Kanyara melihat keadaan sekitar, sebelum mendudukan dirinya untuk kedua kalinya di sebelah laki-laki yang seharusnya membuatnya menjerit histeris, yaiyalah bro duduk berdua sama bias siapa sih yang nggak pengen?
Tapi Kanyara justru tidak memiliki hasrat untuk histeris lagi setiap menyadari bahwa laki-laki yang seharusnya hanya tetap berada di radar lensa kameranya kini duduk di depannya, menunggunya, memiliki kontak pribadi dirinya, bahkan sekarang melepas jaketnya dan memakaikannya pada Kanyara, yang memang malam ini hanya menggunakan kaos putih ketat.
Kanyara mengerjap, mencengkram sedikit bagian bawah jaket tersebut hanya untuk memastikan ini bukan halusinasi.
“Lo liat jam gak sih?”,
“Ini tengah malem Kanyara”
Kanyara mengerjap lagi, aneh,
“Kok lo nanya sendiri jawab sendiri? Lagian gue juga tau ini tengah malem”
Jaehyun mengambil posisi nyamannya, menatap bintang dan lampu-lampu kota,
“Lo nggak punya jaket? Atau baju yang lebih tebel atau besar dari ini?”, dagunya mengangkat menunjuk Kanyara.
Kanyara merapatkan jaket Jaehyun di badan kecilnya, “Punya. Sengaja pake ini. Cuma pengen jalan-jalan bentar, eh malah ketemu lo”
“Sengaja biar diliatin cowok-cowok”, Jaehyun berbicara asal tapi pukulan tiba-tiba di pundak belakangnya tidak asal. “Dih lo ngapain mukul gue anjir?”
“Omongan lo nyet, seenaknya banget!”, tentu Kanyara gak terima dong, dia sama sekali tidak ada niat ke sana. Ya buat apa juga? Dilirik cowo klo lagi numpang lewat aja, Kanyara langsung kabur.
Jaehyun tersenyum tipis. Merasa terhibur melihat Kanyara kesal. Nggak tau, Jaehyun kayak suka aja gitu liat Kanyara kesel atau marah. Lucu.
“Gue dapet tawaran main film, udah di acc sih. Mulai syuting 2 minggu lagi”, informasi dadakan dari Jaehyun berhasil membuat mata Kanyara seketika berbinar seperti perempuan itu yang memenangkan lotre dari event shope 10.10 dan membuat Jaehyun sepenuhnya fokus melihat ke arahnya.
“Bentar bentar! Kok malah lo yang kayak seneng banget?”
“Ya anjir pake nanya! Semua fans lo juga pasti seneng lah.”, Kanyara melanjutkan ocehannya dengan perasaan yang sudah terlanjur excited, “Lo tau gak sih udah berapa lama fans lo pengen banget liat lo debut aktor. Di forum fans tuh selalu jadi bahan obrolan banget deh, berandai-andai lo jadi aktor film. Dan akhirnya kesampaian! Huhuuuu, gue yakin sih semua pasti seneng dan bangga banget sama lo. You deserved it. Keren banget serius, je!”, tanpa sadar Kanyara memutar badannya 180° menghadap Jaehyun lengkap dengan tangannya yang mengepal excited dan senyumnya yang mengembang sempurna.
Jaehyun terpaku untuk sepersekian detik. Memperhatikan setiap detail perempuan di depannya. Kuncir rambutnya yang sudah dilepas membuat rambutnya mulai berantakan dimainkan angin malam, sepatu kotornya, skateboard di bawah kaki kanannya, pundak bahkan badannya yang sudah sepenuhnya memakai jaket abu-abu kesayangannya, Ya tuhan, ni cewe berantakan tapi kok cantik banget.
“Ra, cantik banget”
Kanyara memberhentikan senyumnya, mencari objek perkataan Jaehyun, menoleh ke kanan dan ke kiri, juga ke atas, tapi tidak menemukan hal yang dimaksud Jaehyun, “Hah? Apanya yang cantik? Mana?”
“Lo. Lo cantik banget”, entah telinga Kanyara bermasalah atau memang suara Jaehyun lebih pelan dan rendah dari sebelumnya. Kanyara menatap wajah Jaehyun yang ternyata sedari tadi
sudah menatapnya.
Oh tentu ketika menyadari itu, Kanyara langsung memalingkan wajahnya dengan galak. Kanyara boleh deh di adu teriak paling kencang atau adu tojos, tapi nggak dengan adu mata. Apalagi sama cowo ganteng kayak yang di depannya gini.
“Je, pantes Anne gak mau sama lo, cara lo kampungan banget buat bikin cewe melting”, kalimat antonim yang malah keluar dari mulut Kanyara. Padahal Jaehyun juga bisa liat jelas perempuan ini sedikit salah tingkah.
Jaehyun hanya menanggapi dengan tertawa ganteng. Sedikit merasa bodoh karena tidak bisa mengendalikan mulutnya untuk tidak memuji Kanyara.
“Gue nggak tau, kalau ternyata dapet respon sebahagia itu dari orang lain karena suatu hal yang gue dapet, bisa bikin gue ngerasa lebih lebih bahagia kayak sekarang”, Jaehyun rasa kali ini bahagianya berlipat ganda. Hati kecilnya mulai merasa bersyukur karena kasus teror yang menimpanya kemarin dia bisa duduk mengobrol dengan perempuan ini.
Kanyara tertawa untuk menghilangkan rasa gugupnya yang tiba-tiba datang, “Semua fans lo pasti bahagia, je. Sebahagia kayak tadi gue. Semua pasti senyum ikut bahagia banget kalau tau ini. Semua pasti se excited gue tadi”
Jaehyun mengangguk, tersenyum, dengan terus menatap perempuan yang tangannya kini merapihkan rambutnya yang terus terbawa angin.
“Tapi dari semua fans gue yang ikut bahagia nanti, yang paling cantik pasti cuma lo”, lagi, Jaehyun.
Sedetik kemudian, dalam hati Jaehyun tersadar,
Belajar dari mana ngomong kayak gini, je? Lancar banget lidah lo muja muji, kayak Johnny.
“Lo emang selalu terang-terangan gini ya?”, Kanyara terus memaksakan tawanya.
Anjing, sebenernya mah Kanyara salting banget!
“Gak tau, sama lo doang kali”, pertemuan kali ini, entah kenapa Kanyara merasa Jaehyun benar-benar sedang bahagia,
“Ra, lo percaya love at the first sight gak?”, tanya Jaehyun tiba-tiba dengan topik baru.
Kanyara mengangkat bahunya kedua bahunya, “Gue gak tau karena nggak pernah ngerasain. Kenapa lo?”
“Gue awalnya gak percaya, tapi sekarang kayaknya gue lagi ngerasain love at the first sight”, Jaehyun menatap lurus ke depan, ke jalan raya besar yang sudah sepi dari lalu lalang kendaraan.
Belum sempat Kanyara bertanya atau merespon, Jaehyun sudah melanjutkan bicaranya, “Sama lo. Cewe takut kucing yang ngerepotin gue”, Kanyara sepenuhnya diam.
Diam karena ya anjir ini gue lagi halu apa gimana si?
Jaehyun menoleh untuk melihat respon perempuan yang dia tuju, lalu mulai tertawa kecil karena Kanyara hanya diam, “Nggak usah kaget gitu dah, gue ngasih tau doang”,
“Gue bukan dilan, tapi kata gue, kita bakal lebih sering ketemu nggak sengaja gini sih kedepannya. By the way, makasih ya udah dengerin omongan gue dan kasih respon apa adanya banget kayak tadi. Kalau yang barusan abaikan dulu aja, heheh”, Jaehyun tersenyum lalu menghabiskan minumnya, bersiap berdiri.
Kanyara menyadarkan lamunannya lalu ikut berdiri, namun tiba-tiba Jaehyun berpindah posisi, mendekati Kanyara dengan jarak kurang dari 1 meter.
“Kalau ketemu lagi, sengaja atau nggak sengaja, let me in ya, ra. Jangan diemin gue. Jangan lari. Kalau lari, gue kejar ke ujung dunia”, suara Jaehyun yang diiringi tawa manisnya itu memasuki telinga kanan Kanyara dan berputar-putar di otaknya, tidak mau keluar melalui telinga kirinya.
“Demi tuhan, tuan muda Jeong Jaehyun Jinggasa, lo sadar gak sih omongan lo dari tadi bikin gue degdegan?”, Kanyara tidak bisa lagi bertingkah seakan dia tidak peduli dengan semua omongan kemana-mana Jaehyun.
Jaehyun tertawa.
SIALAN INI MAH GUE MAKIN DEGDEGAN! GANTENG BANGET, MAMA MAU KABUR!
Jaehyun mengambil langkah maju lagi untuk menarik seleting jaketnya di Kanyara sampai tertutup sempurna, “Bagus dong, berarti gue gak ngerasain sendirian. Hehehe, makasih ya, ra, udah degdegan”
“See you very soon, Kanyara”
Kanyara belum menjawab apapun ketika laki-laki itu mulai menjauh dan tiba-tiba berbalik badan sedikit, “Jaketnya buat lo aja”
“Heh anak anjir. Sisir sama kuncir rambut lo tagih, jaket diatas 10 juta malah ikhlas banget ngasihnya!”, Kanyara sedikit teriak kesal dengan wajahnya yang masih terasa panas.