“Lo sadar ga si? Umur gue udah 22 tahun anjir.”, Kayla bergerak mencari posisi nyaman di samping Rain yang sudah menyelimuti dirinya dengan selimut. Rain tidak berbohong, selimut yang dipakainya memang lebih tipis dari yang biasa Kayla liat setiap main ke kamar ini.
“Lo nggak 22 tahun sendiri, jelek. Lo kira gue umur berapa?”, Rain bergerak mendekatkan diri untuk meletakkan kepalanya di lengan Kayla yang terbuka. Rain suka, nyaman.
“Gue nanya random aja ya. Menurut lo, dengan umur segitu, status begini, terus nggak masalah gitu peluk-peluk gini di satu kasur?”, jujur, Kayla menahan nafasnya, entah untuk alasan apa Kayla juga tidak paham.
“Nggak masalah, kali? Gue sama lo nggak punya pacar. Nggak bakal ada yang marah, kan.”
Anjing, santai banget jawabnya. Ini gue juga kenapa tiba-tiba deg-degan deh?
“So, how about Mentari?”
Rain sudah memejamkan matanya, menjawab pelan, “Just friend. Yesterday we didn't do something with feeling.”
“Lo jangan jadi cowo bangsat anjir, Rein. Coba jujur sama hati lo sendiri. Kalo nggak suka, kasih tau, kasian juga kan kalo ternyata dia berharap lebih karena kelakuan lo di London. Kalo suka, ya cepet sampein. Jangan kelamaan nunggu-nunggu deh, ntar kalo keduluan orang lain, nangeess.”
Tidak ada jawaban setelahnya. Rain sudah masuk ke alam mimpinya dengan nyaman. Di dalam rangkulan Kayla, sahabatnya.
Seandainya Rain mendengarkan perkataan Kayla yang terakhir, mungkin sejak itu Rain akan mulai mencoba jujur dengan hatinya sendiri. Sayangnya, Rain sudah menyelam penuh di alam mimpi.
-Ayya