320. confess(?)

Rain di sini. Di depan pagar rumah yang biasanya menjadi tempat kedua dia untuk pulang. Pagar rumah yang sudah 19 tahun menjadi saksi pertengkaran kecil dan tawa dua orang yang sekarang mulai sama-sama mengambil jarak mundur. Pagar rumah yang menjadi saksi Kayla dipeluk lelaki lain selain papanya dan dirinya, Rain.

Mengambil nafas dalam lalu meyakinkan diri untuk masuk ke dalam menuju halaman belakang rumah ini.

Pikirannya mendadak berjalan mundur ketika melewati ruang tamu, ruang makan, bahkan ruangan dengan pintu putih berstiker Pooh yang tertutup rapat.

Rumah ini, menjadi saksi pertumbuhan dirinya dan Kayla. Rumah ini yang tanpa sadar terisi penuh dengan kenangan mereka. Rain bersumpah di dalam hatinya, ia rindu.


Hal pertama yang menyapa dirinya ketika membuka pintu halaman belakang adalah speaker yang memutar lagu favorit Kayla, free love.

Pandangan Rain mengedar. Semua temannya dan Kayla ada di sini. Semua orang bersorak heboh melihat Ale dan pacarnya, Ryu, sedang battle dance di salah satu box floor di tengah party ini. Sampai pandangannya menemukan hal yang ia tuju malam ini, gadis cantik yang hari ini lebih dulu menginjak umur 23 dibandingkan dirinya.

Rain berhenti di salah satu sisi meja dan mengambil minuman untuk menghilangkan rasa kering mendadak di tenggorokannya.

Gadis cantik itu saat ini sedang tertawa dan berdansa absurd dengan teman-temannya dan tentu saja, Nathan.

Is it funny, right? Tahun lalu Rain yang ada di sana, Rain yang membuat wajah Kayla kotor penuh dengan krim kue tart. Rain yang membuat Kayla tertawa lepas. But look at now, kali ini Rain hanya bisa memandang dari jauh gadis yang sedang merapalkan do'a sebelum meniup lilin di atas kuenya.

Dengan gerakan reflek yang selalu dia lakukan setiap tahunnya di hari ulang tahun Kayla, Rain bergerak membuat permohonan bersamaan dengan Kayla di sana. Rain menyelesaikan permohonannya ketika sorak tawa dari semua orang mulai terdengar lagi, tandanya Kayla sudah meniup lilin. And it's time for party.

Nathan sudah melihat Rain dari awal lelaki itu masuk ke pekarangan rumah ini. Jadi setelah dia memastikan Kayla sudah bertemu semua tamu yang di undang, tangannya mendorong kecil pinggang Kayla, agar berjalan ke arah Rain. Lalu meninggalkan mereka berdua ketika Kayla sudah bisa menangkap maksud dari dorongan Nathan di pinggangnya.

Kayla berjalan mendekat, begitu juga Rain.

Tatap mereka bertemu. After 3 weeks, and they know for sure why their hearts suddenly feel hot. Yes, they miss each other and found it hard to hide it before.

Rain lebih dulu tersenyum, “Apa kabar, Kay?

Kayla menahan nafasnya dengan reflek, oh god, his smile, dan dengan senyum yang tersungging di bibir merahnya dia menjawab, “Good. Lo gimana? I guess u're not here tonight.”

“I'm good. Iya tadinya ngga mau dateng, takut lo canggung. But I think i should to be here tonight.”

Kayla mengambil segelas minuman di meja, “And let her alone?”

her. Rain tahu maksudnya, Mentari.

“Yes. Ada hal penting yang harus gue sampein ke lo.”

“Lebih penting dari dia?”

Mendengar jawaban Kayla, fokus Rain benar-benar mulai terkumpul pada perempuan ini. Mengabaikan beberapa orang yang memandang mereka berdua penasaran di belakang Kayla. Termasuk his bf, Nathan.

Malam ini Rain ingin egois. Malam ini Rain ingin mengatakan semuanya tanpa bayang-bayang Nathan atau Mentari di benaknya.

Rain mengangguk sebelum menjawab pertanyaan Kayla, “It's always you. Dari awal juga cuma lo yang bisa ambil ngerangkap semua hal penting di dunia ini.”

Kayla terdiam. Berdiri bersandar di samping Rain. Menyenderkan punggungnya yang tertutup cardigan coklat, membuat Rain tersenyum. Cardigan coklat yang sedang dipakai Kayla ini, miliknya. Milik Rain.

“Listen to me, ya, Kay. Gue mau ngomong panjang dan jangan lo potong dulu. Please, ini mungkin bakal agak aneh tapi lo jangan ketawa.”

Rain baru selesai berbicara tapi Kayla sudah mulai menahan tawanya. Ah gadis ini, tolong bantu Rain biar rasa gugup di dadanya nggak menghabiskan waktu banyak.

“Biasa aja dong muka lo, iya iya nih gue berhenti ketawa. Sok, go on, gue dengerin.”, Kayla memalingkan wajahnya dari Rain. Pandangannya mengedar memperhatikan pesta di depannya.

“Gue tau lo denger gosip dari Amel.”

Kayla yang tadinya tersenyum melihat Ale dan Ryu yang sedang bertengkar kecil, mendadak mengulum senyumnya. Dadanya mulai bergemuruh resah. Telinganya memerah dan memulai fokusnya hanya pada suara di sampingnya.

Gugup. Kayla hanya bisa menyiapkan hatinya untuk mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Rain. Antara berharap atau berusaha tidak peduli.

“Malem itu, gue nggak tidur sama Mentari di Mars. Mentari emang mabu di Mars, tapi abis itu gue anter ke apart. Gue balik ke rumah dan liat lo ciuman sama Nathan.”

Rain menjeda kalimatnya untuk melihat ekspresi wajah Kayla. Dan sesuai dugaannya, Kayla mengerutkan dahinya, bingung.

“Iya, itu yang gue liat malem itu. Gue baru tau belakangan ini kalau ternyata Nathan nyium pipi lo. Gue juga baru tau kalau malem itu lo nangis, lo takut, karena gue..

Lo takut gue ngelakuin yang Amel bilang. Tapi malem itu gue nggak tau lo kenapa, Kay. Yang gue tau cuma lo ciuman sama Nathan. Dan lo tau anehnya apa? Gue marah.”

Kayla tidak berani sedetikpun memandang wajah Raih. Hatinya tiba-tiba merasa ngilu. Otaknya berusaha mencerna semua omongan Rain saat ini. Rain marah karena ngira gue ciuman sama Nathan?

Tidak hanya Kayla, Rain juga merasakan hal yang sama. Tiba-tiba dia merasa takut, lagi. Dia takut Kayla benar-benar meninggalkannya. Dia takut Kayla marah besar saat tahu kesalahan yang sudah dia lakukan.

“Kata orang, kata Mentari, itu artinya gue cemburu. Tapi rasa cemburu gue malem itu, bener-bener nggak bisa gue kontrol, Kay. Rasanya beneran sakit. Gue balik ke apart dan minum sama Mentari..

Dan dengan keadaan setengah sadar, keadaan gue sama Mentari yang malem itu sama-sama hancur, we had a sex.”

Emosi Kayla yang sedari tadi mati-matian dia tahan akhirnya berantakan. Air matanya turun deras. Kepalan tangan yang sengaja ia masukkan ke dalam saku dressnya menguat. Pandangannya tidak lagi ke arah teman-temannya, pandangannya jatuh ke kakinya. Kayla tidak ingin air matanya dilihat Rain.

Nathan. Nama itu yang pertama kali muncul di otaknya ketika sadar air matanya tidak berhenti keluar. Kayla berniat untuk mencari Nathan dan meninggalkan Rain di sini.

Tapi bahkan sebelum kepalanya terangkat untuk mencari keberadaan pacarnya, lelaki di sebelahnya sudah menariknya ke dalam satu pelukkan erat.

“I'm sorry. I'm sorry. Sorry. Please don't cry like this, please Kayla.”

Gagal. Kayla semakin mengeluarkan air matanya deras.

Ya Tuhan, hatinya sakit. Sakit sekali. Walau belakangan ini pikiran negatifnya sudah menebak hal ini, tapi mendengar pengakuan langsung dari Rain sangat menggores hatinya. Sahabat yang ia percaya, lelaki yang selama ini diam-diam ia harapkan untuk bisa ia ganti nama kontaknya dengan sebutan 'mine' malah melukai dirinya.

“Pukul gue, Kay. Tampar gue. I beg you. Please, jangan kayak gini, jangan hancur kayak gue. Lo punya Nathan.”

Kalimat terakhir dari Rain sukses membuat Kayla melepas paksa pelukannya dan memukul lengan Rain keras. Sangat keras sampai Rain mengaduh.

“Air mata gue udah sebanjir ini dan lo masih bisa-bisanya mention gue punya Nathan?!”

Kayla tahu sahabatnya ini memang minim rasa peka, tapi dia tidak pernah berpikir kalau Rain sebodoh ini.

“Lo mikir nggak sih anjir? Lo pikir kenapa gue sampe nangis segininya? Lo pikir kenapa malem itu Nathan sampe harus nenangin gue, Rein!?”

Rain terdiam. Tangan kanannya masih memegang pinggang gadis di depannya dengan posesif.

“Demi Tuhan Rain Ragastama lo nggak tau juga!?” Suara Kayla mulai sedikit meninggi. Emosinya sudah di ujung kepala. Tapi dengan santainya laki-laki di depannya malah menariknya kembali dalam pelukan baru.

Lalu berbisik tepat di telinga Kayla, “Tau. Cuma nggak boleh lo duluan yang ngomong. Harus gue. Gue suka sama lo, Kay. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai seorang perempuan.”

Dunia di sekitarnya mendadak seperti hening. Aneh tapi perut Kayla tiba-tiba menghangat. Rasanya asing. Dadanya masih bergemuruh tapi kali ini seperti sedang di serbu ribuan kupu-kupu.

Tangannya bergerak sendiri memeluk balik tubuh Rain di dekapannya. Euphoria yang baru dia dapat di umur ke 23 nya, dia dapat dari Rain. Kayla memejamkan matanya rasa marahnya seakan meluap terbang tiba-tiba.

Untuk kali ini, biarkan Kayla menyampingkan Mentari. Biarkan Kayla melakukan apa yang Nathan minta tanpa mencoba mencari tahu apakah Nathan melihatnya saat ini atau tidak. Biarkan Kayla lupa kalau saat ini dirinya merupakan pacar orang. Biarkan Kayla menuruti kemauan hatinya untuk kali ini.

“I miss you, Kay. I miss you like crazy.”

And also Rain. Laki-laki itu memejamkan matanya. Menghirup dalam-dalam wangi rambut yang belakangan ini sangat ia rindukan. Tangannya mengelus lembut pinggang dan rambut Kayla. Rasa egoisnya sedang berada di puncak. Rain membuang pikirannya tentang apa yang sedang dilakukan Mentari atau apa yang dilakukan Nathan saat melihat dia memeluk Kayla seperti ini.

Rain ingin jujur dengan hatinya selama ini. Rain sedang tidak peduli dengan takdir seperti apa yang akan dia hadapi kedepannya. Entah dengan Mentari, Nathan, ataupun Kayla.

Malam ini, yang Rain dan Kayla pedulikan hanya satu, rasa rindu yang akhirnya terbayar. Rasa sayang yang selama ini tertahan mulai tersampaikan.


“Nat, langsung ke rumah sakit aja ya?”

Nathan menganggukkan kepalanya lemas. Tangannya menggigil kedinginan. Sakitnya kambuh dan dia tidak punya alasan untuk menolak ke rumah sakit.

“Bokap nyokap lo udah nyiapin UGD di sana.”

Raga memasukkan handphone ke sakunya dengan kasar. Membenarkan posisi kepala Nathan di pangkuannya.

Lalu Raga melihat Ale keluar dari rumah Kayla dengan terburu-buru. Masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil dengan cepat, “Gue udah pamit sama mama Karin. Kayla masih sama Rain.”

Nathan tersenyum, “Nggakpapa, Kayla aman sama Rain.”

-hhaolimau_