal.”, Kayla mengangkat kepalanya, menatap dalam sorot mata tenang di mata pacarnya, Nathan.

Nathan tersenyum, tangannya memegang kedua pundak Kayla lembut. Membenarkan posisi jaketnya untuk menutup kembali pundak Kayla yang terbuka.

“They won't do it. Dengar aku, Kayla. Rain bukan tipe laki-laki yang gampang melarikan diri ke minum-minuman itu. Kayak yang aku bilang tadi, untuk sekarang Rain nggak punya alasan untuk mabok, seriously. Aku tau kamu juga paham gimana Rain. Kalaupun bener apa yang dibilang Amel, just thinking it won't happen. Maksud aku, kamu jangan langsung kecewa atau marah atau gimana-gimana ke Rain maupun Mentari. Kamu bisa tanya pelan-pelan. They won't lie. Aku yakin.”, Nathan mengangkat dagu Kayla. Menatap balik mata gadisnya yang sudah mulai berhenti mengeluarkan air mata. Tangannya menghapus jejak basah di pipi Kayla dengan lembut.

Kayla mengangguk. Mendengarkan semua tutur kata Nathan dan menyimpannya di memori otaknya. Kayla harus percaya Rain maupun Mentari pasti tau batasan mereka.

Nathan tersenyum lagi. Paham bahwa Kayla sudah mulai tenang. Masih dengan posisi saling memeluk, Nathan bertanya pelan, “Kay, pipinya jadi ada garisnya. Jejak air mata kamu.”

“Gemes. Mau cium.”, Kayla tertawa setelah Nathan mengucapkan itu dengan nada yang sedikit tertahan. Antara gugup dan benar-benar gemas mungkin?

Setelah Kayla mengangguk, bermaksud memberi izin Nathan, laki-laki itu memegang dagu Kayla dan mendaratkan bibirnya di pipi Kayla. Cukup lama. Nathan membiarkan Kayla merasakan seberapa besar rasa sayang yang dia punya untuk dirinya.

Kayla berjinjit, memeluk leher Nathan agar laki-laki itu tidak terlalu jauh untuk menunduk mencium pipinya.

Tapi ternyata yang Kayla lakukan membuat posisi mereka saat ini terlihat ambigu. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan bahagia yang sedang berciuman penuh kasih sayang.

Dan dengan kesadaran penuh, Rain melihat itu. Tangannya reflek memundurkan mobilnya setelah mencerna apa yang terjadi di depan rumah sahabat tercintanya. Niatnya untuk pulang ke rumah setelah mengantar Mentari yang mabok ke apartementnya, dia batalkan.

Rain dengan cepat memutar balik stirnya. Hatinya sakit, dan dia butuh pelampiasan.

-hhaolimau_

“Eh raaa-” “Bentar dong. Gue belum duduk”, cetus Ara, mengambil tempat duduk sedikit berjarak dari samping Jaehyun.

“Lo gak takut diganggu sendirian di sini? “, Jaehyun membenarkan letak hoodienya untuk menutupi seluruh kepalanya. “Engga. Lo doang yg gangguin gue”, Kanyara memperhatikan cowo di depannya, masih berusaha menyembunyikan kepalanya walau sebenernya sudah tertutup rapat. Kayak ada yg ga beres.

“Nggak niat dan nggak minat. Gue emang mau main ke sini, taunya ada lo.”, Jaehyun membenarkan posisi duduknya, kakinya diluruskan ke atas skateboard, lalu tangannya melipat di dada. “Lo ngintilin gue ya? Lo pasti liat postingan Twitter gue kan? Ngaku lo”, Jaehyun menoleh kepada perempuan di sampingnya.

“Dih pede bangeeett. Fyi, gue aja belum follback acc lo.” ketawa renyah keluar begitu saja dari Kanyara.

Jaehyun mengerutkan keningnya, “Kan lo bilang mau fb, gimana sih?”

“Ya baru mau, belum ada act”

“Cih”, Jaehyun berdecih malas, tapi tangannya terulur mengacak puncak kepala Kanyara gemas.

Hah lo ngapain?

“Kay, ikut. Gue mau tidur bareng.”, Rain menahan pintu kamar Kayla sebelum tertutup rapat. Laki-laki yang sudah berpiyama itu menyelak masuk lalu duduk dengan manis di ranjang Kayla.

Kayla menggeleng kecil lalu berjalan melewati Rain untuk meletakkan cangkir kopinya di nakas pendek.

“Lagi kenapa? Lo ada masalah? Tumben nggak ngajak ribut gue.”, Kayla bergerak menarik selimut lalu merebahkan dirinya di kasur queen sizenya. Memainkan handphonenya lalu memutar playlist spotify untuk lullaby malam ini.

“Hmm, ada masalah. Tapi gue nggak mau cerita.”, Rain menautkan bibirnya. Bergelak mengikuti Kayla untuk masuk ke dalam selimut.

Bingung dan deg-degan. Itu yang Kayla rasakan saat Rain mengambil lengan tangan kirinya untuk dijadikannya bantal. Mata laki-laki itu sudah memejam. Tidak mengatakan apapun. Handphonenya diletakkan di nakas. Kayla tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya. Rain terlalu teka-teki kalau sudah berkaitan tentang perasaan atau moodnya. Kayla jarang tepat sasaran.

Daripada merasa canggung, Kayla berniat mengajak Rain mengobrol dengan mengubah posisi badannya menghadap Rain. Tapi Rain tiba-tiba menahan dan memutar badan Kayla untuk menghadap dinding. Kayla ingin mengeluarkan protes tapi Rain lebih dulu bersuara, “Madep tembok aja. Gue mau ngobrol sama lo tanpa liat muka lo.”

“Apa sih anjirt? Gue ada salah sama lo? Kenapa sih nggak biasanya banget lo gini.”, Kayla 100% berdegup kencang. Apalagi ketika dia tau Rain meletakkan dagunya di pertengahan lehernya.

“Kay, malem ini jangan protes ya. Gue mau peluk banget.”, dengan berakhirnya kalimat itu tangan kiri Rain berpindah posisi di pinggang Kayla. Memeluk sayang gadis itu dari belakang. Matanya terpejam. Menikmati waktunya bersama Kayla yang tidak akan terulang lagi.

“Cerita. Jangan diem aja. Atau gue tendang ya lo.”, Kayla harus tau kenapa Rain tiba-tiba begini.

Rain masih tetap dengan posisinya dan mata yang terpejam, “Tadi Nathan bilang ke gue, besok dia sama lo mau naik status jadi pacar.”

Deg. Kayla reflek menahan napasnya.

“Berati besok udah nggak bisa gini lagi kan sama lo. Besok gue nggak bisa lagi meluk-meluk lo kayak biasa.”, suaranya tetap damai. Kayla suka.

“Ada Mentari. Bisa lo peluk kapanpun. Jangan kayak anak kecil, Rein.”, hatinya tiba-tiba merasa sedikit sesak. Kayla menahan nafas terlalu lama dan dia baru sadar itu ketika Rain menghela nafasnya di atas pundaknya.

“But her smell is not yours.”

Diam. Kayla kacau. Pikirannya bercabang kemana-mana. Tentang maksud Rain malam ini, tentang hatinya, tentang Nathan yang pasti sedang menanti hari esok untuk bertemu dengannya.

“Kalaupun gue jadi sama Nathan, gue tetep sahabat lo, Rein. We're never changed, ya kan?”

“Iya, never. Tapi skinship kita nggak boleh sampe kayak gini. Lo punya Nathan, yang hatinya harus lo jaga. Nathan sahabat gue juga, Kay. Gue mau liat dia bahagia sama lo, his crush sejak ospek kampus.”

Kayla terdiam lagi. She can't imagine although she must. Apa status sahabat selama 19 tahun akan berakhir kalau salah satu dari mereka punya pasangan? Sebenarnya jawabannya tidak, kalau dalam hubungan sahabat itu tidak ada yang menaruh rasa lebih. But for the godness shit Kayla does, and also Rain.

“You can stay, Rein. Nathan juga paham posisi lo yang lebih lama isi hidup gue. Nathan nggak pernah masalah tentang gimana deketnya gue sama lo.”

“Iya, i bet Nathan can. But what if I can't?”

“Lo bisa baik-baik aja tiap Mentari deket sama gue. Every time she calls me, you never forbid me to go. Tapi lo tau nggak lucunya apa? Gue nggak baik-baik aja tiap tau lo ngabisin waktu berdua doang sama Nathan.”, tangannya di pinggang Kayla mengerat. Emosinya terkumpul di tangannya yang dia kepal.

Kayla terkejut, semakin terkejut ketika air matanya turun mengenai hidungnya yang mancung. Ah sialan, lagian lagunya kenapa harus ini sih?

“Kalau sama sahabat harusnya nggak boleh gitu kan, Kay? Makanya gue kesel sama diri gue sendiri. Gue sengaja ngabisin waktu lebih lama di apart bahkan when Mentari didn't calls me. Gue nggak mau liat lo yang lagi sama Nathan.”, suara Rain melemah. Terdiam cukup lama. Masih dengan lagu yang sama dari playlist Kayla.

“Tapi chat Nathan tadi nyadarin gue kalau dia perfect buat lo, Kay. He loves you that much. Sejak kenal Nathan, dia cuma suka sama lo. Sementara gue sendiri nggak tau rasa apa yang gue punya buat lo, Kay.”

“Maaf ya, Kay. Gue masih perlu waktu buat paham sama perasaan gue sendiri. Lo harus lebih bahagia sama Nathan ya.”

Ya Tuhan, Kayla kesal. Kayla kesal dengan laki-laki yang sedang memeluknya. Kayla ingin teriak sekencang-kencangnya untuk memberitahu bahwa dirinya tidak pernah baik-baik saja setiap Rain meninggalkannya untuk datang ke Mentari. Kayla ingin memberitahu Rain kalau Rain nggak merasakan itu sendiri. Kayla ingin memberitahu Rain kalau setiap menghabiskan waktu dengan Nathan, bayangan Kayla tentang Rain sedang apa dengan Mentari tidak pernah hilang.

Kayla ingin mengeluarkan semuanya saat ini. Tapi senyum Nathan dan pesan dari Helen Ryu mematahkan keinginannya.

Rain sendiri masih belum sadar dengan hatinya. Jadi untuk apa Kayla menyia-nyiakan Nathan? Nathan pasti untuknya. Nathan tidak membuat Kayla menunggu. Nathan tidak membuat Kayla bertanya-tanya sendirian.

“So where do we go now from here, Kay? Would it be different if you were more near? Jujur, gue bingung.”

Kayla menghapus air matanya. Membenarkan posisi tidurnya lalu berkata tegas, “I'll go to Nathan and you'll go to Mentari. It's fine. Totally fine. And yeah, we're still best friend, Rein.”

“Then I could do is wish you well, Kay.”, Rain merapatkan badannya, memeluk gadis cantik yang selama 19 tahun mengisi hidupnya sebagai sahabat.

Rain rasa dia harus menyelesaikan perasaannya yang bahkan belum dimulai. Her choose Nathan, and it's a final.

Besok Rain akan membiarkan Kayla membuka pintu untuk laki-laki lain. Rain tidak akan menyuruh Kayla menunggunya. Dan saat ini pula, ada seorang perempuan yang membutuhkan kehadirannya lebih dari Kayla membutuhkannya.

-hhaolimau_

“Loh lo berdua udahan mainnya?”

“Udahan ah, gue ngantuk. Udah tengah malem ini, Kak.”, Kaje membereskan peralatan play station di kamarnya setelah selesai bermain bersama Rain.

“Reinnya mana?”, tanya Kayla yang mulai membaringkan badan di kasur Kaje. Mencoba merenggangkan otot-otot badannya yang hari ini terasa lebih tegang dan lelah.

“Ke kamar mandi. Tadi katanya mau Netflix-an sama lo di ruang tengah.”

Kayla otomatis terduduk, bertanya heran, “Gue nggak ngajak?”.

Sementara Kaje hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya, “Nggak tau dah. Jangan kepagian nontonnya lo.”

“Iya.”, Kayla berdiri keluar kamar Kaje dan duduk di sofa ruang tengah, menyalakan Tv.

“Baru mau gue panggil, udah di sini ternyata.”, suara Rain. Laki-laki itu mengacak asal rambutnya lalu duduk nyaman di sebelah Kayla. Tangannya mengambil alih Tv dan langsung membuka aplikasi Netflix.

“Gue mau nonton The Medium.”

Kayla sontak melotot, berusaha mengambil remote Tv di tangan Rain. “Kalo lo mau nonton itu gue cabut. Lo nonton aja di sini sendiri. Gue ke kamar.”, bukan ngambek sih. Tapi Kayla memang bukan tipe yang suka atau kuat nonton film horor. Kalaupun harus terpaksa nonton, Kayla bakal fokus sama handphonenya atau menutup rapat mata dan telinganya. Hehe, takut.

Dan kali ini Kayla harus melakukan opsi pertama karena Rain hanya tertawa dan tetap memilih film itu untuk ditonton saat ini. Lampu sudah dimatikan dan Kaje mungkin sudah tidur. Hanya Kayla, Rain, dan the medium di ruang tengah yang gelap, perfectly.

Filmnya baru saja dimulai dan Kayla baru membuka aplikasi imessnya, berniat menganggu siapapun yang masih online tengah malam begini. Tapi tangan Rain secara tiba-tiba merebut handphone Kayla, menyembunyikannya. Kayla mau teriak kesal, tapi urung. Takut dikira kenapa-napa sama tetangga.

“Please deh, Kay. Akhir-akhir ini lo sibuk banget sama schedule lo. Sekalinya nggak sibuk, lo hangout sama Nathan. Gue sengaja ninggalin Mentari karena gue mau di sini sama lo. So, focus on me, can you?”

Tepat. Rain mengatakan itu tepat di mata Kayla. Tanpa sempat Kayla mencerna omongannya, Kayla tau jantungnya sudah berdegup lebih kencang. Lalu dengan tergesa dia melepaskan rangkulan Rain di pundaknya. Mencari posisi yang lebih berjarak dari Rain.

Tapi memang pada dasarnya Rain jail, wajahnya malah bergerak mendekat di depan wajah Kayla yang terus mundur untuk menghindar. Sampai punggung Kayla tersudut di lengan sofa dengan posisi Kayla yang sudah setengah berbaring dengan Rain di atasnya.

“Kay, kok lo deg-degan? Coba diem deh. Itu suara jantung lo, kan?”, tanya Rain. Entah sengaja memancing atau memang berlagak polos.

'Anjir ya lo pikir aja, di tempat gelap, berdua, lo begini, terus lo ganteng bgt lagi dengan rambut yang agak basah gitu, yakali gue gak deg-degan????'

“Coba lo juga diem. Tuh suara jantung lo juga sama kerasnya, kedengeran.”, Kayla menjawab dengan nafas yang masih tertahan. Menatap ukiran indah di setiap inci wajah laki-laki di atasnya.

Salah satu tangan Rain yang tadinya menyanggah badannya bergerak memegang dadanya sendiri. Mencari tau kebenaran dari pernyataan Kayla, dan benar. Jantungnya juga ikut menyumbangkan suara.

Belum sempat Rain mengatakan suatu hal, Tv yang sedang memutarkan film Netflix itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras yang mengejutkan.

“Argh anjir itu apaan!!???”, Kayla si penakut setan bergerak reflek dan cepat menarik leher Rain untuk dia peluk.

Rain total jatoh di atas badan Kayla. Tangan kirinya tidak dalam posisi sigap ketika Kayla menarik lehernya cepat. Sadar akan situasi dan posisi saat ini, mereka terdiam. Saling mencerna, saling merasakan satu sama lain. Sampai akhirnya Rain bersuara tepat di telinga kiri Kayla, “Kay ini aneh karena emang tumben. Tapi serius lo deg-degan banget. Kerasa sampe gue...”

Kayla masih diam. Menutup matanya karena masih terkejut tadi. Otaknya seketika melambat untuk mencerna posisi ambigu mereka saat ini. Tapi Kayla maupun Rain, tidak ada yang memiliki niatan untuk menjauh.

“Kay please. Gue sebenernya nggak masalah lo giniin, tapi jantung gue sakit. Gue juga deg-degan parah. Bisa dilepas dulu nggak ini peluknya?”, Kayla paham suara Rain merendah. Dengan gugup dia melepaskan tangannya di leher Rain, sampai sebuah suara menginterupsi keduanya untuk segera menjauh.

“Sumpah ya, lain kali kalau emang mau nonton Netflixnya sambil cuddle, bisa nggak sih di kamar aja. Niat gue cuma mau ke dapur ambil minum tapi mata gue malah keganggu liat lo berdua.”

Kaje kembali masuk ke kamarnya meninggalkan sepasang sahabat yang saling tatap dengan canggung.

'Nathan anjing.' 'Aduh mampus malu banget gue.'

-hhaolimau_

“Loh lo berdua udahan mainnya?”

“Udahan ah, gue ngantuk. Udah tengah malem ini, Kak.”, Kaje membereskan peralatan play station di kamarnya setelah selesai bermain bersama Rain.

“Reinnya mana?”, Kayla membaringkan badan di kasur Kaje. Mencoba merenggangkan otot-otot badannya yang hari ini terasa lebih tegang dan lelah.

“Ke kamar mandi. Tadi katanya mau Netflix-an sama lo di ruang tengah.”

Kayla otomatis terduduk, bertanya heran, “Gue nggak ngajak?”.

Sementara Kaje hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya, “Nggak tau dah. Jangan kepagian nontonnya lo.”

“Iya.”, Kayla berdiri keluar kamar Kaje dan duduk di sofa ruang tengah, menyalakan Tv.

“Baru mau gue panggil, udah di sini ternyata.”, suara Rain. Laki-laki itu mengacak asal rambutnya lalu duduk nyaman di sebelah Kayla. Tangannya mengambil alih Tv dan langsung membuka aplikasi Netflix.

“Gue mau nonton The Medium.”

Kayla sontak melotot, berusaha mengambil remote Tv di tangan Rain. “Kalo lo mau nonton itu gue cabut. Lo nonton aja di sini sendiri. Gue ke kamar.”, bukan ngambek sih. Tapi Kayla memang bukan tipe yang suka atau kuat nonton film horor. Kalaupun harus terpaksa nonton, Kayla bakal fokus sama handphonenya atau menutup rapat mata dan telinganya. Hehe, takut.

Dan kali ini Kayla harus melakukan opsi pertama karena Rain hanya tertawa dan tetap memilih film itu untuk ditonton saat ini. Lampu sudah dimatikan dan Kaje mungkin sudah tidur. Hanya Kayla, Rain, dan the medium di ruang tengah yang gelap, perfectly.

Filmnya baru saja dimulai dan Kayla baru membuka aplikasi imessnya, berniat menganggu siapapun yang masih online tengah malam begini. Tapi tangan Rain secara tiba-tiba merebut handphone Kayla, menyembunyikannya. Kayla mau teriak kesal, tapi urung. Takut dikira kenapa-napa sama tetangga.

“Please deh, Kay. Akhir-akhir ini lo sibuk banget sama schedule lo. Sekalinya nggak sibuk, lo hangout sama Nathan. Gue sengaja ninggalin Mentari karena gue mau di sini sama lo. So, focus on me, can you?”

Tepat. Rain mengatakan itu tepat di mata Kayla. Tanpa sempat Kayla mencerna omongannya, Kayla tau jantungnya sudah berdegup lebih kencang. Lalu dengan tergesa dia melepaskan rangkulan Rain di pundaknya. Mencari posisi yang berjarak dari Rain.

Tapi memang pada dasarnya Rain jail, wajahnya bergerak mendekat di depan wajah Kayla yang terus mundur untuk menghindar. Sampai punggung Kayla tersudut di lengan sofa dengan posisi Kayla yang sudah setengah berbaring dengan Rain di atasnya.

“Kay, kok lo deg-degan? Coba diem deh. Itu suara jantung lo, kan?”, tanya Rain. Entah sengaja memancing atau memang berlagak polos.

anjir ya lo pikir aja, di tempat gelap, berdua, lo begini, terus lo ganteng bgt lagi, yakali gue gak deg-degan?????

“Coba lo juga diem. Tuh suara jantung lo juga sama kerasnya.”, Kayla menjawab dengan nafas yang masih tertahan. Menatap ukiran indah di setiap inci wajah laki-laki di atasnya.

Salah satu tangan Rain yang tadinya menyanggah badannya bergerak memegang dadanya sendiri. Mencari tau kebenaran dari pernyataan Kayla, dan benar. Jantungnya juga menyumbang suara.

Belum sempat Rain mengatakan suatu hal, Tv yang sedang memutarkan film Netflix itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras yang mengangetkan.

“Argh anjir itu apaan!!?????”, Kayla si penakut setan bergerak reflek dan cepat menarik leher Rain untuk dia peluk.

Total. Rain total jatoh di atas badan Kayla. Tangan kirinya tidak dalam posisi sigap ketika Kayla menarik lehernya cepat. Sadar akan situasi dan posisi saat ini, mereka terdiam. Saling mencerna, saling merasakan satu sama lain. Sampai akhirnya Rain bersuara tepat di telinga kiri Kayla, “Kay ini aneh karena emang tumben. Tapi lo deg-degan banget. Kerasa sampe gue...”

Kayla masih diam. Menutup matanya karena masih terkejut tadi. Otaknya seketika melambat untuk mencerna posisi ambigu mereka saat ini. Tapi Kayla maupun Rain, tidak ada yang memiliki niatan untuk menjauh.

“Kay please. Jantung gue sakit. Gue deg-degan parah. Bisa dilepas dulu nggak ini peluknya?”, Kayla paham suara Rain merendah. Dengan gugup dia melepaskan tangannya di leher Rain, sampai sebuah suara menginterupsi keduanya untuk segera menjauh.

“Sumpah ya, lain kali kalau emang mau nonton Netflixnya sambil cuddle, bisa nggak sih di kamar aja. Niat gue cuma mau ke dapur ambil minum tapi mata gue malah keganggu liat lo berdua.”

Nathan anjing. aduh mampus malu banget gue.

“Rein, ke Mars sekarang. Ryu ketemu Mentari nangis parah, mabok.”

Dua kalimat yang muncul sebagai notifikasi dilayar kunci handphone itu membuat Rain bergerak terburu meninggalkan teman-temannya. Rain, Raga, Nathan dan Ale memang selalu memiliki waktu berkumpul diantara sibuknya kegiatan mereka masing-masing di luar.

Seperti saat ini, jarum jam menunjuk angka 11.30 malam, tapi di dalam kamar luas Ale mereka masih asik bergurau satu sama lain, bermain play station dan memesan banyak makanan. Lalu kebisingan dari ke-empat nya serentak terhenti ketika Rain dengan tiba-tiba bergegas mengambil kunci mobilnya di meja dan pergi keluar.

“Lanjut aja mainnya. Ntar gue ke sini lagi.”

“Kenapa woi? Ada apa? Urgent banget kayanya?”

“Mentari.”, setelahnya Rain menutup pintu dan, sunyi.


01.45 am. Apartment's Rain.

“Ta, udah enakkan?”, itu suara Kayla. Kayla dan Rain membawa Mentari untuk kedua kalinya ke apartement Rain.

Kayla menahan sedikit ringisannya. Setelah tidak sengaja melihat tubuh Mentari yang sempat tersingkap karena gerakan wanita itu yang mengikat rambutnya asal. Ada memar di bagian punggung atas Mentari, lengan atas, dan juga yang terlihat jelas, di atas alis sebelah kanannya. Kayla tidak bodoh, dia tahu itu memar yang disebabkan pukulan keras, bukan jatuh.

Dalam hidupnya, Kayla tidak pernah berhadapan dengan kekerasan fisik sekalipun. Kayla tidak menyangka kalau di depannya saat ini, teman cantik yang baru dia kenal akhir-akhir ini, memiliki banyak memar ungu di tubuhnya, mendapatkan itu semua dari kekerasan fisik yang Kayla belum tahu jelas siapa yang pelakunya.

“Udah, Kay. Thanks a lot ya. Maaf ngerepotin kamu sama Rain lagi..”, Mentari melepas kembali ikatan di rambutnya ketika sadar Kayla menatapnya dengan pandangan perihatin. Berusaha menutupi beberapa memar di tubuhnya yang masih terlihat.

“Udah nggak pusing? Perutnya gimana? Tadi kamu minum lumayan banyak loh, ta.”, Kayla menatap khawatir, mengajak tangan Mentari untuk duduk di kasur kamar Rain, agar perempuan itu dapat beristirahat.

“Udah mendingan banget kok. Udah minum pereda mabok yang tadi kamu buat. Terus juga udah sempet tidur, kan, heheh.”, Mentari menarik balik tangan Kayla agar wanita itu ikut duduk dengannya di kasur. “Nggakpapa Kay, aku nggakpapa kok, hahahaa kamu jangan natep aku kayak gitu dong. Lukanya nggak sakit kok.”, Mentari mengatakan itu dengan tawanya tapi yang Kayla rasakan dari tawa itu, perih, kesakitan.

Kayla menggenggam erat kedua telapak tangan perempuan di depannya, “Ta, kamu tau nggak? Kalau kamu nggak selamanya harus berlindung di balik kata 'nggakpapa'. Aku nggak minta kamu cerita ini ada apa atau kamu kenapa, tapi seenggaknya ta, it's okay loh, buat ngeluh. Kan kamu, manusia. Sama kayak aku, kayak Rain.

Mentari terenyuh. Mendapat perhantian sebegitu tulusnya dari perempuan yang belum lama ia kenal. Dia terharu sepenuhnya. “Bukan aku enggak mau cerita, Kay. Tapi aku tau, dengan aku cerita atau enggak, nasibku nggak akan berubah. Ya, kan?”

“Iya. Aku ataupun Rain mungkin enggak akan bisa ubah nasib kamu. Kamu orang hebat. Di umur segini kamu udah terjun di dunia bisnis yang nggak main-main. Tapi aku mau kamu sadar, ta, rasa sakit kalau kamu pendem sendiri di sini, rasanya bakal lebih sakit dan nusuk kamu berkali-kali lipat.”, tangan Kayla berpindah ke atas dada Mentari. Matanya menatap teduh mata Mentari.

Mentari paham dan percaya, Kayla berusaha membantunya untuk tidak sakit sendirian. Lalu tanpa izin lagi, air mata Mentari meluncur bebas. Tangisannya pecah dalam rengkuhan Kayla. Pundak Kayla adalah pundak kedua setelah Qila yang menjadi tempatnya menangis. Mentari tidak pernah cerita dengan detail apa yang dilakukan papanya atau mamanya kepada Qila. Qila hanya selalu ada di sana, setiap Mentari butuh ditenangkan. Setiap dirinya tidak bisa pergi meluapkan semuanya di bar.

Tapi pagi buta ini, entah dorongan dari mana, entah rasa percaya dari mana, Mentari menceritakan hidupnya yang pahit, secara detail, kepada Kayla. Tentang dia yang mengemis perhatian mamanya, tentang dia yang harus berkerja habis-habisan di umurnya yang baru 22 tahun, tentang dia yang tidak tahu bagaimana indahnya dunia dengan warna pelangi, tentang hidupnya yang abu-abu dengan papa kasarnya yang hadir membuat banyak coretan hitam di hampir setiap lembaran hidupnya.

“Ta, hari ini mungkin bumi lagi jahat sama kamu. Kemarin-kemarin mungkin bumi lagi ngga berpihak sama kamu. Tapi, ta, kita harus tetep yakin... Kalau semua manusia di bumi ini udah diberikan kadar bahagia dan sedihnya di waktu yang tepat. Hari ini kamu kecewa, marah, sakit, tapi bisa jadi besok lebih baik, kan? Bisa jadi dua minggu dari sekarang banyak perusahaan besar yang tertarik kerjasama sama kamu. Semangat selalu ya, ta. Mulai sekarang kamu ngga akan sendirian lagi. Aku, Rain dan temen-temen yang lain bakal nemenin kamu.”

Mentari menangis sejadi-jadinya. Begitu juga dengan Kayla. Perempuan yang terbiasa menjadi pendengar itu tidak bisa menahan tangisannya ketika terus melihat Mentari bercerita dengan pilu. Dalam pelukannya untuk Mentari, tangannya tidak berhenti mengelus dan mengusap punggung Mentari, berharap bisa mengalirkan kekuatan untuk perempuan rapuh di hadapannya.

Hati Kayla teriris. Dalam hatinya tidak berhenti berdo'a meminta perlindungan untuk Mentari yang ada di pelukannya.

Malam itu, Mentari berhasil membagi rasa sakitnya dengan Kayla, perempuan baik yang menyukai satu laki-laki yang sama dengan dirinya, Rain.

Tapi Mentari sedikit keliru, sejak awal dia dan Kayla menangis, di balik pintu kamar yang tidak jadi dibuka, Rain berdiri dalam diam. Rain melihat dan mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan dua perempuan itu sejak awal.

Perempuan yang menjadi sahabatnya selama 19 tahun dan perempuan yang dikenalnya selama 3 bulan terakhir.

Dan tiba-tiba Rain mulai sedikit tersadar, lah kok gue degdegan liat dia nangis?

-hhaolimau_

“Lo sadar ga si? Umur gue udah 22 tahun anjir.”, Kayla bergerak mencari posisi nyaman di samping Rain yang sudah menyelimuti dirinya dengan selimut. Rain tidak berbohong, selimut yang dipakainya memang lebih tipis dari yang biasa Kayla liat setiap main ke kamar ini.

“Lo nggak 22 tahun sendiri, jelek. Lo kira gue umur berapa?”, Rain bergerak mendekatkan diri untuk meletakkan kepalanya di lengan Kayla yang terbuka. Rain suka, nyaman.

“Gue nanya random aja ya. Menurut lo, dengan umur segitu, status begini, terus nggak masalah gitu peluk-peluk gini di satu kasur?”, jujur, Kayla menahan nafasnya, entah untuk alasan apa Kayla juga tidak paham.

“Nggak masalah, kali? Gue sama lo nggak punya pacar. Nggak bakal ada yang marah, kan.”

Anjing, santai banget jawabnya. Ini gue juga kenapa tiba-tiba deg-degan deh?

“So, how about Mentari?”

Rain sudah memejamkan matanya, menjawab pelan, “Just friend. Yesterday we didn't do something with feeling.”

“Lo jangan jadi cowo bangsat anjir, Rein. Coba jujur sama hati lo sendiri. Kalo nggak suka, kasih tau, kasian juga kan kalo ternyata dia berharap lebih karena kelakuan lo di London. Kalo suka, ya cepet sampein. Jangan kelamaan nunggu-nunggu deh, ntar kalo keduluan orang lain, nangeess.”

Tidak ada jawaban setelahnya. Rain sudah masuk ke alam mimpinya dengan nyaman. Di dalam rangkulan Kayla, sahabatnya.

Seandainya Rain mendengarkan perkataan Kayla yang terakhir, mungkin sejak itu Rain akan mulai mencoba jujur dengan hatinya sendiri. Sayangnya, Rain sudah menyelam penuh di alam mimpi.

-Ayya