372. not allowed
Jarum jam dinding di tengah ruangan pasien nomor 321 ini sudah menempati angka 03.40 pagi dan Rain masih setia membuka matanya sejak tiba di sini semalam. Tubuhnya terduduk di sebelah kanan ranjang pasien sejak ia di sini, sejak operasi kecil yang dilakukan pada perempuan di depannya selesai.
Rain tidak tahu sejak kapan ia sudah merasakan bahwa akan ada hal buruk yang menimpa Mentari.
Dan benar saja, perempuan itu sekarang terkapar lemah dengan perban penutup luka di beberapa bagian tubuhnya. Entah apa yang sedang ada di pikiran Mentari ketika menyetir, sampai ia tidak menyadari bahwa lampu lalu lintas sedang berwarna merah dan ia tetap menerobos jalan. Sebelum bertabrakan dengan mobil lain, Mentari reflek membanting stir mobil dan tepat mengenai tiang besar di pinggir jalan.
Jadi di sini Mentari berakhir, dengan Raga, Pak Naka dan Rain yang masih menemaninya. Dengan keadaan Mentari yang penuh dengan perban di berbagai tubuhnya dan harus menjalani operasi kecil karena bagian kanan pinggangnya robek terbentur bagian mobil yang sedikit tajam.
“Rain....”
Suara lemah yang keluar dari mulut Mentari sontak membuat tiga laki-laki di sana mendekat ke ranjang pasien. Merapalkan syukur dalam hati karena akhirnya perempuan ini sudah sadarkan diri.
“Kenapa? Ada yang sakit? Mana yang sakit? Mau gue panggil dokter? Mau minum?”
Itu bukan suara dari nama yang disebut oleh Mentari. Itu suara dari teman SMP Mentari yang beberapa bulan belakangan memang turut andil menemani dan membantunya, Raga. Mentari tersenyum kecil menanggapinya. Gerakannya terbatas karena lehernya harus memakai neck collar.
Menyadari pertanyaannya yang kelewat beruntun, Raga menarik diri. Begitu juga Pak Naka. Memberi space untuk Rain dan Mentari berbicara berdua.
“Rain...”
“Iya, Ta, kenapa? Tidurnya enak? Atau ada yang sakit?” Rain mendekat untuk menggenggam tangan Mentari.
Mentari tidak menjawab pertanyaan itu, ia tiba-tiba meneteskan air matanya. Wajahnya sedih bukan main dan Rain ikut terenyuh sendu.
Raga dan Pak Naka yang menyadari situasi ini segera berinisiatif keluar dari ruangan pasien. Keduanya sama-sama paham bahwa mungkin pagi dini hari ini Rain akan membiarkan Mentari merasakan sakit yang lebih dari semua luka di tubuhnya.
Rain menghapus air mata yang terus membanjiri pipi perempuan ini. Tangannya di genggam semakin erat. Ya Tuhan, tolong kasih kekuatan lagi buat Mentari.
Mentari menggerakkan tangannya yang masih lemas untuk mengusap lembut perutnya. Sedikit meringis karena terdapat bekas jahitan di sana.
“Anak kita...., udah nggak ada, kan?”
Pedih. Rain tahu sebagai laki-laki seharusnya ia jauh lebih kuat, tapi ketika kalimat itu keluar dari bibir Mentari, air matanya ikut terjatuh membasahi pipinya.
Di saat langit masih diselimuti cahaya lembut bulan, Rain mengangguk pasrah. Hatinya pilu, sama dengan Mentari. Keduanya terluka dengan takdir ini. Mereka sudah melakukan kesalahan besar, namun kenapa mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertanggungjawab?
Rain menggenggam kedua tangan Mentari yang gemetar. Wajahnya yang sudah pucat semakin terlihat jelas.
“Aku..., apa emang nggak dibolehin bahagia, ya, sama Tuhan?”
Kali ini bukan hanya tangannya yang bergetar, tapi setiap kalimat yang keluar dari bibirnya juga menyiratkan bahwa Mentari lebih hancur lagi hari ini. Garis takdir yang diterimanya lebih berat lagi. Kehilangan anak yang bahkan belum ada satu bulan di perutnya, yang bahkan belum ketemu dokter kandungan, yang bahkan keluarga mereka belum ada yang diberi tahu.
Tangan Mentari mencengkram ujung lengan kemeja yang Rain pakai sejak dari Skylight kemarin malam,
“Hidup aku, berat, Rain. Aku..., sakit. Dada aku sakit. Aku cape, Rain. Please, bahkan anakku nggak diizinkan ada di dunia ini...,”
ucap Mentari dengan nada yang terputus-putus karena sibuk mengatur nafasnya, mulai sesak, dirinya terlalu banyak menangis sementara tubuhnya masih begitu lemas.
Air mata Rain tidak kalah deras dengan milik Mentari. Rain memajukan lagi tubuhnya untuk memeluk Mentari, perempuan cantik yang baru saja kehilangan satu hal yang ia kira akan menjadi cahaya baru di hidupnya.
“Rain, kali ini, aku boleh nyerah?”
Pertanyaan itu sontak membuat Rain memeluk Mentari lebih erat lagi. Menciumi seluruh bagian wajah perempuan itu penuh kasih dan juga penuh air mata sembari menggelengkan kepalanya.
“Nggak boleh mikir gitu ya, Ta. Gue di sini sama lo. Kita lewatin ini bareng-bareng ya. Lo nggak sakit sendirian, gue juga ngerasain yang lo rasain, Ta. Dia juga anak gue.
Lo harus tetep hidup. Lo harus tetep jadi Mentari yang kuat dan tahan banting. Nggakpapa sekarang nangis-nangis, gue temenin. Sumpah, jangan ngomong kayak gitu lagi, Ta. Cukup bayinya, lo jangan.”
Suara Rain bergetar. Sakit melihat Mentari sefrustasi ini. Sakit mengingat kalimat yang di ucapkan Mentari. Hukuman untuk keduanya datang terlalu cepat.
“Bahkan aku belum ajak dia banyak ngobrol 4 hari ini, Rain. Bahkan aku....,”
Kalimatnya tidak berlanjut. Mentari pingsan.
Plakk.
Suara tamparan kedua yang Rain dapat di pukul 07.10 pagi hari ini, tepat di depan pintu kamar rawat Mentari. Pelakunya masih sama dengan tamparan pertama yang ia terima ketika menyapa di awal tadi, Pak Gerry, papanya Mentari.
“Kamu buat dia hamil dan kamu juga yang membiarkan dia menyetir sendirian malam-malam?”
Tamparan ketiga sudah akan mendarat, namun ditahan di udara dengan tangan Pak Naka yang memegangnya. “Maaf Pak, tapi jika wartawan lihat perlakuan Bapak Gerry yang seperti ini, timeline berita bukan hanya tentang Ibu Mentari.”
Entah kalimat itu hanya sebuah alibi agar Rain tidak ditampar lagi atau memang dia khawatir dengan status sosial papanya Mentari.
Lalu setelahnya, Pak Naka bergerak sedikit mundur, berniat untuk berpamitan, “Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor, Ibu Mentari sudah bisa dijaga oleh Mas Rain, Mas Raga dan Ibu Elsa. Saya pamit undur diri lebih dulu, Pak.”
Pak Gerry mengangguk memberi izin lalu kembali menghadap Rain, kembali menatap arogan untuk menyidang laki-laki ini.
“Mentari memang bukan anak kandung saya, tapi dia akan mengacaukan segalanya jika wartawan tau dia hamil di luar nikah. Itu semua gara-gara kamu! Memang seharusnya saya tidak mengiyakan ketika Elsa berkeinginan mengadopsi anak itu di New York. Pembawa celaka.”
Rain tersenyum sarkah, bahkan bapak tua di hadapannya lebih peduli dengan urusan itu dibanding Mentari yang penuh luka di dalam.
“Saya tidak ada urusan dengan kamu. Saya hanya minta setiap kamu dan anak itu, Raga Bagaskara, mengunjungi Mentari, hindari kamera dan para wartawan. Tutup mulut kalian berdua. Mentari sudah keguguran, itu tandanya kamu sudah tidak ada ikatan apapun dengan dia. Begitu juga kamu, Raga.
Tinggalkan dia setelah dia keluar dari rumah sakit. Jauhi dia dan biarkan dia fokus dengan perusahaannya.”
Raga terdiam. Sejak tadi dia tidak sedetikpun melihat wajah Pak Gerry. Juga tidak mengeluarkan kalimat apapun dari mulutnya.
Pak Gerry benar-benar memiliki aura yang sangat kuat. Rain bisa merasakan itu. Rain mengerti kenapa Ibu Elsa dan bahkan Mentari tidak berani melawan perintahnya. Bahkan Raga yang mempunyai kebiasaan menatap orang ketika sedang berbicara, sepanjang Pak Gerry berbicara sejak datang tadi,. ia menghindari terjadinya kontak mata antara dirinya dan Pak Gerry.
“Meskipun Mentari bukan anak kandung Anda, apa Anda tidak bisa memperlihatkan kasih sayang Anda dengan Mentari? Mentari sejak kecil hidup dengan Anda. Mentari tidak butuh kekuasaan, dia hanya butuh kasih sayang, Pak.” Rain berdiri mengikuti Pak Gerry yang hendak membuka pintu kamar pasien.
“Sedang saya lakukan. Dengan menghentikan hubungan kamu dengan dia.”
Lelaki berumur yang masih mempunyai fisik gagah itu membuka pintu kamar VIP Mentari tanpa berniat untuk masuk menyapa anaknya.
“Elsa, kamu harus ikut saya rapat sekarang. Cepat.”
Dan seperti dugaan Rain maupun Raga, Ibu Elsa, tanpa berpikir panjang meninggalkan anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemah.
Namun sebelum berjalan menjauh, Ibu Elsa berbalik sedikit untuk menatap mata Rain. Tolong jaga Mentari buat saya.
-hhaolimau_