478. into Rain

“APA LO?? LO MAU NGAPAIN?” Jerit Kayla sedikit dipelankan agar tidak menganggu beberapa pengunjung dan pasien yang masih menikmati lalu-lalang angin di udara.

Tubuhnya ditarik berdiri oleh Rain menuju tengah halaman rumah sakit ini. Memang benar kata Nathan, pemandangan di sini sangat nyaman dan indah. Bahkan Kayla yakin beberapa kupu-kupu yang terus terbang beriringan mengelilingi bunga-bunga di sini tidak memiliki keinginan untuk beranjak pergi.

“Sumpah deh, Rein, jangan dangdut. Lo mau ngapain?” Kayla melepas genggaman tangan Rain. Berdiri berhadapan dengan laki-laki yang mencuri hatinya sejak waktu yang Kayla sendiri tidak tahu kapan.

Rain tertawa kecil melihat wajah galak yang Kayla tunjukkan untuknya. Galak, judes, tapi lucu. Matanya bahkan ikut tersenyum karena melihat Kayla dengan ekspresinya saat ini.

“Mau jujur-jujuran. Ayo. Main truth or dare aja gimana? Tapi hapus darenya, jadi truth aja.”

Kayla menepuk lengan atas sebagai bentuk protesnya. “Mana ada truth or dare tanpa dare, onyon!”

Mendengar itu Rain justru tertawa. “Jangan ngomel dulu. Lucu banget.”

“Rein demi Tuhan, lo kesambet apa anjir?” Kayla melotot heran. Benar-benar heran akan kelakuan sahabat kecil yang biasanya selalu mengejek dan membuatnya kesal. Ini Rein serius kenapa sih? Dia beneran mau ngomong jujur? Sekarang? Di rumah sakit?

Tawa Rain terbit lagi. Entah, apa mulai sekarang omelan dari Kayla akan menjadi salah satu alasannya tertawa?

“Dek, kalian berdua anak kembar ya? Mirip banget, meski nggak identik sih.” celetuk seorang perempuan muda yang sepertinya sedang menjaga ayahnya yang sedang sakit dan duduk di kursi roda.

“Eh bukan, mba. Ini pacar saya. Hehe, mirip ya?” sahut Rain dengan mudahnya tanpa memikirkan bagaimana ekspersi Kayla ketika mendengar itu.

“Oh pacar toh? Wah, semoga langgeng ya, dek. Cocok.” Perempuan itu menunduk sedikit bermaksud untuk masuk lebih dulu ke dalam gedung rumah sakit karena langit yang semakin gelap.

Kayla memukul keras lengan Rain setelah memastikan tidak ada lagi orang di sekitar mereka. Lengkap dengan matanya yang menatap Rain sinis.

“Gue pacarnya Nathan! Enak aja lo ngaku-ngaku! Lo beneran suka ya sama gue?” sinis Kayla sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Ini truth pertama dari lo? Oke, gue jawab.”

Iya ... beneran suka. Suka banget.” Jantung Rain berdegup kencang ketika mengatakannya. Tatapannya mengunci mata Kayla. Rain tersenyum cerah seakan mengatakan itu adalah hal yang sangat mudah. Padahal kenyataannya Rain butuh bertahun-tahun untuk akhirnya memberanikan diri mengakui perasaannya di hadapan Kayla.

Kayla terdiam. Tubuhnya reflek menahan nafas. Dirinya menatap balik mata yang sedang melengkung seperti bulan sabit itu untuk mencari satu titik kebohongan di dalam sana. Namun Kayla tidak berhasil menemukannya. Laki-laki ini sedang berkata jujur, dari hatinya.

“Pertanyaan pertama dari gue ... omongan lo tahun lalu pas mabok, bener cuma halusinasi?” Rain sama sekali tidak memutus tatapannya pada gadis cantik di depannya. Gadis cantik yang pipinya mulai sedikit memerah karena malu. Ya Tuhan, sejak kapan Kayla kalau kayak gini malah gemesin banget?

“Jujur, Kay. Inget, kita di sini untuk saling jujur. Itu permintaan Nathan tadi, kan ... .”

Kayla mengepalkan kedua tangannya, mengumpulkan keberanian dan menekan rasa malunya dalam-dalam. Sekarang atau tidak sama sekali, Kay. Kayla terus mengingat bahwa Nathan ingin melihat dirinya bahagia. Kayla terus meyakinkan dirinya bahwa Nathan tidak akan kenapa-napa seperti yang laki-laki itu katakan padanya tadi.

“Salah ... maksud gue, nggak bener. Itu bukan halusinasi.”

Kayla menunduk,menghindari tatapan Rain. Menggigit sedikit bibir bawahnya untuk menahan rasa malu yang benar-benar menggerogoti dirinya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat.

Sementara Rain tersenyum semakin manis. Tangannya memegang kedua bahu Kayla agar perempuan itu tetap berdiri menghadap dirinya.

“Please jangan pegang-pegang gue dulu. Gue salting.” Itu suara Kayla. Suara dari perempuan yang tidak pernah berubah sedikitpun di mata Rain. Masih selalu terus terang, masih selalu mengekspresikan dirinya jika di hadapkan dengan situasi seperti ini. Situasi yang memaksa dia harus tetap menjadi dirinya sendiri.

Rain tertawa renyah. “Kay, gerimis. Cepet gantian, tanya gue.”

Tangan Kayla mengadah ke langit dan benar saja, rintik hujan mulai turun membasahi telapak tangannya. Kayla beruntung tidak merasa kedinginan karena tubuhnya sedang memakai hoodie hitam yang diberikan Rain sejak sampai di Singapore.

Kayla mengangkat kepalanya kembali untuk menatap Rainnya. “Kenapa nggak confess dari dulu? Lo nggak tau gimana rasanya gue yang banyak overthinking karena mikir diantara kita, cuma gue yang punya rasa ini?” Kayla harus tahu alasannya. Apapun itu selama alasannya bukan karena Rain punya rasa dengan Mentari, Kayla akan terima.

“Gue takut. Alasan klise, gue tahu. Tapi emang kenyataannya gue nggak seberani itu untuk ngajak lo naik status dari sahabat jadi pacar. Gue takut lo marah atau malah ninggalin gue. Gue juga nggak pernah kepikiran kalau lo punya rasa yang sama kayak gue, lo kan, selalu acuh tiap orang-orang di sekitar bahas status kita.”

“Kayak lo nggak acuh aja!” geram Kayla seraya memukul lengan Rain, lagi.

“Jangan ngajak ribut dulu. Dengerin gue dulu sampai akhir. Satu lagi, jangan ketawa! Gue lagi serius.”

Kayla yang sudah ingin tertawa karena tidak terbiasa berada di situasi serius dan sedikit canggung dengan Rain saat ini otomatis membungkam mulutnya. Mengendalikan dirinya untuk tetap tidak terlalu mudah tertawa.

Rain tersenyum kecil melihat Kayla yang menuruti perkataannya, lalu melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus. “Nathan butuh lo lebih dari gue butuh lo, Kay ... Nathan sakit dan gue tahu dia suka sama lo sebelum dia tahu gue juga suka sama lo. Rasa sayang gue buat Nathan ternyata lebih besar dari rasa egois gue yang mau milikin lo. Apalagi sejak lo bilang lo nggak pernah suka sama gue lebih dari sahabat, gue tahu gue nggak punya kesempatan karena dari awal gue dateng di hidup lo sebagai sahabat ... .”

“Jadi satu tahun lalu, gue bener-bener milih untuk buang jauh-jauh perasaan gue buat lo. Karena hadirnya lo jadi semangat baru untuk Nathan sembuh, Kay.”

“Dan tentang Mentari ... gue sempet mikir kalau dia adalah hadiah yang dikirim Tuhan buat gue setelah gue relain lo sama Nathan. Gue sempet mikir, kalau lo bisa sama Nathan, berarti gue juga bisa sama Mentari. Tapi, akhirnya lucu, kan? Dia sepupu gue dan Nathan terus-terusan minta lo jujur sama diri lo sendiri. Karena Nathan sadar, Kay, setiap lo sama dia, Nathan nggak lihat lo yang biasanya. Nathan nggak lihat lo jadi diri lo sendiri ... .”

Tangan Rain menggenggam kembali kedua tangan kecil Kayla. Menggenggamnya penuh sayang. Tidak erat, tapi sangat cukup membuat Kayla nyaman dan merasa terjaga.

Kayla hanya diam mendengarkan semua perkataan Rain ditemani suara rintik hujan yang mulai terdengar kencang. Menerima satu fakta di otaknya, bahwa Rain menyukai dirinya sejak lama ... Selama ini, Kayla tidak jatuh sendirian.

Persis seperti keadaan langit saat ini, langit tidak akan pernah meninggalkan hujan sendirian. Begitupun sebaliknya. Langit tidak akan berpindah tempat saat hujan turun maupun saat air hujan kembali berkumpul di langit.

“Pertanyaan terakhir dari gue, Kay, lo masih suka sama gue? Atau hati lo udah milih Nathan sepenuhnya?”

Kayla menghela nafas berat. Memejamkan matanya sebentar untuk mencari jawaban dari lubuk hatinya. Mencari-cari, sebenarnya apa yang hatinya inginkan.

Pikirannya mendadak berjalan mundur. Semua kenangan yang ia lalui dengan Nathan terputar layaknya kaset musik favoritnya di rumah. Kayla selalu bersyukur karena dirinya dicintai laki-laki setulus dan sebaik Nathan.

Namun, pernyataan dari Nathan maupun Rain benar. Kayla memiliki batasan kasat mata yang tanpa sadar ia gunakan setiap bersama Nathan. Kayla sadar bahwa setiap bersama Nathan, bibirnya sering kali tidak luput dari membicarakan hal yang mungkin sebenarnya akan menyakiti Nathan, yaitu Rain. Kayla sering kali reflek menyebutkan atau membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan Rain dimanapun ia dan Nathan sedang berkencan.

Tapi, semuanya berbanding terbalik ketika ia bersama Rain. Kayla tidak merasa canggung sedikitpun. Kayla tidak merasa menjadi orang lain ketika di dekat Rain. Rain mampu membuat Kayla nyaman dimanapun mereka berbicara atau bercanda berdua.

Rain memang tidak banyak bertanya, Rain tidak sering menunjukkan sisi pedulinya, tapi Kayla tahu ada banyak hal yang Rain lakukan di belakang untuknya. Contohnya, tentang Nathan yang tiba-tiba tahu kalau ia memiliki pengalaman buruk di bioskop, atau tentang Kaje yang tiba-tiba mengajaknya nonton dan berjanji akan mentraktirnya. Kayla tahu semua itu ulah Rain.

Perkataan Kaje waktu lalu seketika lewat di kepalanya, kasih hati lo sama laki-laki yang emang lo butuhin afeksinya, yang dengan kehadirannya di sisi lo aja lo bisa tenang, yang bisa treat lo like a queen.

Iya, Nathan memang memperlakukan Kayla setiap saat seperti ratu dari kerajaan, tapi Nathan tidak bisa memberikan afeksi dan kenyamanan yang Kayla butuhkan. Dan perasaan tidak pernah bisa dipaksa untuk berubah.

Kayla menarik nafasnya lebih dalam. Mencoba mengikut apa yang hatinya inginkan. Lalu setelahnya ia membuka matanya untuk menatap laki-laki berparas pangeran di hadapannya.

“I just like you, from the first, Rein. Nathan emang baik. Gue sayang Nathan sebagai sahabat gue. Tapi kenyataannya, hadirnya Nathan, bahkan Mentari, nggak bikin gue lupa rasanya kupu-kupu terbang di perut gue setiap lo natap gue kayak gini. Nathan nggak bisa bikin gue ngerasain perasaan aneh dan merinding nggak jelas kayak tiap sama lo.”

Selesai mengatakan itu, Rain tidak memberi kesempatan Kayla untuk bernafas lega sedetikpun karena Rain segera menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Memeluknya hangat di bawah dinginnya air hujan yang mulai turun semakin banyak dan cepat. Lalu membisikkan satu kalimat yang sukses membuat suhu tubuh keduanya menghangat, “I love you, Kaylani.”

Merinding, keduanya. Rain dan Kayla. Pada akhirnya, hari ini, di negara tetangga, di rumah sakit, atas permintaan Nathan tadi, keduanya berhasil merobohkan dinding bernama gengsi dan egois yang sebelumnya berdiri sangat kokoh di antara mereka berdua.

Terima kasih, Nathan. Terima kasih, langit dan hujan.

Pelukan Rain melonggar ketika mendapat beberapa notif chat dan telfon di handphonenya. Tangannya bergerak menyalakan handphone untuk mengecek isi notif tersebut dan setelah membaca chat dari Raga tubuhnya sontak menegang.

Tangannya dengan erat menggenggam tangan Kayla untuk mengikutinya berlari ke dalam gedung rumah sakit.

Ya Tuhan, tidak bisakah Engkau membiarkan langit dan hujan bersama tanpa petir?

-hhaolimau_