185. where do we go now from here?

“Kay, ikut. Gue mau tidur bareng.”, Rain menahan pintu kamar Kayla sebelum tertutup rapat. Laki-laki yang sudah berpiyama itu menyelak masuk lalu duduk dengan manis di ranjang Kayla.

Kayla menggeleng kecil lalu berjalan melewati Rain untuk meletakkan cangkir kopinya di nakas pendek.

“Lagi kenapa? Lo ada masalah? Tumben nggak ngajak ribut gue.”, Kayla bergerak menarik selimut lalu merebahkan dirinya di kasur queen sizenya. Memainkan handphonenya lalu memutar playlist spotify untuk lullaby malam ini.

“Hmm, ada masalah. Tapi gue nggak mau cerita.”, Rain menautkan bibirnya. Bergelak mengikuti Kayla untuk masuk ke dalam selimut.

Bingung dan deg-degan. Itu yang Kayla rasakan saat Rain mengambil lengan tangan kirinya untuk dijadikannya bantal. Mata laki-laki itu sudah memejam. Tidak mengatakan apapun. Handphonenya diletakkan di nakas. Kayla tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya. Rain terlalu teka-teki kalau sudah berkaitan tentang perasaan atau moodnya. Kayla jarang tepat sasaran.

Daripada merasa canggung, Kayla berniat mengajak Rain mengobrol dengan mengubah posisi badannya menghadap Rain. Tapi Rain tiba-tiba menahan dan memutar badan Kayla untuk menghadap dinding. Kayla ingin mengeluarkan protes tapi Rain lebih dulu bersuara, “Madep tembok aja. Gue mau ngobrol sama lo tanpa liat muka lo.”

“Apa sih anjirt? Gue ada salah sama lo? Kenapa sih nggak biasanya banget lo gini.”, Kayla 100% berdegup kencang. Apalagi ketika dia tau Rain meletakkan dagunya di pertengahan lehernya.

“Kay, malem ini jangan protes ya. Gue mau peluk banget.”, dengan berakhirnya kalimat itu tangan kiri Rain berpindah posisi di pinggang Kayla. Memeluk sayang gadis itu dari belakang. Matanya terpejam. Menikmati waktunya bersama Kayla yang tidak akan terulang lagi.

“Cerita. Jangan diem aja. Atau gue tendang ya lo.”, Kayla harus tau kenapa Rain tiba-tiba begini.

Rain masih tetap dengan posisinya dan mata yang terpejam, “Tadi Nathan bilang ke gue, besok dia sama lo mau naik status jadi pacar.”

Deg. Kayla reflek menahan napasnya.

“Berati besok udah nggak bisa gini lagi kan sama lo. Besok gue nggak bisa lagi meluk-meluk lo kayak biasa.”, suaranya tetap damai. Kayla suka.

“Ada Mentari. Bisa lo peluk kapanpun. Jangan kayak anak kecil, Rein.”, hatinya tiba-tiba merasa sedikit sesak. Kayla menahan nafas terlalu lama dan dia baru sadar itu ketika Rain menghela nafasnya di atas pundaknya.

“But her smell is not yours.”

Diam. Kayla kacau. Pikirannya bercabang kemana-mana. Tentang maksud Rain malam ini, tentang hatinya, tentang Nathan yang pasti sedang menanti hari esok untuk bertemu dengannya.

“Kalaupun gue jadi sama Nathan, gue tetep sahabat lo, Rein. We're never changed, ya kan?”

“Iya, never. Tapi skinship kita nggak boleh sampe kayak gini. Lo punya Nathan, yang hatinya harus lo jaga. Nathan sahabat gue juga, Kay. Gue mau liat dia bahagia sama lo, his crush sejak ospek kampus.”

Kayla terdiam lagi. She can't imagine although she must. Apa status sahabat selama 19 tahun akan berakhir kalau salah satu dari mereka punya pasangan? Sebenarnya jawabannya tidak, kalau dalam hubungan sahabat itu tidak ada yang menaruh rasa lebih. But for the godness shit Kayla does, and also Rain.

“You can stay, Rein. Nathan juga paham posisi lo yang lebih lama isi hidup gue. Nathan nggak pernah masalah tentang gimana deketnya gue sama lo.”

“Iya, i bet Nathan can. But what if I can't?”

“Lo bisa baik-baik aja tiap Mentari deket sama gue. Every time she calls me, you never forbid me to go. Tapi lo tau nggak lucunya apa? Gue nggak baik-baik aja tiap tau lo ngabisin waktu berdua doang sama Nathan.”, tangannya di pinggang Kayla mengerat. Emosinya terkumpul di tangannya yang dia kepal.

Kayla terkejut, semakin terkejut ketika air matanya turun mengenai hidungnya yang mancung. Ah sialan, lagian lagunya kenapa harus ini sih?

“Kalau sama sahabat harusnya nggak boleh gitu kan, Kay? Makanya gue kesel sama diri gue sendiri. Gue sengaja ngabisin waktu lebih lama di apart bahkan when Mentari didn't calls me. Gue nggak mau liat lo yang lagi sama Nathan.”, suara Rain melemah. Terdiam cukup lama. Masih dengan lagu yang sama dari playlist Kayla.

“Tapi chat Nathan tadi nyadarin gue kalau dia perfect buat lo, Kay. He loves you that much. Sejak kenal Nathan, dia cuma suka sama lo. Sementara gue sendiri nggak tau rasa apa yang gue punya buat lo, Kay.”

“Maaf ya, Kay. Gue masih perlu waktu buat paham sama perasaan gue sendiri. Lo harus lebih bahagia sama Nathan ya.”

Ya Tuhan, Kayla kesal. Kayla kesal dengan laki-laki yang sedang memeluknya. Kayla ingin teriak sekencang-kencangnya untuk memberitahu bahwa dirinya tidak pernah baik-baik saja setiap Rain meninggalkannya untuk datang ke Mentari. Kayla ingin memberitahu Rain kalau Rain nggak merasakan itu sendiri. Kayla ingin memberitahu Rain kalau setiap menghabiskan waktu dengan Nathan, bayangan Kayla tentang Rain sedang apa dengan Mentari tidak pernah hilang.

Kayla ingin mengeluarkan semuanya saat ini. Tapi senyum Nathan dan pesan dari Helen Ryu mematahkan keinginannya.

Rain sendiri masih belum sadar dengan hatinya. Jadi untuk apa Kayla menyia-nyiakan Nathan? Nathan pasti untuknya. Nathan tidak membuat Kayla menunggu. Nathan tidak membuat Kayla bertanya-tanya sendirian.

“So where do we go now from here, Kay? Would it be different if you were more near? Jujur, gue bingung.”

Kayla menghapus air matanya. Membenarkan posisi tidurnya lalu berkata tegas, “I'll go to Nathan and you'll go to Mentari. It's fine. Totally fine. And yeah, we're still best friend, Rein.”

“Then I could do is wish you well, Kay.”, Rain merapatkan badannya, memeluk gadis cantik yang selama 19 tahun mengisi hidupnya sebagai sahabat.

Rain rasa dia harus menyelesaikan perasaannya yang bahkan belum dimulai. Her choose Nathan, and it's a final.

Besok Rain akan membiarkan Kayla membuka pintu untuk laki-laki lain. Rain tidak akan menyuruh Kayla menunggunya. Dan saat ini pula, ada seorang perempuan yang membutuhkan kehadirannya lebih dari Kayla membutuhkannya.

-hhaolimau_