41, fall?

“Jadi sebenernya kenapa lo nggak berani ngelepasin diri dari ikatan bokap lo?”, itu suara Rain. Laki-laki yang saat ini sedang duduk santai di sofa kamar hotel 345, kamar yang sama dengan pemiliknya yang masih sama dengan kemarin. Rain memutar pelan gelas wine di tangan kanannya

“Ya, karena aku nggak berani. Lagian kalau aku lepasin diri, aku harus kemana coba? Ancaman papa yang bakal blacklist aku dari pewaris perusahaan itu nggak main-main. Dan untuk saat ini, hidup aku masih tergantung sama papa dan perusahaannya.”, perempuan yang memiliki kunci kamar ini, Mentari. Menyesap wine di tangannya. Menikmati efeksi ringan yang diberikan minuman tersebut di otaknya. Dengan tangan kirinya yang memainkan beberapa hasil foto pola dirinya dan Rain di photobox tadi. “Kenapa lo nggak coba ngembangin bisnis atas nama lo? Maksud gue, lo pasti dapet royalti yang nggak kecil kan selama kerja di perusahaan papa lo. Lo sebenernya bisa aja kok mulai usaha baru dengan uang tabungan lo sendiri.”, Rain menjeda kalimatnya, “Itu pun kalo lo berani sih. Karena pasti nggak mudah. Kecuali lo pinter main saham.” “Jangan kebanyakan minum, ntar lo teler kayak kemarin, gue yang repot.”, tiba-tiba Rain sedikit memajukan badannya untuk mengambil gelas di tangan Mentari, tapi perempuan itu menghindar. “Kadar alkoholnya nggak tinggi. Minum aja yang banyak. Kamu pasti masih sadar sampai kamu keluar dari sini.”, Mentari melanjutkan meminum gelas di tangannya sampai habis. Rain tersenyum. Lalu kembali mengambil gelasnya dan menuangkan wine.

“Terus lo sampe kapan di London?”, Rain bertanya sambil terus memperhatikan gerak-gerik Mentari yang sepertinya sedikit tidak seimbang seperti sebelumnya. “Sampai semua klien setuju diajak kerjasama. Sampai papa bilang, kamu boleh pulang.”, Mentari berbalik memperhatikan Rain yang masih asik menghabiskan wine di gelasnya. Sampai Mentari mulai menyadari, tatapan laki-laki di depannya tidak sehangat sebelumnya. Rain mulai mengucek matanya, pandangannya mulai tidak fokus.

“Ta, coba lo cek kadar alkoholnya deh. Kok gue pusing ya. Gue nggak terlalu kuat soalnya sama yang kadar alkoholnya tinggi.”, Rain mulai beranjak membaringkan tubuhnya di sofa. Memegang kepalanya yang mulai terasa pusing. Aduh, Rain itu gayanya doang keren, tapi paling nggak kuat sama kadar tinggi alkohol. Kayla jauh lebih kuat dibanding dirinya.

Mentari, yang sebenarnya sudah mulai oleng, mengambil botol wine lalu mengeceknya, “12%. Tapi tadi kamu minum 2 gelas.”

“Shit. Tolong ta, ambil handphone gue, telfon Nathan, suruh jemput gue.”, Rain bergerak lemah mencoba mengeluarkan handphone di saku kemejanya. Klik link below for the song

Sialnya, ketika Mentari mendekat untuk mengambil handphone Rain, kakinya tersandung oleh kaki meja dan membuatnya semakin oleng hingga terjatuh tepat di atas wajah Rain.

Sebut ini bisikkan setan, tapi Rain yang sebenarnya tidak mempunyai otak kotor seperti Ale malah bergerak posesif menahan pinggang Mentari untuk tetap di atas dirinya.

“Ta, gantian ya?”, tidak ada maksud izin, jadi setelah mengatakan itu, Rain meraih dagu Mentari untuk dia sapa dengan bibirnya. Meski sebenarnya terkejut, tapi Mentari Jujur dengan hatinya lalu mulai memejamkan matanya. Mentari merasa nyaman. Mentari merasa aman. Kepalanya memutar memori 8 jam yang lalu, ketika senyum laki-laki ini selalu mengambil fungsi titik di setiap akhir kalimat di bibirnya.

Tidak ada pergerakan beberapa saat, sampai akhirnya Mentari bergerak ingin berdiri dan menyudahi ciumannya. Tapi Rain malah menarik tangan Mentari dan menggeser cepat badannya. Berbagi sofa yang tidak besar itu dengan perempuan asing yang baru 2 hari ini dia hafal namanya. Lalu kembali mencium bibir merah di hadapannya dengan lembut.

“Rain, di sini sempit.”, Mentari menahan gerakan Rain dengan mengelus pelan rahangnya yang sedikit mengeras. “Ayo ke kasur.”, laki-laki itu bergerak cepat menggendong Mentari dan membaringkannya di kasur. “Rain please, jangan berbekas, besok aku ada meeting”, Mentari berbisik lembut di telinga laki-laki yang kini mendekapnya erat dan terus menciumi seluruh wajah dan lehernya. “Hmm.” Ya Tuhan, bolehkah Mentari merasa bersyukur?

Laki-laki asing ini, mendengar ceritanya dengan baik, mendengar tawa dan keluhannya dengan tulus, mendengar hidupnya yang sebelumnya tidak pernah dia bagi dengan orang lain, memberikan dia beberapa nasihat dadakan yang membuat dirinya lebih baik. Laki-laki ini membuat dia akhirnya merasakan bagaimana rasanya “didengar”.

Biarkan Mentari melakukan hal yang sangat dilarang papanya sekali ini saja. Biarkan Mentari berhenti memikirkan perkerjaannya kali ini. Biarkan Mentari merasakan dekapan hangat yang dia impikan. Biarkan Mentari tidur dengan tenang tanpa dengar suara keributan malam ini. Biarkan Mentari bermimpi tanpa diselimuti suara tangisan mamanya.

Biarkan musim panas di London tahun ini menjadi saksinya,

Mentari luluh di bawah kendali hujan, Rain-nya, dengan tiba-tiba, tanpa peringatan, tanpa undangan, tanpa tanggungjawab. Tapi, Mentari suka.

-hhaolimau_