352. she's broken

Kayla mengemudikan mobil mba Vera dengan kecepatan sedang. Air matanya tidak berhenti mengalir bahkan sejak dia meminta izin mba Vera untuk memakai mobilnya.

Kayla tidak pernah menyangka ia akan merasakan patah hati separah ini. Kayla tidak pernah sekalipun menyangka kalau dirinya akan menjadi salah satu dari sekian banyak perempuan yang menangis pilu di balik stir mobil.

Pandangannya sedikit kabur, air matanya bahkan sudah enggan turun dan hanya berkumpul di pelupuk kedua matanya. Kayla kecewa setengah mati. Hatinya terluka.


“Kay, minum dulu, tenggorokan kamu pasti kering kebanyakan nangis.”

Itu suara Mentari. Kayla sampai dengan selamat di apartemen sahabat kecilnya yang bernuansa abu ini. Pelukan hangat dari Mentari ketika Kayla membuka pintu tadi meruntuhkan semua emosinya. Kayla menangis sejadi-jadinya di pelukan Mentari, yang juga menangis.

Rain, hari ini kamu melukai dua hati perempuan sekaligus.

Tangannya mengambil pelan gelas berisi air putih itu untuk segera dia tenggak. Jejak air matanya masih terlihat jelas di kedua pipinya. Kayla tidak berniat membersihkan wajahnya. Untuk apa? Toh dia masih akan menangis kembali?

Tidak berbeda jauh dengan Kayla, pipi Mentari pun sama basahnya. Mentari tidak bisa membayangkan sehancur apa hati Kayla ketika diberi tahu bahwa Rain-nya akan memiliki anak dengan perempuan lain. Dengan dirinya, Mentari.

“Aku, nggak tau harus apa, Kay. A-Aku bingung dan takut. A-ak, aku nggak mau liat kamu sesakit ini. Ma-maaf Kay, maafin aku. Demi Tuhan, Kayla, aku minta maaf sama kamu.”

Lagi. Air mata yang Mentari coba tahan untuk sekedar menyampaikan perasaannya kepada Kayla kembali mengalir di pipi lembutnya.

Melihat itu, Kayla mengambil beberapa tisu untuk menghapus air mata perempuan cantik di hadapannya. Lalu tangannya menggenggam erat tangan Mentari.

Mengambil nafas dalam lalu Kayla berusaha mengatur emosinya. Jika saat ini ia menangis lagi bersamaan dengan Mentari yang masih menangis, maka tidak akan ada masalah yang selesai. Kayla harus berfikir memakai otak jernihnya dan keegoisan dirinya yang mementingkan orang lain. Dirinya mulai mencoba membangkitkan senyum di wajahnya. Tentunya untuk terlihat baik-baik saja.

“Kamu, mau bayi ini, kan, Ta?”

Tapi untuk suara, Kayla tidak bisa berbohong. Pertanyaan pertama yang ia utarakan terdengar bergetar. Kayla kesakitan.

“Iya. Aku tau ini kesalahan aku sama Rain. Tapi aku nggak pernah sedikitpun berpikir untuk menghilangkan anak ini, Kay. Begitu juga Rain. Dia bilang, dia mau tanggung jawab. Dia mau bawa aku ke bunda ayahnya dan ketemu mama papaku, Kay.”

“Kayla, i'm so sorry. Mungkin kata maaf aja nggak cukup buat gambarin gimana menyesalnya aku liat kamu kayak gini. Aku tau kamu kesakitan. Begitu juga aku, Kay. Aku sakit hati dan nyalahin diri aku sendiri karena bisa-bisanya aku ngancurin hati kamu. I know you love him so much, but also i am.”

“Aku dan Rain memang nggak bilang menyesal melakukan hal itu, tapi kamu tau, Kay? Bahkan sampai tadi malem, Rain tetep menghawatirkan kamu.”

Tangan Kayla kembali bergetar. Dadanya mulai sesak karena menahan emosi yang membuncah. Air matanya tidak bisa lagi Kayla cegah untuk turun. Ya Tuhan, kenapa serumit ini, Rain?

“Dengerin aku baik-baik ya, Kay. Maybe now he will be mine, but actually i'm already know and i know u know too, he never loves me. He just loves you. From the first. Bahkan before he meets me in London 5 months ago. His choice is always you. Aku yang jahat di sini, Kay. Aku yang tetep maju disaat aku tau dia cuma liat kamu. Dunianya cuma ada di mata kamu.

But now with baby in my tummy, i can't let him go to you, again. Aku dan anak aku need Rain more than you now, Kay.”

Tangan Mentari mulai bergetar. Hatinya perih mengatakan fakta itu. Fakta bahwa bagaimanapun ia harus bersama Rain yang masih mencintai Kayla, karena laki-laki itu adalah ayah dari bayi di kandungannya saat ini.

Kayla mendengarkan semua perkataan Mentari dan tidak berniat sedikitpun untuk mengelak. Omongan Mentari benar. Mau bagaimanapun anak itu butuh ayah. Mentari dan anak itu butuh Rain melebihi dirinya.

Hatinya tercabik, jelas. Kayla sangat bisa merasakan bahwa dirinya terluka. Karena Rain, dan Mentari.

Ketika tangisan keduanya mulai mereda dengan sendirinya, Kayla mengumpulkan tangan Mentari jadi satu dan tersenyum manis dengan mata sembabnya.

“Aku tau itu, Ta. Aku nggak akan melarang Rain dan kamu untuk bersatu. Ada ataupun nggak adanya bayi itu, kamu bisa mendapatkan hati Rain kok, Ta. Rain bakal buka hatinya buat kamu, aku yakin.

Lagipula ada Nathan yang harus aku jaga, Ta. Kayak yang kamu bilang, we're so grateful to having each other. Aku percaya kok, seiring berjalannya waktu aku pasti bisa lupain rasa aku buat Rain. Kamu jangan khawatir ya.

Dan please, Mentari, berhenti merasa bersalah ya. Besok hari pertama kamu jadi bumil dimulai, hehe. Kamu harus tetep sehat dan kuat. Biar bayinya bisa sehat dan selamat sampai ketemu semua aunty dan unclenya di sini. Nanti aku sering mampir ke sini buat bawain vitamin, okey?” Kayla mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum manis, lalu diikuti tubuhnya yang bangkit dari duduknya.

Mentari ikut berdiri, memeluk hangat teman perempuan keduanya setelah Qila. Teman yang seharusnya Mentari jaga baik-baik hatinya sejak dulu.

Kayla sudah banyak menyimpan luka sendirian, begitu juga Mentari yang diam-diam terluka hatinya. Semuanya disebabkan oleh satu nama laki-laki yang dengan tidak sopannya mengisi relung hati mereka berdua, Rain.

Kayla berpamitan pulang sebelum Rain datang ke sini. Ia harus menghindari laki-laki itu untuk beberapa hari kedepan.

Baru satu langkah kaki Kayla keluar pintu apart, Mentari mengajukan satu pertanyaan untuknya, “Kay, if someday he back to you, or he tell you he needs you so damn, please don't reject it, ya?”

Kayla tersenyum manis dengan anggukan kecil setelahnya, lalu kakinya mulai melangkah meninggalkan tempat yang mungkin tidak akan ia kunjungi untuk waktu yang belum ditentukan.

-hhaolimau_