105. a hug.

“Rein, ke Mars sekarang. Ryu ketemu Mentari nangis parah, mabok.”

Dua kalimat yang muncul sebagai notifikasi dilayar kunci handphone itu membuat Rain bergerak terburu meninggalkan teman-temannya. Rain, Raga, Nathan dan Ale memang selalu memiliki waktu berkumpul diantara sibuknya kegiatan mereka masing-masing di luar.

Seperti saat ini, jarum jam menunjuk angka 11.30 malam, tapi di dalam kamar luas Ale mereka masih asik bergurau satu sama lain, bermain play station dan memesan banyak makanan. Lalu kebisingan dari ke-empat nya serentak terhenti ketika Rain dengan tiba-tiba bergegas mengambil kunci mobilnya di meja dan pergi keluar.

“Lanjut aja mainnya. Ntar gue ke sini lagi.”

“Kenapa woi? Ada apa? Urgent banget kayanya?”

“Mentari.”, setelahnya Rain menutup pintu dan, sunyi.


01.45 am. Apartment's Rain.

“Ta, udah enakkan?”, itu suara Kayla. Kayla dan Rain membawa Mentari untuk kedua kalinya ke apartement Rain.

Kayla menahan sedikit ringisannya. Setelah tidak sengaja melihat tubuh Mentari yang sempat tersingkap karena gerakan wanita itu yang mengikat rambutnya asal. Ada memar di bagian punggung atas Mentari, lengan atas, dan juga yang terlihat jelas, di atas alis sebelah kanannya. Kayla tidak bodoh, dia tahu itu memar yang disebabkan pukulan keras, bukan jatuh.

Dalam hidupnya, Kayla tidak pernah berhadapan dengan kekerasan fisik sekalipun. Kayla tidak menyangka kalau di depannya saat ini, teman cantik yang baru dia kenal akhir-akhir ini, memiliki banyak memar ungu di tubuhnya, mendapatkan itu semua dari kekerasan fisik yang Kayla belum tahu jelas siapa yang pelakunya.

“Udah, Kay. Thanks a lot ya. Maaf ngerepotin kamu sama Rain lagi..”, Mentari melepas kembali ikatan di rambutnya ketika sadar Kayla menatapnya dengan pandangan perihatin. Berusaha menutupi beberapa memar di tubuhnya yang masih terlihat.

“Udah nggak pusing? Perutnya gimana? Tadi kamu minum lumayan banyak loh, ta.”, Kayla menatap khawatir, mengajak tangan Mentari untuk duduk di kasur kamar Rain, agar perempuan itu dapat beristirahat.

“Udah mendingan banget kok. Udah minum pereda mabok yang tadi kamu buat. Terus juga udah sempet tidur, kan, heheh.”, Mentari menarik balik tangan Kayla agar wanita itu ikut duduk dengannya di kasur. “Nggakpapa Kay, aku nggakpapa kok, hahahaa kamu jangan natep aku kayak gitu dong. Lukanya nggak sakit kok.”, Mentari mengatakan itu dengan tawanya tapi yang Kayla rasakan dari tawa itu, perih, kesakitan.

Kayla menggenggam erat kedua telapak tangan perempuan di depannya, “Ta, kamu tau nggak? Kalau kamu nggak selamanya harus berlindung di balik kata 'nggakpapa'. Aku nggak minta kamu cerita ini ada apa atau kamu kenapa, tapi seenggaknya ta, it's okay loh, buat ngeluh. Kan kamu, manusia. Sama kayak aku, kayak Rain.

Mentari terenyuh. Mendapat perhantian sebegitu tulusnya dari perempuan yang belum lama ia kenal. Dia terharu sepenuhnya. “Bukan aku enggak mau cerita, Kay. Tapi aku tau, dengan aku cerita atau enggak, nasibku nggak akan berubah. Ya, kan?”

“Iya. Aku ataupun Rain mungkin enggak akan bisa ubah nasib kamu. Kamu orang hebat. Di umur segini kamu udah terjun di dunia bisnis yang nggak main-main. Tapi aku mau kamu sadar, ta, rasa sakit kalau kamu pendem sendiri di sini, rasanya bakal lebih sakit dan nusuk kamu berkali-kali lipat.”, tangan Kayla berpindah ke atas dada Mentari. Matanya menatap teduh mata Mentari.

Mentari paham dan percaya, Kayla berusaha membantunya untuk tidak sakit sendirian. Lalu tanpa izin lagi, air mata Mentari meluncur bebas. Tangisannya pecah dalam rengkuhan Kayla. Pundak Kayla adalah pundak kedua setelah Qila yang menjadi tempatnya menangis. Mentari tidak pernah cerita dengan detail apa yang dilakukan papanya atau mamanya kepada Qila. Qila hanya selalu ada di sana, setiap Mentari butuh ditenangkan. Setiap dirinya tidak bisa pergi meluapkan semuanya di bar.

Tapi pagi buta ini, entah dorongan dari mana, entah rasa percaya dari mana, Mentari menceritakan hidupnya yang pahit, secara detail, kepada Kayla. Tentang dia yang mengemis perhatian mamanya, tentang dia yang harus berkerja habis-habisan di umurnya yang baru 22 tahun, tentang dia yang tidak tahu bagaimana indahnya dunia dengan warna pelangi, tentang hidupnya yang abu-abu dengan papa kasarnya yang hadir membuat banyak coretan hitam di hampir setiap lembaran hidupnya.

“Ta, hari ini mungkin bumi lagi jahat sama kamu. Kemarin-kemarin mungkin bumi lagi ngga berpihak sama kamu. Tapi, ta, kita harus tetep yakin... Kalau semua manusia di bumi ini udah diberikan kadar bahagia dan sedihnya di waktu yang tepat. Hari ini kamu kecewa, marah, sakit, tapi bisa jadi besok lebih baik, kan? Bisa jadi dua minggu dari sekarang banyak perusahaan besar yang tertarik kerjasama sama kamu. Semangat selalu ya, ta. Mulai sekarang kamu ngga akan sendirian lagi. Aku, Rain dan temen-temen yang lain bakal nemenin kamu.”

Mentari menangis sejadi-jadinya. Begitu juga dengan Kayla. Perempuan yang terbiasa menjadi pendengar itu tidak bisa menahan tangisannya ketika terus melihat Mentari bercerita dengan pilu. Dalam pelukannya untuk Mentari, tangannya tidak berhenti mengelus dan mengusap punggung Mentari, berharap bisa mengalirkan kekuatan untuk perempuan rapuh di hadapannya.

Hati Kayla teriris. Dalam hatinya tidak berhenti berdo'a meminta perlindungan untuk Mentari yang ada di pelukannya.

Malam itu, Mentari berhasil membagi rasa sakitnya dengan Kayla, perempuan baik yang menyukai satu laki-laki yang sama dengan dirinya, Rain.

Tapi Mentari sedikit keliru, sejak awal dia dan Kayla menangis, di balik pintu kamar yang tidak jadi dibuka, Rain berdiri dalam diam. Rain melihat dan mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan dua perempuan itu sejak awal.

Perempuan yang menjadi sahabatnya selama 19 tahun dan perempuan yang dikenalnya selama 3 bulan terakhir.

Dan tiba-tiba Rain mulai sedikit tersadar, lah kok gue degdegan liat dia nangis?

-hhaolimau_