353. i'm broken and he there.
Kayla menghentikan mobilnya di pinggir jalan kota besar ini. Sudah berjam-jam setelah pulang dari apartemen Rain, Kayla tidak mempunyai niat untuk pulang ke rumahnya meski ia tahu tubuhnya sudah sangat lelah.
Ralat. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.
It's already 11.30 pm and she's forget to come home. She's forget where is her phone, she's forget her parents and Kaje yang mungkin saat ini sudah mulai cemas karena ia pergi tanpa menghidupkan mobile data handphonenya.
She's forget Ryu, Helen, even Nathan, her bf. Kayla hanya merasa ia harus menuntaskan semua emosinya di sini. Di tengah kota, berjalan sendirian dengan kaki kecilnya yang mulai luka karena lupa untuk mengganti high heelsnya.
Kayla meninggalkan jejak air mata di setiap langkahnya yang mulai tertatih. Wajahnya terkadang mengadah ke langit, mencoba mencari untuk alasan berhenti menangis. Tapi Kayla tidak bisa. Air mata dan hatinya tidak henti-hentinya merasa perih.
Biarkan malam ini Kayla mempertanyakan semua pertanyaan yang selama ini ia pendam sendiri pada langit.
Ya Tuhan, kenapa harus Rain? Kenapa harus ada Mentari? Kenapa Kay harus jatuh cinta sedalam ini sama Rain? Kenapa harus sahabat 19 tahun Kay? Kenapa Kay nggak bisa merelakan Rain jadi milik Mentari? Kenapa harus Rain yang melakukan kesalahan menjijikkan itu? Kenapa ya Tuhan? Kenapa Kay bahkan nggak bisa mencintai Nathan setulus laki-laki itu mencintai Kay?
Tolong, tolong ambil hati Kay jika rasanya memang sesakit ini, seperih ini. Tolong, hapus ingatan Kay tentang Rain. Kay nggak terbiasa, ya Tuhan. Kay nggak suka perasaan kayak gini.
Kakinya melemah dan akhirnya menyerah untuk melangkah lebih jauh. Dirinya terduduk lemah di pinggir taman kota. Beruntung tidak di pinggiran jalan yang ramai. Di sini lebih aman untuk menangis sekencang-kencangnya tanpa memedulikan orang lain.
Jadi Kay mengulang semua ingatannya tentang Rain selama 19 tahun ini. Tentang Rain yang selalu menjahilinya. Tentang Rain yang tidak pernah mengalah padanya. Tentang Rain yang labil dan bodoh. Tentang Rain yang selalu menjadi alasannya tertawa dan mencaci. Tentang Rain yang akhir-akhir ini lebih memikat hatinya.
Kayla bisa merasakan dadanya mulai sesak dan kepalanya mulai pusing. Tangannya merogoh sakunya berharap menemukan uang untuk membeli air minum, tapi nihil. Hanya ada kunci mobil di sana.
Sebelum Kayla menjatuhkan kepalanya di kedua lututnya yang terangkat di depan dadanya, Tuhan mengirimkan malaikat untuknya.
Nathan di sini. Nathan menemukannya di antara padatnya seluruh jalanan di Jakarta. Nathan memeluknya tanpa mengatakan apapun. Nathan ada untuknya, selalu begini.
Nathan mendudukkan dirinya di samping Kayla dan merengkuh lembut gadis itu. Meletakkan dengan hati-hati kepala gadis itu di pundaknya. Namun Kayla bergerak mendekat untuk memeluk erat Nathan, meletakkan kepalanya dan semua tangisannya di dada laki-laki itu.
Nathan terluka, ia sangat terluka melihat gadisnya sehancur ini. Nathan marah. Nathan tidak terima.
Dan seperti dugaannya, Kayla melanjutkan nangisnya di dalam pelukkan hangat Nathan. Meluapkan emosinya di sana. Membasahi hoodie Nathan dengan air matanya yang mengalir deras.
Nathan bisa merasakan sakitnya dari isakkan Kayla. Nathan merasakan sakitnya setiap Kayla bergerak ke kanan kiri untuk sekedar mengambil nafas.
Tapi yang bisa Nathan lakukan saat ini hanya menenangkan gadisnya, like he always do. Tangan kirinya mengusap lembut dan pelan punggung Kayla. Sementara tangan kanannya mengusap sayang rambut Kayla yang sudah tidak tertata.
Cara itu selalu ampuh. Tangisan Kayla mulai mereda.
“Aku nggak tau kamu mau dengerin aku ngomong sekarang atau nggak, tapi aku tetep mau ngomong. Hehe.”
Nathan sedikit tersenyum mengetahui gadis dipelukannya mengangguk kecil.
“Aku emang nggak tau rasa sakitnya sebesar apa, Kay. Aku nggak tau rasa kecewa dan marah kamu sebesar apa. Aku nggak tau sepatah apa hati kamu sekarang. Aku nggak masalah sekarang kamu mau nangis sepuas-puasnya. Aku seneng kamu akhirnya sadar dan jujur sama apa yang kamu rasain di hati kamu. Aku seneng kamu berani mengeluarkan emosi kamu dan sisi lemah kamu.
Tapi kamu harus tau kalau aku selalu di sini. Aku selalu bisa jadi tempat kamu pulang, Kay. You don't understand how much you really meant to me. Hampir 4 jam aku nyari kamu, Kay. Rasanya mau gila. Sumpah.”
Kayla mendengarkan semuanya. Bahkan jantung Nathan yang masih berdetak begitu cepat terdengar jelas di telinganya. Kayla mengeratkan pelukannya. Merasa sangat-sangat bersyukur Tuhan menghadirkan Nathan di hidupnya.
“Aku tau kamu kesakitan. Aku tau kamu perlu melampiaskan emosi kamu. Tapi mikirin hal itu ditambah aku nggak tau kamu dimana bener-bener bikin aku hampir gila. Ini Jakarta, sayang, dan kamu pergi sendirian sampai jam segini dengan kondisi handphone yang nggak tau dimana?
Aku bukan mau marahin kamu, Kay. Maaf kalau kamu nangkepnya aku marah. Tapi sebenernya emang ada marahnya sih, dikit.”
Kayla tersenyum kecil. Mengetahui bahwa dirinya seberharga dan sepenting itu dalam hidup orang lain membuatnya mulai melupakan sejenak lukanya tadi. Nathannya bahkan sudah bisa membuatnya tersenyum dalam waktu singkat setelah ia habis-habisan menangis.
“Aku nyari kamu sejak Rain bilang kamu ke apart nemuin Mentari. Tapi pas aku ke sana kata Mentari kamu udah pulang. Nomor kamu nggak aktif, mba Vera nggak tau kamu kemana. Ya Tuhan, Kay, 4 jam tadi rasanya beneran kayak moment hidup yang paling aku takuti.”
Tangan Nathan mengambil sebelah tangan Kayla untuk meletakkannya di dada kirinya. Detak jantungnya masih bersuara keras, tidak beraturan. Kayla rasa Nathan sempat berlari ke sana sini mencarinya.
“Ini karena kamu, Kay. Karena aku takut kamu pergi dan ninggalin aku sendirian.”
Kayla meletakkan tangannya di leher Nathan lalu memeluk erat laki-laki itu. Laki-laki yang menjadi malaikat di hidupnya. Laki-laki yang didatangkan Tuhan untuk mengobati lukanya.
“Nathan, makasih banyak. Dan, maaf bikin khawatir.”
Nathan menghela nafas lega mendengarnya. Senyumnya mengembang. Tidak ada isak tangis lagi di kalimat yang keluar dari mulut gadisnya ini.
“Let it flow ya, Kay. Let it be. Kamu tau kan, jodoh nggak akan kemana. Aku bakal nemenin kamu buat lawan sakitnya. Aku bakal sembuhin luka kamu. Kamu punya aku buat tempat kamu berkeluh kesah, Kay. Baby, you're amazing, and i love you so crazy, Kayla.”
Nathan selalu datang di waktu yang tepat. Nathan berhasil. Nathan membantu Kayla untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai ekspektasi kita. Tidak ada yang perlu kamu sesali terlalu lama, tidak ada yang perlu kamu benci selamanya, hidup itu berjalan. Let it flow, biar hati kamu belajar bagaimana caranya menerima.
“Nat, kok kaki kamu kayaknya agak bengkak? Sakit?”
Kayla memperhatikan Nathan ketika beranjak bangun dari duduknya. Laki-laki itu sedikit meringis dan Kayla bisa lihat kaki Nathan sedikit lebih besar dari biasanya.
“Iya, di gigit semut merah gitu, Kay. Bengkak deh, gede banget lagi. Udah, ayo pulang.”
Kayla mengangguk percaya, lalu meraih lengan Nathan untuk berjalan bersama dengannya menikmati langit malam Jakarta.
Tuhan, terima kasih sudah menghadirkan Nathan untuk Kayla. Terima kasih sudah memberi kesempatan Kayla untuk merasakan bagaimana rupa malaikat secara nyata di dunia ini.
Walau Kayla tidak tahu bahwa waktu mereka tidak akan lama lagi, tapi tolong berikan mereka kesempatan untuk bahagia bersama.
-hhaolimau_