157. slightly different
“Loh lo berdua udahan mainnya?”
“Udahan ah, gue ngantuk. Udah tengah malem ini, Kak.”, Kaje membereskan peralatan play station di kamarnya setelah selesai bermain bersama Rain.
“Reinnya mana?”, tanya Kayla yang mulai membaringkan badan di kasur Kaje. Mencoba merenggangkan otot-otot badannya yang hari ini terasa lebih tegang dan lelah.
“Ke kamar mandi. Tadi katanya mau Netflix-an sama lo di ruang tengah.”
Kayla otomatis terduduk, bertanya heran, “Gue nggak ngajak?”.
Sementara Kaje hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya, “Nggak tau dah. Jangan kepagian nontonnya lo.”
“Iya.”, Kayla berdiri keluar kamar Kaje dan duduk di sofa ruang tengah, menyalakan Tv.
“Baru mau gue panggil, udah di sini ternyata.”, suara Rain. Laki-laki itu mengacak asal rambutnya lalu duduk nyaman di sebelah Kayla. Tangannya mengambil alih Tv dan langsung membuka aplikasi Netflix.
“Gue mau nonton The Medium.”
Kayla sontak melotot, berusaha mengambil remote Tv di tangan Rain. “Kalo lo mau nonton itu gue cabut. Lo nonton aja di sini sendiri. Gue ke kamar.”, bukan ngambek sih. Tapi Kayla memang bukan tipe yang suka atau kuat nonton film horor. Kalaupun harus terpaksa nonton, Kayla bakal fokus sama handphonenya atau menutup rapat mata dan telinganya. Hehe, takut.
Dan kali ini Kayla harus melakukan opsi pertama karena Rain hanya tertawa dan tetap memilih film itu untuk ditonton saat ini. Lampu sudah dimatikan dan Kaje mungkin sudah tidur. Hanya Kayla, Rain, dan the medium di ruang tengah yang gelap, perfectly.
Filmnya baru saja dimulai dan Kayla baru membuka aplikasi imessnya, berniat menganggu siapapun yang masih online tengah malam begini. Tapi tangan Rain secara tiba-tiba merebut handphone Kayla, menyembunyikannya. Kayla mau teriak kesal, tapi urung. Takut dikira kenapa-napa sama tetangga.
“Please deh, Kay. Akhir-akhir ini lo sibuk banget sama schedule lo. Sekalinya nggak sibuk, lo hangout sama Nathan. Gue sengaja ninggalin Mentari karena gue mau di sini sama lo. So, focus on me, can you?”
Tepat. Rain mengatakan itu tepat di mata Kayla. Tanpa sempat Kayla mencerna omongannya, Kayla tau jantungnya sudah berdegup lebih kencang. Lalu dengan tergesa dia melepaskan rangkulan Rain di pundaknya. Mencari posisi yang lebih berjarak dari Rain.
Tapi memang pada dasarnya Rain jail, wajahnya malah bergerak mendekat di depan wajah Kayla yang terus mundur untuk menghindar. Sampai punggung Kayla tersudut di lengan sofa dengan posisi Kayla yang sudah setengah berbaring dengan Rain di atasnya.
“Kay, kok lo deg-degan? Coba diem deh. Itu suara jantung lo, kan?”, tanya Rain. Entah sengaja memancing atau memang berlagak polos.
'Anjir ya lo pikir aja, di tempat gelap, berdua, lo begini, terus lo ganteng bgt lagi dengan rambut yang agak basah gitu, yakali gue gak deg-degan????'
“Coba lo juga diem. Tuh suara jantung lo juga sama kerasnya, kedengeran.”, Kayla menjawab dengan nafas yang masih tertahan. Menatap ukiran indah di setiap inci wajah laki-laki di atasnya.
Salah satu tangan Rain yang tadinya menyanggah badannya bergerak memegang dadanya sendiri. Mencari tau kebenaran dari pernyataan Kayla, dan benar. Jantungnya juga ikut menyumbangkan suara.
Belum sempat Rain mengatakan suatu hal, Tv yang sedang memutarkan film Netflix itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras yang mengejutkan.
“Argh anjir itu apaan!!???”, Kayla si penakut setan bergerak reflek dan cepat menarik leher Rain untuk dia peluk.
Rain total jatoh di atas badan Kayla. Tangan kirinya tidak dalam posisi sigap ketika Kayla menarik lehernya cepat. Sadar akan situasi dan posisi saat ini, mereka terdiam. Saling mencerna, saling merasakan satu sama lain. Sampai akhirnya Rain bersuara tepat di telinga kiri Kayla, “Kay ini aneh karena emang tumben. Tapi serius lo deg-degan banget. Kerasa sampe gue...”
Kayla masih diam. Menutup matanya karena masih terkejut tadi. Otaknya seketika melambat untuk mencerna posisi ambigu mereka saat ini. Tapi Kayla maupun Rain, tidak ada yang memiliki niatan untuk menjauh.
“Kay please. Gue sebenernya nggak masalah lo giniin, tapi jantung gue sakit. Gue juga deg-degan parah. Bisa dilepas dulu nggak ini peluknya?”, Kayla paham suara Rain merendah. Dengan gugup dia melepaskan tangannya di leher Rain, sampai sebuah suara menginterupsi keduanya untuk segera menjauh.
“Sumpah ya, lain kali kalau emang mau nonton Netflixnya sambil cuddle, bisa nggak sih di kamar aja. Niat gue cuma mau ke dapur ambil minum tapi mata gue malah keganggu liat lo berdua.”
Kaje kembali masuk ke kamarnya meninggalkan sepasang sahabat yang saling tatap dengan canggung.
'Nathan anjing.' 'Aduh mampus malu banget gue.'
-hhaolimau_