472. his request
Dokter sudah keluar dari ruangan Nathan setelah melakukan beberapa pemeriksaan ketika Nathan membuka matanya beberapa saat lalu. Orang tua Nathan pergi meninggalkan ruang rawat VIP anak semata wayangnya untuk mengikuti dokter menuju ruangannya.
Meninggalkan Rain dan Kayla bersama Nathan yang hanya bisa terbaring lemah. Senyum di wajahnya sudah hadir sejak ia menyadari Kayla terus menggenggam tangan kanannya dan juga Rain yang berdiri di sebelah kirinya.
“Ale, Raga?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Nathan setelah pandangannya menyebar mengelilingi ruangan luas ini.
“Ada. Lagi di bawah tadi, otw ke sini.”
Jawaban Rain mendapat anggukan pelan dari Nathan. Wajahnya sangat pucat. Kayla dan Rain bisa melihat kedua kakinya yang sedikit membengkak.
Tiba-tiba Nathan meringis kecil. Bekas jahitan di perutnya terasa begitu ngilu dan kepalanya sedikit pusing.
“Ada yang sakit? Bentar, bentar. Gue panggil dokter ya. Lo tahan, bentar aja.” Kayla sudah akan beranjak dari duduknya dan melepas tangan Nathan dari genggamannya, namun gerakannya tertahan.
Nathan tersenyum tenang menatapnya. Bahkan sedikit tertawa kecil. “Nggak. Kamu jangan gampang panik gitu dong, Kayla.”
Luruh. Kayla terenyuh. Matanya tiba-tiba berkaca, merasa bahagia akhirnya bisa melihat senyum tenang itu lagi.
“Aku minta maaf. Aku bikin kamu khawatir terlalu lama ya? Maaf ya, Kaylani.” Nathan menggenggam balik tangan gadis cantik di depannya dengan lebih erat.
Kayla menggeleng dengan sedikit ricuh. Nafasnya sedikit menggebu. “Enggak. Nggak perlu minta maaf. Gue nggak mau nanya sekarang tentang apa alasan lo ngumpetin sakit lo dari gue. Gue nggak mau nanya gimana ceritanya lo bisa begini padahal terakhir ketemu gue, lo cuma demam. Gue cuma mau lo sembuh, Nathan. Gue cuma mau lo kuat, lo bertahan. Lo udah janji nggak bakal ninggalin gue, ya, kan?” Suara Kayla melemah di akhir. Tenaganya butuh lebih banyak energi untuk melampiaskan semua emosi yang ia rasa.
Lagi, Nathan tersenyum tenang dengan bibir pucatnya. Mengelus tangan Kayla lembut. Tangan seorang perempuan yang membangkitkan semangatnya untuk berobat, untuk sembuh.
Namun tiba-tiba tangan Nathan bergerak mengambil tangan sahabatnya sejak SMA, Rain. Rain sempat terkejut. Dirinya sudah memutuskan untuk diam seribu bahasa, bermaksud memberi waktu untuk Kayla dan Nathan berbicara.
“Kay ... bisa dengarkan aku baik-baik dan percaya semua omongan aku sekarang?” Suara rendah dari bibir Nathan cukup menghipnotis Kayla untuk hanya fokus dan mendengarkan perkataan Nathan selanjutnya.
Begitu juga Rain. Laki-laki itu memindahkan posisi berdirinya menjadi duduk di pinggir ranjang pasien Nathan.
“Aku kangen banget sama kamu, Kay. Banget. Saking kangennya aku mimpiin kamu selama aku tidur ... .”
Nathan masih setia menatap mata coklat gadis dihadapannya. Mencoba meyakinkan Kayla melalui tatapannya kalau saat ini dirinya baik-baik saja. Meski mungkin Kayla tidak akan sepenuhnya yakin.
“Bagi aku, kamu itu lebih dari segalanya, Kay. Aku nggak pernah main-main tentang perasaan aku ke kamu. Aku nggak pernah bercanda setiap aku bilang kalau prioritas aku itu bahagianya kamu ... Kamu harus bahagia, Kayla. Dengan atau tanpa aku.”
“Tapi gue bahagia kalau ada lo juga. Lo nggak boleh ninggalin gue, tahu, kan?” Kayla menahan jatuhnya air mata yang mulai berkumpul. Kayla tidak boleh menangis. Apalagi di depan Nathan.
Nathan tersenyum, lagi. “Aku sangat-sangat bersyukur Tuhan kasih aku kesempatan untuk kenal kamu lebih dalam beberapa bulan belakangan, Kay. Rasanya bahagia. Aku bahagia karena dikasih kesempatan untuk bisa jadi salah satu alasan kamu ketawa setiap harinya.
Aku bahagia kamu mau memilih aku. Kamu udah bisa lihat aku di sini. Itu udah lebih cukup, Kay. Dan dari kesempatan yang Tuhan kasih itu, aku tahu satu hal .... aku tahu perasaan kamu buat aku nggak pernah berubah. Kamu menyayangi aku sebagai sahabat kamu. Kamu sayang dan menghargai aku karena kamu tahu itu kewajiban antar sahabat.
Di hati kamu, tempat spesial di sana, cuma milik satu orang, Kay. Milik Rain, sahabat kecil kamu.”
Nafas Nathan terdengar mulai lelah karena terlalu banyak menyeruakan isi hatinya.
Kayla meremat bajunya sendiri. Ia gugup. Pernyataan yang Nathan berikan tidak bisa ia sanggah sedikitpun, karena pada dasarnya hatinya memang masih untuk Rain. Bahkan setelah sakit yang laki-laki itu berikan dulu, Kayla hanya mempunyai Rain di hatinya.
Sementara Rain sedikit terkejut mendengarnya. Rain kira Nathan hanya dapat meraba perasaan dirinya untuk Kayla. Namun ternyata, Nathan juga dapat merasakan itu dari sisi Kayla. Nathan merasakan hati Kayla benar untuknya, untuk Rain. Padahal selama ini, Rain sendiri ragu akan fakta itu.
Tapi Nathan kelewat paham atas itu semua. Laki-laki ini, kelewat peka.
“Boleh aku minta sesuatu, Kay? Sama lo juga, Rain.”
Rain dan Kayla sontak mengangkat kepala mereka untuk menatap laki-laki paling tulus yang sedang terbaring dengan selang infus di tangannya dan selang untuk membantunya mengatur nafas di hidungnya. Bertanya melalui tatapan mereka, iya, apa Nathan?
“Di belakang rumah sakit ini, ada halaman bagus. Cantik banget apalagi sore-sore begini. Aku beberapa kali pernah ke sana setiap check up dulu.
Kalian belum pernah ngobrol serius berdua, kan? Ngobrol tentang kalian ... tentang hati kalian satu sama lain. Tentang perasaan kalian.”
Ketika kalimat permintaan Nathan bertemu titik, Kayla sudah menangis. Kayla tahu kemana arah pembicaraan Nathan. Pacarnya ini akan memintanya untuk jujur dengan hatinya sendiri lagi. Pacarnya ini ingin ia menuruti keinginan hati kecilnya sendiri.
“Nat, jangan mulai.” teguran terlontar begitu saja dari bibir Rain yang sedari tadi diam. Rain tidak ingin semua rasa egoisnya yang sudah ia hilangkan dulu terasa sia-sia. Rain tidak ingin pengorbanan dirinya untuk mengalah pada Nathan terbuang cuma-cuma.
Nathan tersenyum lalu menatap Rain penuh harap. “Makasih, Rain. Karena lo ngasih kesempatan gue buat bahagiain Kayla. Makasih karena lo ngasih kesempatan Kayla buat milih gue. But maybe it's ur turn. Mungkin ini balesan yang setimpal buat lo karena dulu lo berani mengorbankan perasaan lo buat sahabat lo?” Nathan tersenyum. Mengingat bagaimana Rain selalu menghindar setiap Ale dan Raga mewawancarai dirinya perihal perkembangan hubungannya dengan Kayla.
Nathan masih ingat dengan jelas Rain memberikannya list minuman dan makanan favorit Kayla bahkan sebelum ia dan Kayla berpacaran. Nathan ingat tepat sebelum ia dan Kayla pergi untuk menonton bioskop pertama kalinya, Rain memberitahunya tentang Kayla yang mempunyai pengalaman buruk di bioskop.
Nathan tidak pernah lupa bagaimana ributnya Rain setiap mengarahkan ia menuju tempat syuting Kayla setiap Nathan ingin menjemput Kayla. Nathan tidak pernah lupa tentang Rain yang selalu mengingatkannya sebelum ia pergi bersama Kayla untuk menjaga jarak dengan orang merokok dimanapun itu, karena Kayla akan langsung terbatuk-batuk jika menghirup asap rokok. Nathan tidak pernah lupa membawa sandal cadangan di mobilnya karena hal itu mungkin akan dibutuhkan Kayla secara mendadak. Tentu, yang satu itupun merupakan saran dari Rain. Laki-laki yang diam-diam selalu memperhatikan setiap detail kebiasaan Kaylani.
Nathan melepas kedua tangan manusia di genggamannya. “Aku bener-bener mau kalian saling jujur. Aku bener-bener mau lihat kalian bahagia. Anggap gue nggak ada di sini, anggap gue sehat di Indo. Tolong, gue mohon. Jujur satu sama lain. Tolong untuk kali ini, kalian harus egois.”
Rain menangkap keseriusan dalam nada bicara Nathan. Rain tahu mungkin ini satu-satunya cara agar Nathan tenang. Rain tahu mungkin ini cara terakhir Rain untuk membuat Nathan bahagia. Rain tahu Nathan tidak pernah main-main setiap mengucapkan 'bahagianya Kayla adalah prioritas gue'.
Jadi, demi Nathan, Rain akan egois hari ini. Rain akan perlihatkan kepada Nathan kalau Kayla akan bahagia dengannya. Ia menarik tangan Kayla di sisi ranjang satunya dan mengajak gadis itu keluar. Menuju halaman belakang yang dimaksud Nathan.
Sebelum menutup pintu, Kayla menolehkan lagi kepalanya untuk melihat Nathannya.
Laki-laki itu menggerakkan bibirnya tanpa suara, “Nggakpapa, Kay. Aku bahagia lihat kamu sama Rain bahagia.”
Lalu setelah memastikan Nathan benar-benar berhenti bicara dan mulai tersenyum, Kayla menutup pintu dan menggenggam balik tangan Rain, melangkah pasti menuju halaman belakang.
Ruangan ini tiba-tiba terasa sedikit mencekam untuk Nathan. Sunyi. Sangat. Nathan benci. Matanya memejam dengan air mata yang mengalir haru di kedua matanya.
“Gue titip Kayla, Rain. Gue tahu lo bisa jaga dia lebih baik dari gue.”
-hhaolimau_