400. sin

Mentari duduk sendirian di ruang rawat inapnya dengan televisi yang menyala di depannya. Entah acara apa yang sedang ditayangkan saat ini, Mentari tidak terlalu memperhatikannya.

Setelah makan siang tadi, Rain meninggalkan rumah sakit untuk segera menuju kantor ayahnya dan Raga juga sudah pergi ke kantornya sejak pagi hari tadi.

Lamunan Mentari buyar saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Sosok perempuan paruh baya berwajah cantik dengan setelan jas yang terlihat elegan melangkah masuk ke dalam disertai senyum manis di bibirnya.

Dan Mentari mengenali siapa perempuan ini melalui senyumnya yang khas. “Eh, Tante, udah dateng, ya.”

Perempuan yang Mentari panggil tante itu menyapa balik Mentari dengan menggenggam sebelah tangannya. “Hehe iya nih, Mentari. Tante taruh buahnya di sini, ya. Maaf nggak bawa banyak, sayang.”

Tangan kiri Tante Reta atau yang Mentari kenal sebagai Bunda Rain ini, mengangkat parsel buah untuk diletakkan di atas meja.

Tante Reta mengambil kursi di samping ranjang Mentari. Senyum di wajahnya bahkan tidak luntur sedikitpun sejak pertama kali ia melangkahkan kaki ke dalam kamar.

“Mentari..., ya ampun, anak cantik. Mentari masih ada yang ngilu badannya? Masih susah bergerak ya? Atau sudah enakkan? Udah 6 hari ya di sini?”

Mentari terhenyak seketika. Hatinya menghangat mendengar rentetan pertanyaan dari perempuan yang masih asing ini. Namun di sisi lain, Mentari merasa sangat sedih. Bagaimana bisa pertanyaan semacam itu bukan dilontarkan oleh mamanya sendiri? Ah, bahkan Mentari sedikit lupa dengan fakta bahwa Mama Elsa bukan mama kandungnya.

“Hehe iya Tante, udah mulai enakkan kok badannya. Tante, apa kabar?”

“Kenapa, sayang? Ada yang sakit? Pusing? Kamu kok nangis?”

Tante Reta bingung, sangat. Ketika pertama kali melangkahkan kakinya ke dalam ruang rawat ini dan melihat Mentari menyapanya dengan senyuman, ia kira perempuan ini benar-benar perempuan yang kuat dan ramah. Namun, baru 5 menit ia mengistirahatkan dirinya di kursi pembesuk, perempuan cantik di depannya sudah meneteskan air matanya. Tangannya di genggam lebih erat oleh Mentari.

“Tante, Mentari minta maaf. Maaf, Tan. Maaf karena Mentari, hidup Rain jadi nggak sedamai sebelumnya.” Mentari bergerak untuk mencium telapak tangan Tante Reta sebelum pipinya mulai basah karena air mata yang terus mengalir.

Mendengar perkataan itu, Tante Reta bergerak cepat untuk mengangkat kepala Mentari dari tangannya dan memeluk tubuh perempuan yang tidak sepenuhnya salah. Kesalahan ini bukan hanya karena Mentari, tapi juga karena anaknya, Rain Ragastama.

“Dengar Tante ya, Mentari. Semua ini bukan hanya salah kamu. Kesalahan Rain jauh lebih besar. Rain bahkan bikin kamu merasakan sakitnya kehilangan bayi di kandungan kamu..., Tante benar-benar minta maaf atas apa yang Rain perbuat ke kamu, Ta. Tante minta maaf...,”

Tangan Tante Reta tidak berhenti mengelus punggung sempit Mentari, mencoba menenangkan perempuan yang tangisnya terdengar makin pilu.

Tante Reta tidak tahu bagaimana kehidupan Mentari, Tante Reta tidak tahu apa yang sudah Mentari lewati sampai ia ada di titik ini. Tapi, melihat Mentari yang seperti ini, Tante Reta dapat merasakan bahwa ia lelah. Tangisan Mentari benar-benar terdengar seperti sebuah pelampiasan yang sudah lama ia pendam sendiri.

“Nggakpapa, sayang. Nangis aja sampe puas ya. Nggakpapa, Tante nggak...”

“Mama? Dateng sekarang? Aku kira sore.”

Kalimat Tante Reta terputus begitu saja saat tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan Mentari menyapa orang yang baru masuk tersebut dengan sebutan 'mama'.

Tante Reta melepaskan pelukannya pelan-pelan lalu melakukan hal yang sama dengan Mentari, menghapus air mata dan mengambil nafas panjang.

“Iya. Mama nggak tau kalau kamu kedatangan tamu. Ini sia..., Reta?”

Detik itu, dunia Tante Reta maupun Ibu Elsa mendadak seperti berhenti berputar. Semua oksigen seakan tertarik dengan keras dan cepat je dalam perut bumi. Memori keduanya bergerak secara konstan untuk mengumpulkan kenangan masa kecil yang mulai hilang. Keduanya terdiam cukup lama lalu tanpa sadar mata keduanya mulai berkaca-kaca.

Mentari terpaku. Dirinya terdiam seribu bahasa. Perasaannya sedikit tidak enak ketika melihat ada bulir air mata yang mulai menetes di pipi mamanya. Menanti dan berharap diam-diam dalam hati bahwa tidak akan ada takdir yang lebih buruk dari dia yang kehilangan anak dalam kandungannya di usia yang sangat muda. Ada apa lagi ini?

“Rita, kamu benar-benar masih hidup. Rita, aku..., aku cari kamu kemana-mana sejak belasan tahun lalu...,” Suara Tante Reta terputus oleh gerakan cepatnya untuk memeluk mamanya. Mama Elsanya Mentari.

Rita? Masih hidup? Ini semua apa?

Kepala Mentari mendadak pening. Apalagi ketika melihat mamanya, yang bernama Elsa, sama sekali tidak menyanggah panggilan nama yang disebutkan Tante Reta. Bahkan mamanya memeluk balik Tante Reta dengan erat, lengkap dengan suara tangisannya yang mulai terdengar.

“Rita? Rita siapa? Kenapa mama sama Tante Reta pelukan? Kenapa nangis? Kalian udah saling kenal? Ini, ada apa sih?” Mentari mulai menangis ketika melontarkan semua pertanyaan itu. Akalnya tidak bisa mencerna dengan baik.

Pelukan kedua perempuan paruh baya itu terlepas. Lalu mamanya menggenggam sebelah tangan Mentari lembut. “Tante Reta ini, saudara kembar Mama. Kita terpisah sejak umur 14 tahun.”

Iya, kedua perempuan yang masih menatap haru satu sama lain itu sebenarnya adalah saudara kembar. Mereka dipisahkan dengan terpaksa karena orang tua mereka yang bercerai, lalu kehilangan kontak satu sama lain sejak saat itu. Saat mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Mentari sudah hampir pingsan memikirkan kesimpulan dari fakta di depannya. Apa katanya? Saudara kembar? Bundanya Rain?

Menyadari wajah Mentari yang semakin basah karena terus menangis dan terlihat bingung, Tante Reta yang sudah mulai berhenti menangis itu menyadari suatu hal.

Jika Mentari adalah anak Rita... Ya Tuhan, berarti anakku melakukan hubungan terlarang dengan sepupunya?

Hancur. Itu yang di rasakan Mentari dan Tante Rita sadar akan itu semua. Tangannya menggenggam kembali tangan Mentari, bermaksud menguatkan perempuan itu agar tidak pingsan menghadapi kenyataan di depannya.

“Ma, Rain..., Rain..., Ma..., Rain, anak Tante Reta. Tante ini..., Tante Reta ini, bundanya Rain, Ma....,” ujar Mentari dengan terbata-bata. Kedua tangannya berusaha melepaskan genggaman Tante Reta, ia ingin mengepalkan tangannya untuk menahan emosi dan rasa sakit di dadanya.

Plak.

Suara tamparan. Mentari yang menjadi korbannya dan Mama Elsa pelakunya. Mama Elsa menampar anaknya sendiri di depan Tante Reta, saudara kembarnya.

Tante Reta yang terkejut akan hal itu sontak bergerak memeluk erat Mentari di dekapannya. Bermaksud untuk melindungi Mentari.

“UNTUK APA KAMU TAMPAR ANAK KAMU SENDIRI, RITA?” Suaranya meninggi. Tante Reta benar-benar tidak menyangka kalau saudara kembarnya bisa bersikap kasar kepada anak perempuan semata wayangnya. Bahkan Tante Reta saja tidak pernah bermain tangan terhadap anaknya, Rain.

“Dia melakukan hal yang sangat terlarang, Re. Bahkan dengan sepupunya sendiri! Ya Tuhan, Mentari! Apa ini balasan kamu untuk Mama?”

“Tapi aku bukan anak kandung Mama, kan? Ak-aku, aku nggak mungkin sepupuan sama Rain. Kata Papa aku bukan anak Mama, kan.”

Untuk kali ini, hanya untuk kali ini, Mentari berharap sungguh-sungguh kepada Tuhan bahwa benar ia bukan anak Mama Elsa. Mentari akan sanggup menerima fakta itu dengan lapang dada dibanding dia harus menerima fakta bahwa lelaki yang menjadi cinta pertamanya, yang dia cintai selama ini adalah sepupunya.

Tangisannya benar-benar pecah. Ketiganya. Tidak satupun dari perempuan di ruangan ini yang tidak menangis pilu dan bingung. Perih.

“Papa nggak tau ini, Ta. Tapi kamu benar anak Mama. Mama kamu ini, Mama Elsa yang mempunyai nama asli Rita ini, adalah mama kandung kamu, Nak. Maafkan Mama.”

Mama Elsa atau yang mulai saat ini kita ketahui nama aslinya adalah Rita, mengambil nafas panjang, bersiap untuk bercerita kisah kelamnya di masa lalu, membuka luka lama dalam dirinya.

“Mama ditelantarkan kakek kamu saat Mama berumur 14 tahun, di pinggir jalan. Tepat satu tahun setelah kakek dan nenek kamu bercerai. Nenek kamu hidup lebih bahagia dengan Tante Reta dan berbanding terbalik dengan Mama yang hidup di panti asuhan. Mama mengganti nama Mama sejak di sana. Mama tidak ingin keluarga besar kakek kamu mencari Mama.

Selama hidup di panti, Mama hidup mengandalkan kemampuan Mama dalam bidang pendidikan dan sosial sampai Mama akhirnya mendapat beasiswa selama sekolah dan panggilan seminar ke luar negeri.

Di New York, Mama melakukan kesalahan yang sama dengan kamu saat ini, Ta. Saat itu hidup di New York memang tidak asing lagi dengan berhubungan seksual sebelum menikah. Sampai akhirnya Mama mengandung anak pacar Mama, kamu. 9 bulan Mama dan pacar Mama menunggu kamu dengan penuh cinta. Laki-laki itu berjanji akan menikahi Mama setelah kamu lahir.

Perempuan paruh baya yang Mentari panggil sebagai Mama itu menjeda kalimatnya karena mulai menangis terisak-isak.

Tante Reta, saudara kembar mamanya, bunda dari Rain, memberikan tisu dan usapan kecil di punggung Mamanya.

“Tapi setelah kamu lahir, dia pergi, Ta. Dia meninggalkan Mama sendirian di New York dengan kamu yang saat itu masih berumur 1 pekan. Mama kacau, Ta. Mama bingung dan nggak tau harus apa. Mama nggak bisa mengaku ke Ibu Raya tentang apa yang terjadi di New York. Jadi, saat itu, Mama titipkan kamu di salah satu panti asuhan di sana. Lalu Mama pulang ke Indonesia.

Maafkan Mama, Ta. Mama memang pengecut. Maafkan Mama. Ini adalah dosa besar Mama yang selama ini Mama simpan sendiri. Maafkan Mama karena telah menelantarkan kamu di sana sendirian selama 6 bulan.

Ketika kembali ke Indonesia, Mama bertemu dengan Papamu. Papamu menikahkan Mama dengan jarak waktu yang cepat karena Oma mengancam Papa tidak akan mendapatkan warisan jika saat itu ia belum memiliki pasangan sah. Itu alasan kenapa Papa selalu kasar sama Mama, karena dari awal dia tidak pernah mencintai Mama, Ta.

1 bulan setelah menikah, Papa mengajak Mama ke New York untuk urusan bisnis. Saat itulah Mama akhirnya bisa mengambil kamu kembali dengan alasan mengadopsi anak panti, Ta. Mama tau yang Mama lakukan salah, tapi sejak Mama tau kamu ada di kandungan Mama, Mama tidak pernah sedikitpun berpikir untuk membuang kamu. Kamu anak kandung Mama, Ta. Darah daging Mama.

Maafkan kesalahan Mama. Maafkan Mama yang nggak bisa menjaga kamu dengan benar. Maafkan Mama mempertemukan kamu dengan sosok Papa yang sangat buruk. Maafkan Mama untuk semua derita yang kamu alami selama ini, Ta.

Tangisan Mentari semakin kuat. Ia mencengkram erat pergelangan tangan Tante Reta. Tubuhnya bergetar menandakan bahwa semua fakta itu sangat mempengaruhi dirinya dan mentalnya. Mentari tertampar, sangat keras dan sakit. Lebih sakit dari pukulan papanya yang ia terima selama ia hidup.

Mama Elsa, atau mulai saat ini, sebut saja Mama Rita, memeluk anak perempuannya yang sangat terpukul. Tangannya mengusap punggung Mentari terus menerus.

Mentari tidak habis pikir. Akalnya bahkan tidak sampai lagi untuk berpikir jernih.

Semua fakta yang Mentari terima mengingatkannya pada semua kejadian yang ia lalui 5 bulan belakangan.

Tentang Mentari yang bertemu tidak sengaja dengan Rain dan langsung merasa akrab untuk bercerita. Tentang Mentari yang patah dan selalu dipertemukan Tuhan dengan Rain. Tentang Mentari yang selalu menjadikan Rain tempat ternyamannya untuk pulang. Tentang Mentari yang bertemu kembali dengan teman SMPnya.

Tentang Mentari yang mabuk dan melakukan hubungan terlarang dengan Rain. Tentang Mentari yang hamil. Tentang Mentari yang berhasil mendirikan perusahaannya dengan bantuan Rain dan Raga. Tentang Mentari yang kecelakaan dan selalu ditemani Rain dan Raga selama di rumah sakit. Tentang Mentari yang...., mencintai sepupunya sebegitu besarnya.

Mentari hancur. Sepenuhnya hancur. Satu bulan ini rasanya seperti semesta marah padanya karena kehadirannya yang mengganggu bahagianya seorang langit.

Mentari menangis pilu, hatinya sangat sakit. Bahkan semua tubuhnya terasa sakit. Sampai bibirnya tidak bisa lagi mendeskripsikan rasa sakitnya seperti apa.

Matanya memang penuh dengan air mata, tapi Mentari bisa menangkap adanya bayangan orang lain di pintu ruangannya yang sedikit terbuka. Corak sepatunya terlihat dan Mentari tahu pasti itu siapa.

Tangan Mentari berpindah posisi untuk memegang tangan Tante Reta. Ia menarik nafas panjang, berusaha mengatur tangisannya untuk berhenti.

“Tante Reta, salam kenal ya. Mentari seneng akhirnya punya tante kandung. Maafin Mentari ya, Tante.”

Sebelum air matanya kembali lolos, Mentari yakin untuk mengambil keputusan untuk dirinya dan masa depannya.

“Mentari cape banget, Ma, Tan. Mentari mau pulang.... Di sini sesek banget, sakit banget. Mentari izin pergi ya?”

-hhaolimau_