ayya.

Rain mendekap tubuh perempuan setengah sadar ini dengan sekuat tenaga. Mencoba merogoh tas kecil hitam di pundaknya untuk mengambil key card kamar no. 345 di salah satu hotel classic London.

Rain mana pernah menyangka bahwa situasi saat ini menjadi salah satu cerita yang akan dia pamerkan ke Kayla nanti. Gue ngebopong cewe mabok yang waktu itu sampe ke kamar hotelnya.

“Aku nggak mau pulang, nggak mau, please jangan bawa aku pulang ke rumah.”, perempuan setengah sadar itu merengek ketika Rain mulai membaringkannya di tempat tidur berukuran king size ini.

“Iya, Mentari. Lo di hotel kali ini. Nggak gue anterin ke rumah.”, jawab Rain acuh sambil mencoba melepaskan high heels dan jas biru dongkernya. Rain bahkan membantu melepaskan kuncir rambut yang mengikat tinggi rambut panjang Mentari.

Tapi, tiba-tiba Mentari duduk. Berjalan ke arah wastafel dan mencuci mukanya. Lalu berbalik badan untuk menatap laki-laki asing yang saat ini ada di kamarnya, menatapnya sedikit terkejut.

“Kamu cowo yang nolongin aku di Jakarta, kan? Kok bisa ada di sini?”, Mentari memandang Rain dari ujung rambut sampai ujung kakinya.

“Lah lo cuci muka doang terus sadar? Buset keren banget.”, Rain sedikit tertawa, “Iya, itu gue, gue Rain.”, Rain mendekat, memberi tangannya untuk mengajak Mentari bersalaman.

Tapi lagi-lagi yang dilakukan perempuan ini mengejutkannya, Mentari mendekat dan mengikis jarak di antara mereka. Bahkan tangannya sudah melingkar sempurna di leher Rain.

“Yeh gue kira lo udah sadar”, Rain mengeluh pelan, tangannya dengan reflek memegang pinggang Mentari, karena tubuh perempuan itu yang masih oleng.

“Namanya bagus, Rain. Aku mau cium, boleh nggak sih?”, belum sempat Rain menolak, atau sekedar mencerna lebih jelas maksud perempuan di hadapannya, Mentari sudah menyatukan bibir keduanya dengan mata terpejam dan kaki yang sedikit berjinjit.

Rain terdiam, mencerna apa yang sebenarnya perempuan ini rasakan, apa yang sebenarnya perempuan ini hadapi sampai dia sangat tidak ingin pulang ke rumah.

Tidak lama, dering telfon dari saku celana jeansnya membuyarkan lamunannya dan reflek bergerak mendorong Mentari sampai perempuan itu kembali telentang di kasur.

Demi Tuhan, baru kali ini gue bersyukur punya temen dengan nama Ale.

Kanyara melihat keadaan sekitar, sebelum mendudukan dirinya untuk kedua kalinya di sebelah laki-laki yang seharusnya membuatnya menjerit histeris, yaiyalah bro duduk berdua sama bias siapa sih yang nggak pengen?

Tapi Kanyara justru tidak memiliki hasrat untuk histeris lagi setiap menyadari bahwa laki-laki yang seharusnya hanya tetap berada di radar lensa kameranya kini duduk di depannya, menunggunya, memiliki kontak pribadi dirinya, bahkan sekarang melepas jaketnya dan memakaikannya pada Kanyara, yang memang malam ini hanya menggunakan kaos putih ketat.

Kanyara mengerjap, mencengkram sedikit bagian bawah jaket tersebut hanya untuk memastikan ini bukan halusinasi.

“Lo liat jam gak sih?”, “Ini tengah malem Kanyara”

Kanyara mengerjap lagi, aneh, “Kok lo nanya sendiri jawab sendiri? Lagian gue juga tau ini tengah malem”

Jaehyun mengambil posisi nyamannya, menatap bintang dan lampu-lampu kota,

“Lo nggak punya jaket? Atau baju yang lebih tebel atau besar dari ini?”, dagunya mengangkat menunjuk Kanyara.

Kanyara merapatkan jaket Jaehyun di badan kecilnya, “Punya. Sengaja pake ini. Cuma pengen jalan-jalan bentar, eh malah ketemu lo”

“Sengaja biar diliatin cowok-cowok”, Jaehyun berbicara asal tapi pukulan tiba-tiba di pundak belakangnya tidak asal. “Dih lo ngapain mukul gue anjir?”

“Omongan lo nyet, seenaknya banget!”, tentu Kanyara gak terima dong, dia sama sekali tidak ada niat ke sana. Ya buat apa juga? Dilirik cowo klo lagi numpang lewat aja, Kanyara langsung kabur.

Jaehyun tersenyum tipis. Merasa terhibur melihat Kanyara kesal. Nggak tau, Jaehyun kayak suka aja gitu liat Kanyara kesel atau marah. Lucu.

“Gue dapet tawaran main film, udah di acc sih. Mulai syuting 2 minggu lagi”, informasi dadakan dari Jaehyun berhasil membuat mata Kanyara seketika berbinar seperti perempuan itu yang memenangkan lotre dari event shope 10.10 dan membuat Jaehyun sepenuhnya fokus melihat ke arahnya.

“Bentar bentar! Kok malah lo yang kayak seneng banget?”

“Ya anjir pake nanya! Semua fans lo juga pasti seneng lah.”, Kanyara melanjutkan ocehannya dengan perasaan yang sudah terlanjur excited, “Lo tau gak sih udah berapa lama fans lo pengen banget liat lo debut aktor. Di forum fans tuh selalu jadi bahan obrolan banget deh, berandai-andai lo jadi aktor film. Dan akhirnya kesampaian! Huhuuuu, gue yakin sih semua pasti seneng dan bangga banget sama lo. You deserved it. Keren banget serius, je!”, tanpa sadar Kanyara memutar badannya 180° menghadap Jaehyun lengkap dengan tangannya yang mengepal excited dan senyumnya yang mengembang sempurna.

Jaehyun terpaku untuk sepersekian detik. Memperhatikan setiap detail perempuan di depannya. Kuncir rambutnya yang sudah dilepas membuat rambutnya mulai berantakan dimainkan angin malam, sepatu kotornya, skateboard di bawah kaki kanannya, pundak bahkan badannya yang sudah sepenuhnya memakai jaket abu-abu kesayangannya, Ya tuhan, ni cewe berantakan tapi kok cantik banget.

“Ra, cantik banget”

Kanyara memberhentikan senyumnya, mencari objek perkataan Jaehyun, menoleh ke kanan dan ke kiri, juga ke atas, tapi tidak menemukan hal yang dimaksud Jaehyun, “Hah? Apanya yang cantik? Mana?”

“Lo. Lo cantik banget”, entah telinga Kanyara bermasalah atau memang suara Jaehyun lebih pelan dan rendah dari sebelumnya. Kanyara menatap wajah Jaehyun yang ternyata sedari tadi sudah menatapnya.

Oh tentu ketika menyadari itu, Kanyara langsung memalingkan wajahnya dengan galak. Kanyara boleh deh di adu teriak paling kencang atau adu tojos, tapi nggak dengan adu mata. Apalagi sama cowo ganteng kayak yang di depannya gini.

“Je, pantes Anne gak mau sama lo, cara lo kampungan banget buat bikin cewe melting”, kalimat antonim yang malah keluar dari mulut Kanyara. Padahal Jaehyun juga bisa liat jelas perempuan ini sedikit salah tingkah.

Jaehyun hanya menanggapi dengan tertawa ganteng. Sedikit merasa bodoh karena tidak bisa mengendalikan mulutnya untuk tidak memuji Kanyara.

“Gue nggak tau, kalau ternyata dapet respon sebahagia itu dari orang lain karena suatu hal yang gue dapet, bisa bikin gue ngerasa lebih lebih bahagia kayak sekarang”, Jaehyun rasa kali ini bahagianya berlipat ganda. Hati kecilnya mulai merasa bersyukur karena kasus teror yang menimpanya kemarin dia bisa duduk mengobrol dengan perempuan ini.

Kanyara tertawa untuk menghilangkan rasa gugupnya yang tiba-tiba datang, “Semua fans lo pasti bahagia, je. Sebahagia kayak tadi gue. Semua pasti senyum ikut bahagia banget kalau tau ini. Semua pasti se excited gue tadi”

Jaehyun mengangguk, tersenyum, dengan terus menatap perempuan yang tangannya kini merapihkan rambutnya yang terus terbawa angin.

“Tapi dari semua fans gue yang ikut bahagia nanti, yang paling cantik pasti cuma lo”, lagi, Jaehyun. Sedetik kemudian, dalam hati Jaehyun tersadar, Belajar dari mana ngomong kayak gini, je? Lancar banget lidah lo muja muji, kayak Johnny.

“Lo emang selalu terang-terangan gini ya?”, Kanyara terus memaksakan tawanya. Anjing, sebenernya mah Kanyara salting banget!

“Gak tau, sama lo doang kali”, pertemuan kali ini, entah kenapa Kanyara merasa Jaehyun benar-benar sedang bahagia, “Ra, lo percaya love at the first sight gak?”, tanya Jaehyun tiba-tiba dengan topik baru.

Kanyara mengangkat bahunya kedua bahunya, “Gue gak tau karena nggak pernah ngerasain. Kenapa lo?”

“Gue awalnya gak percaya, tapi sekarang kayaknya gue lagi ngerasain love at the first sight”, Jaehyun menatap lurus ke depan, ke jalan raya besar yang sudah sepi dari lalu lalang kendaraan.

Belum sempat Kanyara bertanya atau merespon, Jaehyun sudah melanjutkan bicaranya, “Sama lo. Cewe takut kucing yang ngerepotin gue”, Kanyara sepenuhnya diam. Diam karena ya anjir ini gue lagi halu apa gimana si?

Jaehyun menoleh untuk melihat respon perempuan yang dia tuju, lalu mulai tertawa kecil karena Kanyara hanya diam, “Nggak usah kaget gitu dah, gue ngasih tau doang”, “Gue bukan dilan, tapi kata gue, kita bakal lebih sering ketemu nggak sengaja gini sih kedepannya. By the way, makasih ya udah dengerin omongan gue dan kasih respon apa adanya banget kayak tadi. Kalau yang barusan abaikan dulu aja, heheh”, Jaehyun tersenyum lalu menghabiskan minumnya, bersiap berdiri.

Kanyara menyadarkan lamunannya lalu ikut berdiri, namun tiba-tiba Jaehyun berpindah posisi, mendekati Kanyara dengan jarak kurang dari 1 meter.

“Kalau ketemu lagi, sengaja atau nggak sengaja, let me in ya, ra. Jangan diemin gue. Jangan lari. Kalau lari, gue kejar ke ujung dunia”, suara Jaehyun yang diiringi tawa manisnya itu memasuki telinga kanan Kanyara dan berputar-putar di otaknya, tidak mau keluar melalui telinga kirinya.

“Demi tuhan, tuan muda Jeong Jaehyun Jinggasa, lo sadar gak sih omongan lo dari tadi bikin gue degdegan?”, Kanyara tidak bisa lagi bertingkah seakan dia tidak peduli dengan semua omongan kemana-mana Jaehyun. Jaehyun tertawa. SIALAN INI MAH GUE MAKIN DEGDEGAN! GANTENG BANGET, MAMA MAU KABUR!

Jaehyun mengambil langkah maju lagi untuk menarik seleting jaketnya di Kanyara sampai tertutup sempurna, “Bagus dong, berarti gue gak ngerasain sendirian. Hehehe, makasih ya, ra, udah degdegan”

“See you very soon, Kanyara”

Kanyara belum menjawab apapun ketika laki-laki itu mulai menjauh dan tiba-tiba berbalik badan sedikit, “Jaketnya buat lo aja”

“Heh anak anjir. Sisir sama kuncir rambut lo tagih, jaket diatas 10 juta malah ikhlas banget ngasihnya!”, Kanyara sedikit teriak kesal dengan wajahnya yang masih terasa panas.

“Lo ngapain ada dimana-mana deh?”, Kanyara bertanya heran setelah mengambil tempat duduk di samping laki-laki berhoodie abu-abu ini.

Bukan 1-2 kali mereka bertemu secara nggak sengaja gini. Valentines, rooftops, tangga gedung stasiun tv, McD, bahkan Kanyara pernah beberapa kali tidak sengaja melihat Jaehyun di salah satu bar favoritnya. Kanyara juga ingat, Jaehyun selalu menemukannya diantara kerumunan fansite yg mengelilingi grupnya. Padahal perempuan ini sudah menutup rapat identitasnya.

“Bukan nya gue yg harusnya ngomong gitu? Lo ngapain di sini? Pasti ngintilin gue kan? Karena postan di twitter gue?”, Jaehyun membenarkan letak hoodienya, memasukkan tangannya ke dalam saku hoodienya.

“Pede gila lo. Fyi, gue aja gak follback acc lo tuh”

“Dih omdo lo berati ya. Katanya mau follback?”

“Kan baru bilang mau, belum act”, Kanyara bergerak mengambil minum di sisi belakang Jaehyun.

“Cih, pelit”, tangan Kanyara berhenti mendadak setelah mencerna apa yg baru saja dilakukan artis papan atas di sampingnya. Tangan Jaehyun mengacak asal pucuk kepala Kanyara.

Breath Kanyara, breath. Ini knp suddenly gue degdegan?

Mereka hanya diam selama beberapa menit untuk menikmati angin malam yg kali ini tidak terlalu dingin. Menghabiskan waktu dengan pikirannya masing-masing. Satu orang fokus memandang ke arah langit dan bintangnya, satu orang lainnya menatap kosong ke arah skateboard di kakinya.

“Ra, lo beneran bukan pelakunya kan?”, Jaehyun tiba-tiba menoleh untuk menatap perempuan di sampingnya. Tepat di mata perempuan itu.

Kanyara terpaku sejenak, namun tetap menatap mantap laki-laki ini, “Bukan. Bukan gue. Klo lo bisa buktiin gue pelakunya, gue akan dengan sukarela menyerahkan diri dan menghilang dari dunia per-NCUan ini.” Kanyara menjawab tanpa berkedip. Tetap dengan intonasinya yg santai tapi tidak bisa dipungkiri sangat terdengar tegas.

Pantes tampangnya kayak stres gini dari tadi, ternyata mikirin itu.

“Sorry klo pertanyaan gue bakal bikin lo gak nyaman... Lo dapet lagi? Kak Taeyong jg?”

Jaehyun mengangguk. “Agensi udah mulai penyelidikan tapi belum dapet titik terang. Mereka bakal minta bantuan polisi klo ini gak ketemu.” Jaehyun menjeda sebentar. Sementara Kanyara tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari laki-laki ini. “Sebenernya gue gak ambil pusing banget, selama gak diancem macem-macem. Tapi gue ngerasa bersalah aja. Dikit, hehe” sebuah cengiran terbit di wajahnya. Ah fake. “Gara-gara gue sama Taeyong diginiin, secara gak langsung jadi bikin member lain parno. Johnny jadi jarang ke bar atau hangout keluar sm temen-temennya. Yuta Doyoung juga. Sekalinya keadaan emang harus bikin mereka keluar, mereka lebih was-was. Nggak sesantai dulu. Yaa gue mana nyaman sih liat temen-temen gue jadi begitu gegara ulah ni cewe.”, Kanyara melihat dan mendengar dengan jelas, laki-laki dengan image publik sebagai cowo cool, keren, dan terkesan nggak ambil pusing ini, sekarang ada di hadapannya. Dengan bibirnya yg terus mengeluarkan cerita yg Kanyara dengar seperti sebuah keluhan, curahan hatinya yg dia pendam sendiri. Kanyara tidak ada niat sedikitpun untuk menghentikan Jaehyun berbicara walau jam di tangan kanannya sudah mulai melewati angka 12.

Kanyara tau *sebagai fansite, sosok Jeong Jaehyun adalah orang yg cenderung menutup diri. Laki-laki yg lebih asik dengan dunianya sendiri. Laki-laki yg hampir tidak pernah terdengar mengeluh hal apapun kecuali tentang Yuta yg tidak pernah menutup kembali pasta gigi setelah memakainya. Itu yg Kanyara *dan mungkin org² lain tau dan lihat di depan kamera, tapi detik ini, di sini, Kanyara membuka matanya. Laki-laki “sempurna” ini, tetap manusia yg memiliki hati dan sebuah emosi.

Jaehyun membuang nafas kasar setelah sadar dia berbicara terlalu banyak, “Gue kayaknya dari tadi ngomong lebih panjang dari Obama pas pidato, lo kenapa gak motong sih?”

“Ya gapapa, kayaknya lo emang lagi perlu didengar. Lagian siapapun orangnya, gue juga gak masalah klo gue dijadiin tempat berkeluh kesah sebentar”, Kanyara akhirnya memalingkan muka ketika Jaehyun mulai menatapnya kembali. Tangannya bergerak mengambil botol minumnya yg tadi sempat terabaikan. “Nih minum, cape pasti abis ngomong panjang kali lebar”, menyodorkan botolnya ke depan Jaehyun.

“Thanks”, laki-laki itu tanpa ragu mengambil dan meminumnya. Ini Jaehyun sudah sepenuhnya percaya pada Kanyara?

“Anyway, gak ada siapapun yg lo curigain, Ra?”

“Ada sih. Cuma gue masih ragu juga”, Kanyara bergerak memasukkan botol dan handphonenya ke dalam tas kecilnya.

Jaehyun tertegun sebentar, “Gue jg ada. Ntar gue imess. Tolong bantu gue dikit”, laki-laki itu beranjak berdiri lebih dulu, meletakkan skateboardnya di bawah kaki kanannya. “Udah jam segini, gue duluan” , sebelum meluncur bersama skateboardnya, suara Kanyara menghentikan gerakannya, “It's oke to be worried, Je. Lain kali klo ada kekhawatiran sampein aja, jangan so kuat sendiri, lo bukan Thor.”

Jaehyun tersenyum di balik maskernya, “Iya, gue sampeinnya ke lo ya. See you later, Ra”, matanya menyipit, Kanyara lihat, Jaehyun jelas sekali tersenyum sebelum membalikkan badan dan pergi dengan skateboardnya meninggalkan Kanyara.

“Cih, katanya sih laki-laki sejati. Tapi Jam 1 pagi ninggalin cewe sendirian di sini. Omdo”

Makasih ya Kanyara. Kali ini Jaehyun benar-benar mendapatkan angin yg ia cari.

“Anjing! siapa lo!? sejak kapan lo di sini woi?”, hampir setengah dua pagi, suara Kanyara masih full baterai untuk sekedar teriak ke arah orang yang sedang duduk memperhatikannya.

Ya gimana nggak kaget? Sejak temannya yang terakhir pulang, memang hanya ada dia sendiri di sini. Sibuk skateboarding ke sana kemari sampai baru sadar ada orang yang sudah duduk nyaman di pinggir arena skate.

“Minggir dikit dong, tali tas kecil gue kedudukan lo nih.” keluh Kanyara, mendekat.

Orang itu berdiri, oh cowo.

“Kanyara kan?”, demi jidat jelek Kale, Kanyara lebih ngeri klo ada orang asing yang tiba-tiba manggil namanya gini. Tengah malem. Cuma berdua lagi di sini.

“Gue gak mau lama-lama di sini. Lo Kanyara kan? Fans NCU, fansite Jaehyun yang waktu itu pingsan”,

Kanyara merasa tidak asing dengan suara cowo yang kini dihadapannya. Tinggi badannya, hoodienya, gaya berdirinya, earphone di saku hoodienya, terakhir, matanya.

ohh si...

“Iya ini Jaehyun. Jangan teriak. Berisik”, potong Jaehyun cepat ketika mulut Kanyara sudah ingin menyebut namanya.

Jaehyun sedikit menarik lengan Kanyara untuk berdiri berhadapan dengannya. Then he look at her eyes.

“Gue tau sebenernya buang-buang waktu nanya ke lo, cuma gue tetep mau tau. Lo jawab pertanyaan gue, sebagai fansite gue.”, Jaehyun berbicara santai dengan tetap mengunci tatapannya pada Kanyara.

Kanyara gugup, apa si ni cowo ganteng bgt....

Melihat Kanyara yang diam, Jaehyun mengeluarkan rasa penasarannya. “Lo fansite gue yg hampir pingsan dan di bawa ke makeup room kan?”

Kanyara mengangguk.

“Setelah gue keluar waktu itu, lo kemana?”

“Makan. Terus balik lah” jawab Kanyara seadanya. Masih mencerna untuk apa artis papan atas ada di sini, jam segini, hanya untuk bertanya hal ini padanya.

“Yang bener lo. Mampir ke room lain ga?”, tatapan Jaehyun mulai remeh.

“Kagak anjir ngapain”,

Jaehyun mengeluarkan handphonenya, membuka sesuatu dan memperlihatkan layarnya di depan wajah Kanyara. Screenshot chat Taeyong di grup tadi.

“Lo serius gak mampir ke ruangan lain buat moto dia? As we know hobi lo itu kan moto-motoin orang terlepas orangnya nyaman atau enggak”

Kanyara mulai malas menghadapi omongan cowo di depannya. “Gue fansite. Bukan sasaeng. It's totally different tuan Jeong Jaehyun Jinggasa”

what? she know my full name?

“We take a picture with ur agency permission. Nggak kampungan gitu kayak sasaeng”

“Then menurut Lo siapa yang ngechat dan moto Taeyong?” pertanyaan agak bodoh itu keluar begitu saja dari Jaehyun.

“Mana gue tau. Difoto staff acara musik atau agensi lo kali. Bisa aja ada orang lain yang dibayar sasaeng buat moto lo pada.”, Kanyara berjalan acuh mengambil tas kecilnya.

“Jadi menurut lo gue harus curiga sama staff yang udah lama kerja dan kenal gue di sana, dibanding lo, orang asing yang jelas-jelas ada di sana hari itu?”, Jaehyun melipat kedua tangannya. Menatap penuh selidik.

“Cih. Serah lo deh. Yang jelas gue tekenin lagi, it's not me. Gue berani sumpah”, gantian, Kanyara menatap Jaehyun tepat di matanya.

Secara tiba-tiba, cowo di depannya mengambil handphone di tangan Kanyara dengan mudah. Sebelum Kanyara sempat merespon untuk merebut kembali, jari Jaehyun sudah bergerak gesit untuk menelfon sebuah nomor dari handphone Kanyara.

Dan handphone di saku Jaehyun berdering, gila apa ni cowo!?

“Anjing, gada adab ya lo! Gue bisa kapan aja bilang ke publik tentang kelakuan lo ini ya!” Kanyara mengambil paksa handphonenya.

“Nomor lo udah ada di gue. Lo gak bakal bisa kabur. Jangan blokir gue, jangan sebar nomor gue. Atau lo bakal terus gue cari”, Jaehyun memasukkan kedua tangannya ke dalam hoodie lalu berjalan menjauh meninggalkan Kanyara.

“GUE GAK PEDULI YA. BUKAN GUE PELAKUNYA.”

#Perkara Kucing.

Kanyara sebenarnya bisa kapan saja melakukan hobinya yang satu ini, skateboarding di outdoor. Faktor masih kesal dan juga sebenarnya bingung harus melakukan apa di rumah, jadilah di sini dia sekarang.

Sudah puas bermain dan mengasah kemampuannya, Kanyara berjalan lunglai dengan skateboard di tangan kirinya dan es krim stroberi di tangan kanannya. Bersenandung santai sendirian, sampai dia mendengar suara yang dia yakin akan menjadi ancaman hidupnya saat ini.

Suara kucing berantem.

YaaAllah, Kanyara benci ini. Sangat. KENAPA HARUS SEKARANG SI PAS GUE SENDIRIAN?

dan lagi, sialnya, dia terpojok. Berhenti dan mematung. Dengan 3 kucing jantan yang Kanyara yakin sedang merebutkan 1 kucing betina yang tidak jauh dari kakinya.

“Please, biarin gue lewat dulu dong. Nggak nikmat banget gue makan eskrimnya nih nanti keburu cair.”

AAUUNGGG AANNGGG

“Aduh anjir please jangan ngeden gituu dong kalian.” gerutu Kanyara sendirian.

Kanyara melihat sekeliling. Tidak sepi tapi memang tidak ramai juga. Dan tentu saja, mana ada yang memperhatikan keadaanya saat ini. Orang-orang hanya akan menganggap ini sepele, tapi tidak dengan Kanyara.

Kanyara takut kucing. Apalagi sekarang ada 4 kucing berantem di hadapannya. Tau kan, kucing klo ngegas bisa aja nyakar orang di sekitarnya? Makanya Kanyara makin takut!

“Inhale, exhale, ayo Kanyara. Jangan teriak, tenangin diri, mari tunggu mereka reda sendiri. Dan please yaaAllah jangan sampe gue di silaturahmi sama salah satu dari mereka.”

Ratapan do'a Kanyara di tutup dengan aungan lebih keras dari salah satu kucing.

Kanyara makin terpojok, sebelum tiba-tiba tangan seseorang terulur ke arahnya.

Berbisik, “Cepet pegang tangan gue. Loncat ke sini.”

Meski kaget, Kanyara tetap menjawab dengan suara yang sedikit panik, “Klo bisa loncatin mereka, dari tadi gue juga udah loncatin anjir.”

Kanyara dengar cowo berhoodie abu-abu dan memakai masker putih rapat itu menghela nafasnya.

Mengulur kembali tangannya, lalu berjalan mendekat kepada Kanyara tanpa memedulikan kucing di sekitarnya alias tu kucing di geser aja pakai kaki dia. Tebak apa yang terjadi selanjutnya?

Pertama, tentu kucingnya teriak kencang, yaiya dong pasti kesel diganggu. Kedua, Kanyara kaget dan bergerak reflek menarik ujung hoodie lelaki di depannya agar lebih mendekat ke Kanyara. Ketiga, kucing nya lari. Tapi lari di antara kaki Kanyara dan cowo di depannya. Terakhir, Kanyara reflek (lagi) mendorong cowo di depannya sampai terjatuh di jalanan.

Entah ini keberuntungan atau kesialan, masker cowo itu terlepas sebelah dan yang Kanyara lihat adalah wajah yang selalu menjadi objek fokus setiap dia membidik kameranya.

“HAH? JEONG JAEHYUN!? LO NGAPAIN!??”, salah kan Kanyara karena suaranya yang kelewat nyaring.

Netizen (orang-orang) yang sedari tadi tidak peduli, mendadak berjalan cepat menuju tempatnya berdiri sekarang. Kanyara menutup mulutnya, jelas sadar telah melakukan hal bodoh.

“Ah sial”, umpat cowo itu. Ralat, umpat Jeong Jaehyun, member terMahal (katanya) dari grup boyband NCU sebelum berlari cepat meninggalkan Kanyara.

Oh tentu saja, para massa mengejar cowo keren itu dan tentu mengabaikan Kanyara.

Kanyara melengos, merapihkan rambutnya, membuang eskrim cairnya, mengambil tisu sambil mengelap tangan kotornya, dan kembali melanjutkan jalan untuk kembali ke rumah. Tentu saja sambil mendumel; “Aduh mampus Kanyara, lo bikin orang susah aja sih.” “Bodo amat lah kan gue kaget cuk. Lagian siapa coba yang nggak bakal kaget!?“Tapi apa banget tiba-tiba ada Jaehyun anjir.

Kanyara nggak tau aja, Jaehyun terus berlari sampai tepat di depan kantor agensinya.

06.55 pm Kanala Dan Kalezra sudah duduk tepat di meja nomor 13 dengan kedua orangtuanya dan tentu saja Kanyara.

Sebenarnya keluarga kecil ini memang sering memilih untuk dinner di luar. Kalau kata mami, hitung-hitung quality time with fam. Karena dasarnya keluarga ini berisikan orang-orang yang mempunyai kesibukannya masing-masing. Papanya memiliki perusahaan ternama, maminya memiliki butik dan beberapa toko bunga, Kanyara sibuk dengan dunia perfansiteannya tepat setelah lulus kuliah, dan si kembar beda 2 bulan, Kanala Kalezra yang sedang sibuk-sibuk nya kuliah semester akhir. Mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu begitu saja ketika semua anggota keluarga sedang ada waktu kosong.

“Kale gak mau ajak Nomi ke sini?” tiba-tiba papa menyeletuk sebelum memasukkan makanan ke mulutnya.

“Yeehh gak ada gitu dong, acara keluarga ini bro.”, tentu saja tukang protes nomor satu, Kanyara.

“Biasa aja kaliii, perasaan Nomi juga temen lo dah”, toyoran dr Kanala menyebabkan decakan keluar di mulut Kanyara.

“Nggak lah pa, jarang-jarang ada waktu full personil gini ni keluarga, masa tiba-tiba aku ajak orang yang bukan keluarga kita buat join.”, kale menjawab santai tapi tangannya ikut menoyor kepala Kanala.

INI YG ANAK SULUNG SIAPA SIH!?

“Ajaknya nanti ya, le, klo udah sah jadi anggota keluarga kita.”, mami, si support nomor 1 anaknya yang punya pacar.

“Maamm masih jauuuhhhh. Ini si tua aja, belom ada gandengannya.“ lagi-lagi, Kanala. Tangan kanan nyuap makanan, tangan kiri noyor Kanyara.

“Meskipun Kale mengaminkan mam, tapi tetep aja nih si cewe bangkotan ini dulu lah nanti.”, Kale, Tangan kiri megang tisu, tangan kanan noyor Kanyara.

“SUMPAH PAA, MAM, AKU BENERAN ANAK PERTAMA GAK SIH? MASA AKU DI GINIIN SAMA ADIK-ADIK AKU!?”, Kanyara hampir berdiri, untung ditahan Kale. Mami Papa dan kedua adiknya tertawa melihat anak pertama di keluarga mereka menggerutu.

“Kurang ajar malah diketawain. Dahlah. Misi, aku mau ke toilet.” Kanyara berdiri, masih menggerutu.

“Balik ke sini ya, kak. Jangan pulang duluan.”, kayak perhatian padahal si mami ngomong begitu sambil ketawa ngeledek.

Ya Allah Kanyara salah urutan gak sih pas keluar dr rahim mama?


“Awas handphonenya jatoh.”

Kanyara hampir aja terpeleset ketika sebuah suara cowo yang hampir seperti bisikan itu menginterupsinya.

Tangannya yang masih basah reflek membenarkan posisi handphone di saku kanan hoodie birunya.

“Yah sial malah basah handphone gue.”, gerutu Kanyara sendirian. Tangannya ingin mencari tisu tapi terhenti karena beberapa lembar tisu sudah ada di hadapannya.

Kanyara mengangkat kepalanya ingin berterima kasih, tapi suara dari cowo bermasker di depannya lebih dulu keluar, “Pelan-pelan kenapa sih. Kayak diburu-buru banget.”

Suara Jaehyun. Jeong Jaehyun.

“Dih lo?”, cukup kaget tapi tetap mengambil tisu tersebut dan mengeringkan handphonenya.

“Kaget ketemu gue di sini tanpa dapet bocoran schedule dulu?”, fix, cowo ini tau Kanyara is a fansite.

“Mau gue teriak nama lo biar lo dikejar-kejar lagi?”, Kanyara berujar santai.

Jaehyun tersenyum kecil di balik maskernya, “Bener kan. Lo itu cewe yg takut kucing, yg bikin gue dikejar massa, lo fansite gue, dan lo jg cewe yg ¾ pingsan di show gue.”

Jaehyun kira cewe di depannya akan bergelagat panik, atau setidaknya gugup, tapi salah, she is Kanyara.

“Iya itu gue. Terus kenapa? Gue gak melakukan hal yg melanggar hukum.” , Kanyara membuang bekas tisunya.

“Fansite?”, tanya Jaehyun.

“Enak aja lo. Fansite kayak gue gak melanggar hukum. Kita punya kontrak dan aturan.”, Kanyara sudah mau pergi meninggalkan Jaehyun yg masih berdiri di depan wastafel.

“Ribet bgt pake kontrak segala.”

“Apa urusannya sama lo”, tanya Kanyara sambil menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah Jaehyun.

“Nggak ada. Ga peduli.”

*“Gak peduli gak usah nanya dong, artis.”*

Kanyara nggak melihat ke arah belakangnya lagi, dia berjalan mantap meninggalkan Jaehyun yg masih diam.

Ini yang artis kan gue ya, tapi kenapa gue yang rada gugup gini?


“Kok lo lama sih? Ngambek beneran lo?”, oceh Kale lalu memundurkan kursi untuk Kanyara duduk.

“Ketemu cogan. Ajak kenalan dulu lah.”, jawaban Kanyara gak sepenuhnya salah sih.

tapi, lagi, di toyor Kanala. Kanyara mengehela nafas lelah. Bodo amat dah.

Pandangan Kale mengarah ke arah Kanyara keluar tadi. Lalu melihat cowo berhoodie hitam dan masker hitam keluar dari sana.

Oh beneran ketemu cogan

#Perkara Kucing.

Kanyara sebenarnya bisa kapan saja melakukan hobinya yang satu ini, skateboarding di outdoor. Faktor masih kesal dan juga sebenarnya bingung harus melakukan apa di rumah, jadilah di sini dia sekarang.

Sudah puas bermain dan mengasah kemampuannya, Kanyara berjalan lunglai dengan skateboard di tangan kirinya dan es krim stroberi di tangan kanannya. Bersenandung santai sendirian, sampai dia mendengar suara yang dia yakin akan menjadi ancaman hidupnya saat ini.

Suara kucing berantem.

YaaAllah, Kanyara benci ini. Sangat. KENAPA HARUS SEKARANG SI PAS GUE SENDIRIAN?

dan lagi, sialnya, dia terpojok. Berhenti dan mematung. Dengan 3 kucing jantan yang Kanyara yakin sedang merebutkan 1 kucing betina yang tidak jauh dari kakinya.

“Please, biarin gue lewat dulu dong. Nggak nikmat banget gue makan eskrimnya nih nanti keburu cair.”

AAUUNGGG AANNGGG

“Aduh anjir please jangan ngeden gituu dong kalian.” gerutu Kanyara sendirian.

Kanyara melihat sekeliling. Tidak sepi tapi memang tidak ramai juga. Dan tentu saja, mana ada yang memperhatikan keadaanya saat ini. Orang-orang hanya akan menganggap ini sepele, tapi tidak dengan Kanyara.

Kanyara takut kucing. Apalagi sekarang ada 4 kucing berantem di hadapannya. Tau kan, kucing klo ngegas bisa aja nyakar orang di sekitarnya? Makanya Kanyara makin takut!

“Inhale, exhale, ayo Kanyara. Jangan teriak, tenangin diri, mari tunggu mereka reda sendiri. Dan please yaaAllah jangan sampe gue di silaturahmi sama salah satu dari mereka.”

Ratapan do'a Kanyara di tutup dengan aungan lebih keras dari salah satu kucing.

Kanyara makin terpojok, sebelum tiba-tiba tangan seseorang terulur ke arahnya.

Berbisik, “Cepet pegang tangan gue. Loncat ke sini.”

Meski kaget, Kanyara tetap menjawab dengan suara yang sedikit panik, “Klo bisa loncatin mereka, dari tadi gue juga udah loncatin anjir.”

Kanyara dengar cowo berhoodie abu-abu dan memakai masker putih rapat itu menghela nafasnya.

Mengulur kembali tangannya, lalu berjalan mendekat kepada Kanyara tanpa memedulikan kucing di sekitarnya alias tu kucing di geser aja pakai kaki dia. Tebak apa yang terjadi selanjutnya?

Pertama, tentu kucingnya teriak kencang, yaiya dong pasti kesel diganggu. Kedua, Kanyara kaget dan bergerak reflek menarik ujung hoodie lelaki di depannya agar lebih mendekat ke Kanyara. Ketiga, kucing nya lari. Tapi lari di antara kaki Kanyara dan cowo di depannya. Terakhir, Kanyara reflek (lagi) mendorong cowo di depannya sampai terjatuh di jalanan.

Entah ini keberuntungan atau kesialan, masker cowo itu terlepas sebelah dan yang Kanyara lihat adalah wajah yang selalu menjadi objek fokus setiap dia membidik kameranya.

“HAH? JEONG JAEHYUN!? LO NGAPAIN!??”, salah kan Kanyara karena suaranya yang kelewat nyaring.

Netizen (orang-orang) yang sedari tadi tidak peduli, mendadak berjalan cepat menuju tempatnya berdiri sekarang. Kanyara menutup mulutnya, jelas sadar telah melakukan hal bodoh.

“Ah sial”, umpat cowo itu. Ralat, umpat Jeong Jaehyun, member terMahal (katanya) dari grup boyband NCU sebelum berlari cepat meninggalkan Kanyara.

Oh tentu saja, para massa mengejar cowo keren itu dan tentu mengabaikan Kanyara.

Kanyara melengos, merapihkan rambutnya, membuang eskrim cairnya, mengambil tisu sambil mengelap tangan kotornya, dan kembali melanjutkan jalan untuk kembali ke rumah. Tentu saja sambil mendumel; “Aduh mampus Kanyara, lo bikin orang susah aja sih.” “Bodo amat lah kan gue kaget cuk. Lagian siapa coba yang nggak bakal kaget!?“Tapi apa banget tiba-tiba ada Jaehyun anjir.

Kanyara nggak tau aja, Jaehyun terus berlari sampai tepat di depan kantor agensinya.