242. misunderstanding
Kayla total bungkam di mobil. Perempuan itu hanya menjawab seadanya setiap pacarnya, Nathan, bertanya berbagai hal untuk memulai obrolan. Tapi usahanya ternyata sia-sia. Kayla masih juga diam dengan pikirannya yang berkecamuk.
“Kay, itu kita udah beli McD loh. Makan dulu. Jangan diem aja.”, Nathan melihat sekilas ke Kayla dengan tangannya yang bergerak menyentuh pelan jari-jemari Kayla.
Kayla tersadar dari lamunannya, “Nanti deh, gue makan di rumah aja ya. Makasih, Nat.”, itu kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kayla selama di mobil.
“Rain nggak ada alasan buat ikut mabok sama Mentari, Kay. Kamu tenang aja, ya.”, Nathan tahu apa yang mengganggu Kayla saat ini. Pacarnya itu sedang khawatir Rain melewati batas. Pacarnya itu sedang cemas Rain tidak bisa mengontrol diri.
Selanjutnya Nathan memilih diam. Memutar playlist kesukaan Kayla dari handphonenya. Memfokuskan pandangannya pada jalanan yang sudah tidak terlalu ramai. Berharap dalam hati, Rain tidak melakukan hal yang Kayla takutkan.
01.28 am, di depan rumah Kayla
“Makasih banyak, Nat. Lo baliknya hati-hati ya, jalanan udah sepi, gelap.”
Tapi sebelum Kayla melangkah masuk ke dalam rumah, tangan Nathan dengan cepat memutar tubuh pacarnya untuk dia dekap dalam pelukan. Kayla terkejut.
“It's oke to be worried sometimes, babe. It's oke to showed it to me. Aku tau kamu khawatir.”, Nathan berkata halus dan tenang. Tangannya naik turun di punggung kecil Kayla, gadisnya. Berharap bisa membuat Kayla merasa nyaman dan tenang.
Berhasil. Tidak lama setelah sama-sama terdiam, Nathan bisa mendengar Kayla mulai terisak di dadanya. Tangan gadis itu mengerat di pinggang Nathan. Perih. Nathan tahu rasanya.
Langit malam dan semua serangga di halaman rumah Kayla saat ini mungkin sedang terenyuh. Menyaksikan bagaimana seorang laki-laki mencoba terus menenangkan pasangannya yang sedang mengkhawatirkan laki-laki lain. Nathan tidak peduli. Nathan hanya mau gadisnya tenang dan bahagia. Apapun tidak masalah jika itu Kayla.
“What if, they do the things, Nat? I know we're 22, but my heart still hurts just thinking it might happen. Sorry for being abnormal.”, Kayla mengangkat kepalanya, menatap dalam sorot mata tenang di mata pacarnya, Nathan.
Nathan tersenyum, tangannya memegang kedua pundak Kayla lembut. Membenarkan posisi jaketnya untuk menutup kembali pundak Kayla yang terbuka.
“They won't do it. Dengar aku, Kayla. Rain bukan tipe laki-laki yang gampang melarikan diri ke minum-minuman itu. Kayak yang aku bilang tadi, untuk sekarang Rain nggak punya alasan untuk mabok, seriously. Aku tau kamu juga paham gimana Rain. Kalaupun bener apa yang dibilang Amel, just thinking it won't happen. Maksud aku, kamu jangan langsung kecewa atau marah atau gimana-gimana ke Rain maupun Mentari. Kamu bisa tanya pelan-pelan. They won't lie. Aku yakin.”, Nathan mengangkat dagu Kayla. Menatap balik mata gadisnya yang sudah mulai berhenti mengeluarkan air mata. Tangannya menghapus jejak basah di pipi Kayla dengan lembut.
Kayla mengangguk. Mendengarkan semua tutur kata Nathan dan menyimpannya di memori otaknya. Kayla harus percaya Rain maupun Mentari pasti tau batasan mereka.
Nathan tersenyum lagi. Paham bahwa Kayla sudah mulai tenang. Masih dengan posisi saling memeluk, Nathan bertanya pelan, “Kay, pipinya jadi ada garisnya. Jejak air mata kamu.”
“Gemes. Mau cium.”, Kayla tertawa setelah Nathan mengucapkan itu dengan nada yang sedikit tertahan. Antara gugup dan benar-benar gemas mungkin?
Setelah Kayla mengangguk, bermaksud memberi izin Nathan, laki-laki itu memegang dagu Kayla dan mendaratkan bibirnya di pipi Kayla. Cukup lama. Nathan membiarkan Kayla merasakan seberapa besar rasa sayang yang dia punya untuk dirinya.
Kayla berjinjit, memeluk leher Nathan agar laki-laki itu tidak terlalu jauh untuk menunduk mencium pipinya.
Tapi ternyata yang Kayla lakukan membuat posisi mereka saat ini terlihat ambigu. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan bahagia yang sedang berciuman penuh kasih sayang.
Dan dengan kesadaran penuh, Rain melihat itu. Tangannya reflek memundurkan mobilnya setelah mencerna apa yang terjadi di depan rumah sahabat tercintanya. Niatnya untuk pulang ke rumah setelah mengantar Mentari yang mabok ke apartementnya, dia batalkan.
Rain dengan cepat memutar balik stirnya. Hatinya sakit, dan dia butuh pelampiasan.
-hhaolimau_